HOME  ⁄  Nasional

Kemendikdasmen Ungkap Hanya Empat Persen Kecamatan Punya Sekolah Berkualitas, SNT Disiapkan Atasi Kesenjangan

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Kemendikdasmen Ungkap Hanya Empat Persen Kecamatan Punya Sekolah Berkualitas, SNT Disiapkan Atasi Kesenjangan
Foto: Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas dan PNFI) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto (sumber: ANTARA/Livia Kristianti)

Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) menjadi salah satu upaya Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan setiap wilayah di Indonesia memiliki sekolah dengan kriteria dan standar yang baik.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas dan PNFI) Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan SNT antara lain dirancang untuk mengatasi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah.

Berdasarkan identifikasi Kemendikdasmen, hanya terdapat 263 sekolah dengan kriteria dan standar baik yang tersebar di 7.228 kecamatan di Indonesia.

Kondisi tersebut menunjukkan hanya sekitar empat persen kecamatan di Indonesia yang memiliki SMP dan SMA dengan kualitas yang dinilai baik.

"Sekolah Nasional Terintegrasi lahir salah satunya untuk menjawab kesenjangan mutu pendidikan. Sekolah yang memiliki kriteria di 7.228 kecamatan itu hanya ada 263. Jadi artinya hanya empat persen kecamatan di seluruh Indonesia itu memiliki SMP dan dan SMA yang berkualitas baik. Jadi program Bapak Presiden memastikan bahwa setiap anak yang lahir di Indonesia, ya, mereka akan lahir di tempat yang ada sekolah yang berkriteria baik," ungkap Gogot.

Pernyataan tersebut disampaikan Gogot dalam tayangan siniar Sekolah Nasional Terintegrasi, Pusat Mutu Pendidikan Untuk Semua di Jakarta pada Senin.

Kemendikdasmen Tetapkan Dua Kriteria Sekolah Berkualitas

Kemendikdasmen menggunakan dua aspek utama untuk mengidentifikasi sekolah yang memiliki kriteria dan standar baik.

Aspek pertama adalah sekolah tersebut memiliki akreditasi A.

Aspek kedua adalah sebanyak 90 persen murid di sekolah tersebut mampu mencapai skor literasi dan numerasi di atas rata-rata nasional.

Terbatasnya persebaran sekolah berkualitas membuat belum semua anak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan dengan kriteria dan standar yang baik di wilayah tempat tinggalnya.

Sebagian anak bahkan harus meninggalkan daerah tempat tinggalnya apabila ingin memperoleh akses terhadap sekolah dengan kualitas yang lebih baik.

Karena itu, Presiden Prabowo memberikan arahan kepada Kemendikdasmen untuk memastikan anak-anak di setiap wilayah memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di satuan pendidikan terbaik.

Melalui kebijakan tersebut, anak-anak diharapkan tidak perlu berpindah provinsi maupun pulau hanya untuk memperoleh pendidikan dengan standar yang baik.

Kehadiran SNT juga diarahkan agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang di sekolah dengan kriteria dan standar yang baik di daerah masing-masing.

SNT Gabungkan Kurikulum Nasional dan Kearifan Lokal

SNT tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memastikan siswa tetap membawa dan mempertahankan kearifan lokal dari daerah masing-masing.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pengembangan SNT menggabungkan kurikulum nasional dengan pendekatan multikultural.

Kurikulum SNT juga memasukkan perspektif global serta menerapkan pembelajaran kontekstual.

Pendekatan tersebut diharapkan memungkinkan anak-anak memperoleh ilmu dan pendidikan berkualitas tinggi tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat mereka lahir dan tumbuh.

Gogot menyoroti kondisi selama ini ketika anak-anak berprestasi dari wilayah terpencil atau daerah terluar kerap dibawa ke pusat-pusat kota untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bogor menjadi beberapa kota yang disebut sebagai tujuan pendidikan bagi anak-anak tersebut.

Melalui SNT, Kemendikdasmen ingin anak-anak tetap lahir, tumbuh, dan berkembang di daerahnya sambil memperoleh pendidikan serta ilmu pengetahuan berkualitas.

Dengan tetap menjalani pendidikan di daerah asal, kearifan lokal yang dimiliki para siswa diharapkan tetap melekat dan terbawa dalam perkembangan mereka.

"Kami ingin tahu, kan selama ini anak-anak yang bagus di wilayah di daerah yang terpencil atau luar terjauh itu dibawa ke pusat kota, ya, bisa di Jakarta, bisa di Surabaya, bisa di Bandung, Bogor. Nah, kami ingin tahu kalau anak-anak itu lahir, tumbuh, besar dengan ilmu yang luar biasa yang kami siapkan di tempat mereka, nah local wisdom-nya akan terbawa," ungkap Gogot.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026