HOME  ⁄  Nasional

Jurnalis Gaza Tetap Bekerja di Tengah Perang, Kehilangan Keluarga Tak Menghentikan Mereka Merekam Penderitaan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Jurnalis Gaza Tetap Bekerja di Tengah Perang, Kehilangan Keluarga Tak Menghentikan Mereka Merekam Penderitaan
Foto: (Sumber :Kisah jurnalis di Gaza yang tetap bekerja dalam perang dan duka.)

Pantau - Sejumlah jurnalis Palestina di Jalur Gaza tetap menjalankan tugas jurnalistik di tengah perang, pengungsian, kehilangan anggota keluarga, serta keterbatasan bahan bakar, listrik, internet, dan transportasi yang membuat peliputan semakin sulit.

Nisreen Thabet, jurnalis berusia 40 tahun sekaligus ibu dua anak, harus menjalankan tugas jurnalistik sembari menjaga kedua anaknya, Majd dan Ahmed, setelah suaminya tewas dalam konflik.

"Saya tidak dapat memilih antara peran sebagai ibu dan tugas sebagai jurnalis," tutur Thabet sebagaimana diberitakan Xinhua.

"Sering kali, saya harus membawa anak-anak ke lapangan. Di lain waktu, saya menitipkan mereka pada ibu saya dan berjalan jauh menuju tempat kerja di tengah pengeboman dan minimnya transportasi," lanjutnya.

"Saya menjalani beban ganda: takut akan nasib mereka dan takut akan nasib saya sendiri, karena saya tahu mereka tidak punya siapa pun di dunia ini selain saya setelah ayah mereka meninggal," tambahnya.

Suami Tewas, Thabet Tetap Menjadi Jurnalis

Suami Thabet, Haider al-Masdar, yang merupakan penulis dan peneliti bidang politik dan media, tewas pada Juli 2024 dalam serangan udara Israel yang menargetkan tenda tempat para jurnalis berlindung di sebuah rumah sakit di Gaza tengah.

Thabet sempat mempertimbangkan meninggalkan dunia jurnalistik setelah kematian suaminya dan menyaksikan sejumlah rekannya meninggalkan rumah, mengganti nomor telepon, atau mundur dari tugas lapangan.

Namun, Thabet memilih terus bekerja dan menyebut jurnalisme sebagai "garis pertahanan terakhir bagi kebenaran."

Thabet kini tinggal bersama kedua anaknya di sebuah tenda dan harus terus bersiap menghadapi kemungkinan kembali mengungsi dengan menyimpan barang penting di dekatnya serta memantau laporan serangan dan perintah evakuasi.

Di tengah kondisi tersebut, Thabet tetap berupaya menciptakan kehidupan yang normal bagi anak-anaknya dengan mendukung pendidikan serta membicarakan sekolah, rumah, dan masa depan setelah perang berakhir.

Kehilangan 13 Anggota Keluarga Tak Membuat Sultan Berhenti

Jurnalis foto Amer Sultan juga menghadapi kehilangan besar setelah 13 anggota keluarganya, termasuk ibunya, tewas di rumah mereka pada 16 Januari 2025.

Sultan yang bekerja sebagai jurnalis foto sejak 2014 terpisah dari keluarganya setelah meninggalkan kamp pengungsi Jabalia menuju Gaza City pada 7 Oktober 2023 untuk meliput situasi yang semakin memburuk.

"Saya menunggu gencatan senjata, menghitung jam dan hari, tidak hanya karena saya ingin pengeboman berhenti, tetapi karena saya ingin kembali ke utara dan bertemu keluarga saya," kenangnya.

Harapan tersebut pupus ketika Sultan menerima kabar mengenai kematian 13 anggota keluarganya.

"Guncangannya sangat dahsyat," katanya.

"Sepanjang perang, saya memotret para korban dan memikirkan keluarga saya, bertanya kepada diri sendiri: Apakah hal yang sama bisa terjadi pada mereka? Kemudian tibalah hari ketika keluarga saya sendiri menjadi korban," lanjutnya.

Sultan kembali menjalankan tugas jurnalistik sehari setelah menerima kabar tersebut.

"Saya bertekad untuk tidak pernah meletakkan kamera, pena, atau ponsel saya," katanya.

Kelangkaan bahan bakar, kerusakan jalan, dan minimnya transportasi juga membuat Sultan harus berjalan kaki dalam jarak jauh untuk melakukan peliputan, meski dirinya mendapatkan tawaran untuk meninggalkan Gaza.

"Bagi saya, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan," tutur Sultan.

"Ini adalah tanggung jawab terhadap orang-orang yang menjalani perang ini. Saya ingin menyampaikan kisah kehidupan dan penderitaan mereka kepada dunia, bukan sekadar menunjukkan mereka sebagai angka," lanjutnya.

Lebih dari 250 Jurnalis Dilaporkan Tewas

Wakil Ketua Palestinian Journalists Syndicate di Gaza Tahseen al-Astal menyatakan Thabet dan Sultan merupakan bagian dari lebih dari 1.500 jurnalis Palestina yang kehidupannya berubah akibat perang.

"Dengan adanya pembatasan terhadap masuknya jurnalis asing ke Gaza, para jurnalis Palestina mendapati diri mereka berada di garis depan peliputan," kata al-Astal.

"Mereka bekerja di tengah pengeboman, pengungsian, kelangkaan bahan bakar, listrik, dan akses internet, serta kesulitan menjangkau lokasi kejadian dan sumber informasi," lanjutnya.

Menurut al-Astal, lebih dari 250 jurnalis telah tewas selama perang, sedangkan puluhan lainnya terluka dan beberapa di antaranya mengalami luka lebih dari satu kali.

Lebih dari 150 media lokal, Arab, internasional, serta kantor produksi juga dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan selama perang.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026