HOME  ⁄  Nasional

Mendukbangga Ungkap Ketimpangan Fertilitas Antarprovinsi, Papua Pegunungan Tertinggi dan Jakarta Terendah

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mendukbangga Ungkap Ketimpangan Fertilitas Antarprovinsi, Papua Pegunungan Tertinggi dan Jakarta Terendah
Foto: (Sumber :Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji (tengah) dalam rapat bersama DPR di Jakarta, Selasa (15/9/2026). ANTARA/Mecca Yumna.)

Pantau - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji mengungkap adanya ketimpangan angka fertilitas total (TFR) antarprovinsi meski angka nasional berada pada 2,13 sehingga diperlukan sejumlah langkah untuk menjaga keseimbangan struktur penduduk.

Wihaji dalam rapat bersama DPR di Jakarta, Selasa (15/9/2026), mengatakan TFR tertinggi tercatat di Papua Pegunungan sebesar 2,78, Papua 2,74, dan Nusa Tenggara Timur 2,72.

TFR terendah tercatat di Jakarta sebesar 1,79, disusul Jawa Timur 1,95 dan Banten 1,96.

"Artinya sudah menjadi perhatian, karena standar kita ada 2,1 atau 2,0 untuk melihat jumlah penduduk dan luas geografi dan sekalian rumus kependudukan," kata Mendukbangga Wihaji.

Angka fertilitas nasional tercatat turun tajam dari 5,6 pada 1971 menjadi 2,13 pada 2025, tetapi penurunan tersebut tidak berlangsung secara seragam di seluruh wilayah.

Rasio Ketergantungan Papua Selatan Capai 75,40

Wihaji mengatakan rasio ketergantungan penduduk secara nasional berada pada angka 44,30, sedangkan Papua Selatan mencatat rasio tertinggi sebesar 75,40.

"Angka 75,40 berarti di antara 100 yang produktif menanggung 75, kira-kira gitu. Kemudian Papua, kemudian Nusa Tenggara Timur, angkanya 54, sedangkan yang paling produktif itu di DKI Jakarta 40, Kalimantan Timur, kemudian Papua Pegunungan," katanya.

Menurut Wihaji, diperlukan upaya dan kolaborasi untuk memastikan pertumbuhan kuantitas serta peningkatan kualitas penduduk dapat berjalan beriringan.

Pemerintah Perkuat KB dan Cegah Perkawinan Anak

Kemendukbangga mengelola kuantitas penduduk melalui pendewasaan usia perkawinan, pencegahan perkawinan anak, penguatan keluarga berencana (KB) dan kesehatan ibu-anak, edukasi kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja, serta perluasan akses layanan KB.

Pemerintah juga memperkuat kualitas penduduk dan ketahanan keluarga melalui sejumlah program strategis, termasuk Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) untuk mendukung pengasuhan usia dini.

Pemberdayaan kelompok lanjut usia turut diarahkan untuk membangun silver economy, sedangkan percepatan penurunan stunting dilakukan melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026