
Pantau - Jurnalis se-Sulawesi Tenggara menggelar doa bersama di Kendari, Sabtu (12/9/2026) malam, untuk lima pewarta foto yang hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Doa bersama digelar sebagai bentuk solidaritas sekaligus harapan agar kelima jurnalis yang memasuki hari kelima pencarian dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari Nursadah mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bentuk dukungan kepada keluarga para jurnalis yang masih menunggu kabar dari tim pencarian.
"Tentu kami berharap lima kawan kita itu bisa ditemukan dengan selamat dan kalaupun tidak, kita menerima bisa mengetahui titik keberadaannya," ujarnya.
AJI Ingatkan Keselamatan Jurnalis saat Liputan Berisiko
Nursadah mengatakan aksi solidaritas tersebut juga menjadi dorongan bagi tim pencarian untuk terus berjuang menemukan keberadaan lima pewarta yang hilang kontak.
Menurut dia, peristiwa itu sekaligus menjadi refleksi bagi jurnalis di Sulawesi Tenggara agar selalu mematuhi standar operasional prosedur (SOP) sebelum melakukan peliputan berisiko, termasuk di kawasan bencana alam.
Nursadah menyadari profesi jurnalis kerap menuntut peliputan dalam kondisi berbahaya, tetapi keselamatan tidak boleh diabaikan demi mendapatkan informasi untuk publik.
"Ini sesuai jargon kita di wartawan dan jurnalis bahwa tidak ada berita seharga nyawa," ucapnya.
AJI juga mendorong perusahaan media dan organisasi profesi jurnalis menyediakan pelatihan bagi wartawan yang bertugas melakukan peliputan di lokasi bencana.
Pelatihan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesiapan jurnalis menghadapi risiko saat bertugas dan mencegah kejadian serupa terulang.
Pewarta Foto Berhadapan dengan Risiko di Lapangan
Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sulawesi Tenggara Zabur Karuru mengatakan musibah yang menimpa lima jurnalis foto merupakan kejadian yang tidak diinginkan oleh setiap wartawan saat menjalankan tugas.
"Di antara berbagai profesi jurnalistik, ada satu sosok yang bekerja tanpa banyak kata namun bicara lewat setiap bidikan lensanya, yaitu pewarta foto. Ia hadir di garis depan peristiwa, kadang lebih dulu sampai daripada tim liputan lainnya, karena tugasnya menuntut satu hal yang tidak bisa diwakilkan momen yang tepat, yang hanya bisa direkam jika ia berada di sana, pada detik yang tepat pula," ujar Zabur.
Menurut Zabur, pekerjaan pewarta foto memiliki risiko nyata karena mereka kerap berada di tengah kerumunan unjuk rasa, dekat lokasi evakuasi bencana, hingga kawasan gunung berapi aktif untuk merekam peristiwa.
"Kamera yang mereka bawa bukan sekadar alat kerja, melainkan mata bagi publik yang tidak bisa hadir langsung di tempat kejadian," lanjutnya.
Zabur menyebut lima jurnalis yang hilang kontak sebagai pewarta yang ulet dan militan dalam menjalankan tugas di lapangan.
"Hari-hari ini, kita merasakan betul apa yang saya sampaikan tadi. Rekan kita, Bagus, Bang Arbas, Yudis, Donal, dan Daus hilang kontak sejak Senin lalu saat menuju Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan," sebutnya.
Lima Jurnalis Masih Dalam Pencarian
Lima jurnalis foto yang dilaporkan hilang kontak tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunnas dari Antara Foto, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang berstatus jurnalis lepas.
Kelima jurnalis dilaporkan hilang kontak ketika melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda.
"Hari ini kita berkumpul bukan untuk berduka, melainkan untuk berdoa: memohon keselamatan dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat," tutur Zabur.
Ia juga mengajak seluruh jurnalis terus memberikan dukungan moral kepada keluarga serta tim SAR yang masih melakukan pencarian.
"Semoga doa yang kita panjatkan menjadi kekuatan bagi tim SAR yang terus bekerja tanpa lelah, dan menjadi penguat bagi keluarga yang menanti kabar baik. Mari kita satukan hati dan doa, memohon agar rekan-rekan kita ini segera kembali dengan selamat kepada keluarga dan kita semua," tambah Zabur.
- Penulis :
- Gerry Eka
- Editor :
- Tria Dianti




