
Pantau - Anggota MPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Iyeth Bustami mengajak guru dan orang tua memperkuat benteng moral serta karakter generasi muda untuk menghadapi dampak negatif media sosial di tengah perkembangan teknologi digital.
Iyeth menyampaikan hal tersebut dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Kelompok I Badan Sosialisasi MPR RI bersama Komunitas Biru Nusantara (Kobinus) di Hotel Grand Travello, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Junaidi Auly dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Nurwayah dari Fraksi Partai Demokrat.
Sekitar 300 peserta yang didominasi perempuan dan tenaga pendidik dari berbagai latar belakang suku dan daerah mengikuti kegiatan tersebut.
Media Sosial Dinilai Jadi Tantangan Generasi Muda
Iyeth mengatakan Empat Pilar MPR RI yang terdiri atas Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh hanya menjadi hafalan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman etika dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk ketika menghadapi dampak negatif media sosial.
“Negara kita semakin maju dan teknologi kian canggih, namun yang paling saya khawatirkan adalah dampak buruk media sosial terhadap anak-anak kita yang secara mental masih labil,” ujar Iyeth.
Iyeth juga menceritakan pengalamannya menjadi sasaran ujaran kebencian di dunia maya yang menurutnya menunjukkan semakin pudarnya batas kesantunan dalam berkomunikasi di ruang digital.
“Begitu mudahnya sumpah serapah terlontar di media sosial. Saya titip kepada bapak dan ibu guru, tolong ingatkan anak didik kita bahwa saat hendak mengetik komentar di media sosial, bayangkan orang itu berada langsung di depan muka kita. Apakah kita berani bicara sekasar itu? Di depan orang kita selalu menjaga tata krama, tetapi di gawai banyak yang merasa kebal,” tegasnya.
Guru dan Orang Tua Diminta Perkuat Pendidikan Karakter
Legislator dari Daerah Pemilihan Riau I itu turut menyoroti fenomena strawberry generation, penggunaan bahasa pergaulan yang dinilai kerap menormalisasi makian, perubahan gaya berpakaian, serta persoalan ketahanan mental generasi muda.
Iyeth mengingatkan penggunaan gawai memberikan manfaat bagi akses ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat membawa dampak negatif apabila informasi diterima tanpa penyaringan.
“Gawai memang ada manfaatnya untuk ilmu pengetahuan, tetapi mudaratnya juga luar biasa jika diserap tanpa saringan. Di sinilah peran vital bapak dan ibu guru serta orang tua untuk membimbing dan membentengi mereka dengan nilai-nilai agama serta budi pekerti luhur,” imbuhnya.
Ia menilai guru memiliki posisi penting karena berinteraksi secara langsung dengan generasi muda dalam proses pendidikan sehari-hari.
Iyeth berharap tenaga pendidik terus menanamkan dan membumikan nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya menjaga karakter generasi penerus.
“Bapak dan ibu guru adalah pihak yang paling tepat hadir di sini, karena bapak dan ibulah penyambung lidah yang berhadapan langsung dengan generasi penerus kita setiap hari. Mari bersama-sama kita jaga masa depan generasi muda dan rawat keutuhan bangsa dengan nilai-nilai Empat Pilar,” pungkas Iyeth.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




