HOME  ⁄  Nasional

Baznas Perkuat Pengelolaan Muzaki untuk Tingkatkan Kepercayaan dan Penghimpunan Zakat

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Baznas Perkuat Pengelolaan Muzaki untuk Tingkatkan Kepercayaan dan Penghimpunan Zakat
Foto: Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan menyampaikan pentingnya literasi zakat pada Sesi Inspirasi dalam acara Hari Bermuhammadiyah (HBM) 13 yang diselenggarakan di Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Sabtu 5/9/2026 (sumber: Baznas RI)

Pantau - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI terus memperkuat pengelolaan pemberi zakat atau muzaki secara profesional dan berkelanjutan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) secara nasional.

Pimpinan Baznas RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Rizaludin Kurniawan mengatakan pengelolaan muzaki perlu dilakukan dengan menempatkan mereka sebagai mitra strategis dalam ekosistem filantropi Islam.

Menurut Rizaludin, kebutuhan muzaki saat ini tidak sebatas memperoleh kemudahan dalam menunaikan kewajiban zakat, tetapi juga mengetahui manfaat dana yang disalurkan, terlibat dalam berbagai program, serta merasakan dampak nyata dari zakat.

"Karena itu, kita perlu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Hubungan dengan muzaki harus kita bangun secara berkelanjutan, melalui pelayanan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta menunjukkan dampak nyata dari zakat yang mereka tunaikan," kata Rizaludin.

Baznas Dorong Muzaki Beralih ke Lembaga Formal

Rizaludin mengungkapkan hingga saat ini masih banyak masyarakat yang memilih menyalurkan zakat melalui lembaga-lembaga nonformal.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Baznas untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat agar lembaga formal menjadi pilihan utama dalam menyalurkan zakat.

"Ini PR kita. Kita harus mampu melakukan reorientasi dalam pengelolaan muzaki. Bagaimana ke depan supaya Baznas menjadi pilihan bagi para muzaki dan membayar zakat lebih utama melalui lembaga formal seperti Baznas daripada membayar langsung, melalui ustaz, atau masjid ataupun lembaga nonformal lainnya," ungkap Rizaludin.

Rizaludin juga menilai pendekatan value-driven fundraising atau penggalangan dana berbasis nilai perlu diperkuat oleh seluruh Baznas dan lembaga amil zakat (LAZ) di Indonesia.

Penguatan tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan dakwah zakat serta menghadirkan program penyaluran yang menghasilkan manfaat nyata dan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.

Pendekatan itu diharapkan membuat muzaki terus memberikan kepercayaan dan memilih Baznas sebagai lembaga untuk menyalurkan amanah zakat mereka.

Empat Pilar Penggalangan Dana Berbasis Nilai

Rizaludin menjelaskan terdapat empat pilar utama dalam value-driven fundraising yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan zakat dan kepercayaan publik.

"Untuk menjaga keberlanjutan dan kepercayaan publik, terdapat empat pilar utama value-driven fundraising, yakni transparansi dan laporan dampak nyata, pembinaan relasi yang personal dan inklusif, penguatan branding serta reputasi lembaga yang profesional dan taat audit, hingga pelibatan aktif muzaki dalam berbagai program kemanusiaan," kata Rizaludin.

Pilar pertama adalah transparansi dan penyampaian laporan mengenai dampak nyata dari zakat yang telah dihimpun dan disalurkan.

Pilar kedua adalah membangun dan membina hubungan dengan muzaki secara personal serta inklusif.

Pilar ketiga adalah memperkuat citra atau branding dan reputasi Baznas sebagai lembaga yang profesional serta taat terhadap proses audit.

Pilar keempat adalah melibatkan muzaki secara aktif dalam berbagai program kemanusiaan yang dijalankan.

Konsep 5D Perkuat Pengalaman Muzaki

Penerapan empat pilar tersebut perlu diperkuat dengan konsep 5D Baznas, yakni Diingat, Dipercaya, Dijangkau, Dicintai, dan Dibanggakan.

Konsep tersebut diharapkan memberikan pengalaman berzakat yang lebih bermakna bagi muzaki sekaligus memperluas dampak zakat terhadap kesejahteraan masyarakat.

Dalam merancang program, Baznas juga perlu memastikan program tersebut relevan dengan kebutuhan dan aspirasi para muzaki serta mampu memberikan manfaat nyata dan menjangkau masyarakat secara luas.

"Karena program itu harus diingat dan dicintai muzaki, harus terasa dekat dengan muzaki, dan perubahannya terlihat oleh muzaki, dan manfaatnya juga terasa. Maka, kalau membuat program, perspektifnya harus dari muzaki," kata Rizaludin.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026