
Pantau - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menilai ragi tempe adaptif yang dikembangkan tim periset Universitas Indonesia (UI) tidak hanya menjadi solusi menghadapi dampak perubahan iklim, tetapi juga bentuk penerapan sains untuk menjawab kegelisahan perajin tempe.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Yudi Darma mengatakan inovasi tersebut memanfaatkan kekayaan kapang Rhizopus asli Indonesia.
“Riset ragi yang memanfaatkan kekayaan kapang Rhizopus asli Indonesia ini hadir bukan sekadar sebagai terobosan biologis, melainkan sebagai bentuk empati sains terhadap kegelisahan para perajin,” ujar Yudi di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan terkait diskusi publik “Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan” yang digelar di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Ragi Adaptif Dikembangkan untuk Hadapi Perubahan Iklim
Tim periset UI melalui Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP mengembangkan inovasi ragi tempe menggunakan kombinasi beberapa spesies Rhizopus.
Riset tersebut menggunakan pendekatan living lab dengan melakukan pengujian dalam kondisi nyata sekaligus memanfaatkan umpan balik dari pengguna.
Pengembangan ragi turut mempertimbangkan pengaruh suhu dan kelembapan terhadap proses fermentasi tempe sehingga diperlukan jenis ragi yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI Wellyzar Sjamsuridzal mengatakan pengembangan ragi juga menjadi bagian dari upaya memahami dan menjaga biodiversitas mikroba Indonesia.
“Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Tempe Dinilai Punya Nilai Pangan dan Budaya
Yudi mengatakan tempe memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan tidak sekadar berfungsi sebagai sumber pangan.
“Tempe bukanlah sekadar panganan pengganjal lapar. Ia adalah mahakarya Nusantara yang mewakili keluhuran budi dan kelangsungan hidup antargenerasi. Jejak sejarahnya tertanam kuat, salah satunya dalam Serat Centhini (1815), yang mana tempe dihidangkan sebagai lambang keramahtamahan, keharmonisan, dan kecukupan gizi masyarakat Jawa,” ujarnya.
Menurut Yudi, tempe pernah dipandang sebagai makanan kelas bawah pada era kolonial sebelum penelitian mengenai fermentasi tempe turut mendorong pengakuan terhadap nilai pangan tersebut.
Diskusi pengembangan Ragi Nusantara mempertemukan unsur akademisi, industri, pemerintah, dan pakar pangan untuk membahas pemanfaatan inovasi ragi dalam memperkuat ketahanan pangan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadikan tempe sebagai contoh pemanfaatan biodiversitas, sains, teknologi, dan industri untuk menghasilkan inovasi pangan bernilai tambah serta berpotensi memasuki pasar global.
- Penulis :
- Aditya Yohan




