
Pantau - Yayasan Astra Honda Motor (AHM) mendorong Generasi Z (Gen Z) membangun budaya keselamatan berkendara melalui kampanye safety riding bertajuk "Stay Alive for The Next Chapter" dengan melibatkan kepolisian dan Katadata.
Ketua Yayasan AHM Ahmad Muhibbuddin mengatakan pembentukan budaya keselamatan berkendara membutuhkan keterlibatan banyak pihak serta harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Karena membangun budaya itu bukan sebuah usaha yang gampang, harus melibatkan banyak pihak, dan harus dilakukan secara berkesinambungan, secara berkelanjutan. Program ini menjadi penting bagi kita semua untuk menyadari hal-hal yang membahayakan selama berkendara di jalan,” tutur Ahmad.
Kampanye Digital Jangkau 1,7 Juta Penonton
Yayasan AHM menggunakan pendekatan kreatif melalui media sosial untuk menyampaikan pesan keselamatan berkendara yang relevan dengan karakter Gen Z.
Kampanye tersebut diwujudkan melalui Kompetisi Film Pendek Keselamatan Berkendara atau Safety Riding Short Movie Contest 2026 yang berlangsung sejak Mei hingga Juli 2026.
Kompetisi tersebut menghimpun 340 karya yang terdiri atas 200 film pendek dan 140 karya tantangan media sosial atau Social Media Challenge.
Konten yang disebarkan melalui Instagram, TikTok, dan YouTube tersebut menjangkau lebih dari 1,7 juta penonton.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penganugerahan pemenang, talkshow, serta aktivitas keselamatan berkendara di Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu (9/9).
Pemenang kategori umum asal Depok, Fahri, mengangkat bahaya penggunaan telepon seluler saat berkendara dalam karya yang dibuatnya.
Pemenang kategori mahasiswa asal Universitas Siber Asia, Iqbal Bahi, mengusung karya berjudul "Pulang dengan Selamat" untuk menyampaikan pesan keselamatan menggunakan bahasa yang dekat dengan anak muda.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNJ Hadi Nasbey mengatakan lingkungan kampus memiliki peran dalam membangun kebiasaan berkendara yang aman bagi mahasiswa.
“Kampus perlu membentuk kebiasaan yang berpihak pada keamanan, sehingga aman buat kita dan untuk orang lain juga,” ujar Hadi.
Anak Muda Dominasi Angka Kecelakaan
Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat Subdit Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Sri Indira Purnamawati mengatakan kecelakaan lalu lintas kerap bermula dari perilaku berisiko yang dilakukan berulang kali meski sebenarnya dapat dicegah.
“Misalnya, kita harus pakai helm. Merasa tidak keren menggunakan helm, karena ribet, karena terlalu dekat, merasa tidak akan kecelakaan. Ternyata, kemudian terjadi kecelakaan,” tutur Sri.
Data Korlantas Polri mencatat lebih dari 152 ribu kecelakaan lalu lintas terjadi sepanjang 2024 dengan korban meninggal dunia mencapai lebih dari 27 ribu jiwa.
Jumlah tersebut menunjukkan rata-rata terdapat korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas hampir setiap jam.
Sepeda motor menjadi kendaraan yang paling banyak terlibat dalam kecelakaan dengan jumlah lebih dari 200 ribu unit.
Kelompok usia 6-25 tahun mencatat porsi kecelakaan tertinggi sebesar 39,48 persen, disusul kelompok usia 25-55 tahun sebesar 39,26 persen.
Kepatuhan Aturan Dasar Terus Didorong
Sri menegaskan penggunaan helm, menghindari kecepatan tinggi, serta tidak menggunakan telepon seluler ketika berkendara merupakan aturan dasar yang harus dipatuhi.
Menurut dia, kepatuhan tersebut perlu didukung penegakan hukum dan edukasi secara berkelanjutan agar kesadaran keselamatan berubah menjadi kebiasaan.
Melalui kolaborasi edukasi digital, kepolisian, dan lingkungan akademis, kampanye "Stay Alive for The Next Chapter" diarahkan untuk menjadikan keselamatan berkendara bukan sekadar pengetahuan, melainkan bagian dari gaya hidup generasi muda.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




