
Pantau - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cipayung, Jakarta Timur, berkomitmen menerapkan gerakan pemilahan sampah dari sumber sebagai upaya menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Direktur RSUD Cipayung Agustina mengatakan rumah sakit memiliki peran dalam mendukung pengurangan sampah dan pelestarian lingkungan di Jakarta.
"Rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mendukung gerakan pengurangan sampah dan pelestarian lingkungan di Jakarta," kata Agustina di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Komitmen tersebut sejalan dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
RSUD Cipayung Dorong Pemilahan Jadi Budaya
Penerapan program diawali dengan sosialisasi oleh Komisi Informasi (KI) DKI Jakarta untuk memberikan pemahaman dan arahan mengenai gerakan pemilahan sampah dari sumber.
"Materi yang disampaikan dalam sosialisasi tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menjadi motivasi bagi jajaran RSUD Cipayung untuk semakin aktif menerapkan budaya pemilahan sampah di lingkungan rumah sakit," terang Agustina.
Agustina berharap edukasi pemilahan sampah dilakukan secara berkelanjutan hingga menjadi budaya bagi pegawai maupun masyarakat yang datang ke RSUD Cipayung.
"Kami bersyukur mendapat kesempatan memperoleh arahan langsung dari KI DKI Jakarta. Sosialisasi ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan kerja masing-masing," ujar Agustina.
KI DKI Ingatkan Ancaman Timbunan Sampah
Ketua KI DKI Jakarta Harry Ara Hutabarat mengatakan kesadaran untuk memilah sampah membutuhkan edukasi dan informasi yang mudah diakses masyarakat.
"Masalah sampah bukan masalah pemerintah saja, tetapi masalah kita semua. Apa yang terjadi hari ini merupakan hasil dari kebiasaan yang kita lakukan setiap hari," kata Harry.
Harry mengatakan volume sampah yang terus bertambah membuat pengurangan sampah dari sumber menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Ia mencontohkan sejumlah kebakaran di lokasi pengelolaan sampah yang berkaitan dengan gas metana dari timbunan sampah organik sebagai peringatan terhadap potensi ancaman lingkungan.
"Ini bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu menimbulkan persoalan lebih besar. Karena itu, kita tidak bisa membiarkan kondisi ini berjalan begitu saja," ucap Harry.
Menurut Harry, pemilahan dari sumber merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi beban pengelolaan sampah di bagian hilir, tetapi perubahan perilaku membutuhkan proses yang berkelanjutan.
"Edukasi tidak bisa 'simsalabim'. Hari ini sosialisasi, lalu besok semua orang langsung memilah sampah, itu tidak mungkin. Harus ada proses, ada pemahaman, dan ada contoh yang terus-menerus diberikan," pungkas Harry.
"Apabila dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut diyakini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir," imbuh Harry.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




