
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menegaskan pentingnya pembentukan disiplin bagi pelajar saat membuka Lomba Kreasi Baris Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) Tingkat Nasional 2026 di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat malam (4/9/2026).
Pembukaan kompetisi tingkat SMA dan sederajat tersebut ditandai dengan pemukulan gong oleh Bambang Wuryanto bersama sejumlah pejabat Sekretariat Jenderal MPR RI dan perwakilan Purna Paskibraka Indonesia (PPI).
LKBB-PB tingkat nasional 2026 diikuti 30 sekolah yang sebelumnya menjadi juara pertama dalam kompetisi tingkat provinsi.
Para peserta kemudian bertanding di Jakarta untuk menunjukkan kemampuan baris berbaris dan pengibaran bendera sekaligus membawa semangat daerah masing-masing.
Bambang Patjul Tekankan Tiga Disiplin
Bambang Wuryanto yang akrab disapa Bambang Patjul mengatakan pembentukan disiplin merupakan hal utama dalam kegiatan kreasi baris berbaris dan pengibaran bendera.
“Jika tidak memiliki disiplin maka di masa depan adik-adik akan ‘tewas’ (gagal),” ujarnya.
Menurut Bambang, sedikitnya terdapat tiga bentuk disiplin yang harus dimiliki peserta LKBB-PB, yakni disiplin waktu, disiplin komunikasi, dan disiplin bertindak.
“Ketepatan waktu ini penting untuk koordinasi di antara sesama anggota satu tim. Dengan disiplin waktu maka akan ada koordinasi kapan untuk berlatih, dan lainnya,” jelasnya.
Bambang menyebut komunikasi juga menjadi unsur penting untuk menjaga koordinasi antara anggota tim, pendamping, dan pelatih.
“Setiap peserta dan para pendamping harus selalu berkomunikasi. Tanpa komunikasi di antara sesama anggota tim dan pendamping serta pelatih maka tidak akan jalan,” terangnya.
Disiplin ketiga yang ditekankan Bambang adalah konsistensi dalam bertindak dan menjalankan tanggung jawab.
“Jika saatnya harus bertindak maka harus tetap dilaksanakan atau dikerjakan. Tidak lalai dalam bertindak, melainkan tetap disiplin dalam bertindak,” ujarnya.
Menurutnya, penerapan tiga bentuk disiplin tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan antara seseorang dengan orang lain, termasuk antara komandan dan anggota regu.
“Adik-adik akan dipercaya. Ketika sudah tumbuh kepercayaan atau trust maka semua bisa berjalan dengan lancar,” katanya.
Bambang juga mengaitkan kedisiplinan dalam pengibaran bendera dengan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Jadi inti baris berbaris adalah disiplin. Sedangkan disiplin dalam pengibaran bendera, sikap sempurna dan menghormati bendera Merah Putih merupakan wujud kecintaan kita kepada negara dan bangsa ini. Kecintaan pada bangsa dan negara diwujudkan dalam baris berbaris dan pengibaran bendera ini,” sambungnya.
Peserta LKBB-PB Meningkat Menjadi 30 Provinsi
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah mengatakan LKBB-PB pertama kali digelar pada 2025 dengan peserta dari tujuh provinsi dan meningkat menjadi 30 provinsi pada 2026.
“Pada tahun depan, 2027, LKBB-PB ini akan diikuti seluruh provnsi atau 38 provinsi di Indonesia,” ujarnya.
Siti menjelaskan penyelenggaraan LKBB-PB tidak hanya bertujuan mencari pemenang, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarpelajar dari berbagai daerah.
“LKBB-PB ini untuk menjalin silaturahmi dan keakraban di antara para siswa peserta LKBB-PB dari setiap provinsi. Pertemuan dalam LKBB-PB ini agar bisa dimanfaatkan untuk menjalin silaturahmi dan keakraban,” ujarnya.
Ia berharap peserta memperoleh pengalaman, pembelajaran, dan pembentukan karakter yang dapat dibawa kembali ke daerah masing-masing.
“Ketika kembali ke daerah masing-masing, peserta membawa pengalaman, pembelajaran, sekaligus pembentukan karakter serta jalinan silaturahmi di antara para siswa,” katanya.
Ketua Dewan Penasihat PPI DKI Jakarta Bambang Tejo Baskoro mengatakan rangkaian kompetisi tingkat provinsi telah dilaksanakan di 30 provinsi sejak April hingga Juli 2026, dimulai dari Nusa Tenggara Timur dan berakhir di Aceh.
“Pemenang di tingkat provinsi maju ke LKBB-PB tingkat nasionall. Lomba ini menjadi kebanggaan bagi adik-adik semua sehingga bisa berprestasi di tingkat nasional di samping menjalin ikatan silaurahim dalam kerangka NKRI,” ujarnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan




