HOME  ⁄  Nasional

Kemenhut dan FAO Luncurkan MERANTI, Pemantauan Hutan Indonesia Dimodernisasi hingga 2028

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenhut dan FAO Luncurkan MERANTI, Pemantauan Hutan Indonesia Dimodernisasi hingga 2028
Foto: (Sumber :Dari kiri ke kanan: Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal bersama Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan Ade Tri Ajikusumah dan Direktur Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Agus Budi Santosa dalam peluncuran proyek MERANTI di Jakarta pada Kamis (10/9/2026). (ANTARA/HO-FAO).)

Pantau - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) meluncurkan proyek Monitoring and Enhancement of Remote Sensing for National Forest Inventory (MERANTI) untuk memodernisasi sistem pemantauan hutan Indonesia.

Proyek senilai 4,83 juta dolar AS dengan dukungan Pemerintah Norwegia tersebut ditargetkan menghasilkan data hutan yang lebih andal, akurat, dan cepat melalui Inventarisasi Hutan Nasional (IHN) 2.0.

Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kemenhut Ade Tri Ajikusumah menegaskan data kehutanan memiliki peran penting dalam pengambilan kebijakan hingga evaluasi pengelolaan hutan.

“Data kehutanan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, perencanaan pembangunan, pemantauan kondisi sumber daya hutan, evaluasi pengelolaan hutan, serta penyusunan berbagai laporan nasional dan internasional,” kata Ade dalam keterangan bersama FAO di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

MERANTI Jangkau 500 Klaster Hutan

Proyek MERANTI akan berlangsung pada 2026 hingga 2028 dengan pengumpulan data lapangan di sedikitnya 500 klaster IHN di seluruh Indonesia.

Data lapangan tersebut akan dipadukan dengan data satelit untuk menghasilkan analisis kondisi hutan yang lebih komprehensif.

MERANTI juga diharapkan menjangkau wilayah yang sebelumnya sulit dicakup, termasuk kawasan pesisir mangrove dan hutan yang dikelola masyarakat.

IHN digunakan untuk mengumpulkan data lapangan secara rinci mengenai komposisi spesies, biomassa, degradasi hutan, dan kondisi tanah yang tidak dapat diperoleh hanya melalui citra satelit.

Penasihat Bidang Hutan dan Iklim untuk Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia di Jakarta Esben Marcussen mengatakan proyek tersebut turut mendukung transparansi dan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.

“MERANTI mencerminkan komitmen bersama kita terhadap transparansi, pengambilan keputusan berbasis sains, dan aksi iklim yang efektif,” kata Esben.

FAO Perkuat Teknologi dan Kapasitas Pemerintah

FAO akan memberikan dukungan teknis untuk meningkatkan kapasitas pegawai pemerintah dalam pelaksanaan IHN dan analisis data sekaligus memastikan penjaminan serta pengendalian mutu.

Portal web IHN yang baru juga akan diintegrasikan dengan aplikasi web Sistem Monitoring Hutan Nasional (SIMONTANA) milik Indonesia.

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal mengatakan dukungan tersebut mencakup modernisasi teknologi penginderaan jauh hingga transfer pengetahuan.

“Peran kami adalah membantu memperkuat dengan menghadirkan pengalaman, standar, serta pendekatan teknis berskala internasional, mendukung modernisasi penginderaan jauh dan sistem pemantauan nasional, dan melakukan transfer pengetahuan serta pengembangan kapasitas yang akan tetap ada di Indonesia,” ujar Rajendra.

Data hutan yang transparan dan kredibel juga diharapkan memperluas akses Indonesia terhadap pendanaan iklim berbasis kinerja untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan rendah karbon.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026