HOME  ⁄  Nasional

Lestari Moerdijat Dorong Pertumbuhan Batik Hijau Tingkatkan Kesejahteraan Pekerja Perempuan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Lestari Moerdijat Dorong Pertumbuhan Batik Hijau Tingkatkan Kesejahteraan Pekerja Perempuan
Foto: (Sumber :Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyampaikan sambutan dalam diskusi daring bertema “Batik Hijau dan Keadilan Pekerja Perempuan: Menyatukan Agenda Lingkungan, Budaya, dan Kesejahteraan” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (16/9/2026)..)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong pertumbuhan industri batik hijau yang ramah lingkungan diikuti peningkatan kesejahteraan pekerja, terutama perempuan yang menjadi bagian penting dalam proses produksinya.

Lestari menilai pertumbuhan produksi sustainable fashion seperti batik belum sepenuhnya memberikan dampak positif terhadap upah pekerja meskipun kinerja industri tersebut di pasar global terus meningkat.

"Pertumbuhan produksi sustainable fashion seperti batik, belum berdampak positif terhadap upah pekerja yang mayoritas perempuan," kata Lestari dalam diskusi daring bertema “Batik Hijau dan Keadilan Pekerja Perempuan: Menyatukan Agenda Lingkungan, Budaya, dan Kesejahteraan” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (16/9/2026).

Ekspor Batik Tumbuh, Upah Pekerja Jadi Sorotan

Data Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor batik nasional pada 2025 mencapai US$30,62 juta atau tumbuh 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lestari yang akrab disapa Rerie mengatakan tren batik dengan proses ramah lingkungan dan pemanfaatan pewarna alami sejalan dengan tuntutan fesyen berkelanjutan global.

Namun, menurut Rerie, proses produksi tersebut menghadirkan kompleksitas baru karena tahapan yang lebih panjang turut menambah beban pekerja.

Anggota Komisi X DPR RI itu menyebut sejumlah penelitian menunjukkan tambahan beban kerja tersebut belum berkorelasi positif dengan peningkatan upah pekerja.

Rerie menegaskan perlindungan kesejahteraan pekerja bukan hanya persoalan kebijakan ekonomi, tetapi juga amanat konstitusi.

Ia mendorong integrasi antara konservasi lingkungan, pelestarian warisan budaya, dan perlindungan hak dasar pekerja dalam pengembangan industri batik hijau.

"Label ‘hijau’ dan ‘berkelanjutan’ dalam industri batik akan kehilangan makna etis jika di baliknya masih ada tenaga kerja tanpa kompensasi yang setara," pungkas Rerie.

Transformasi Batik Hijau Harus Lindungi Pekerja

Staf Ahli Bidang Sosial Politik dan Kebijakan Publik Kementerian Ketenagakerjaan Agus Triyono mengatakan transformasi menuju batik hijau harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Menurut Agus, status hubungan kerja, unsur pekerjaan, dan upah harus menjadi perhatian dalam proses transformasi tersebut sehingga perlindungan ketenagakerjaan dapat diberikan.

Ia juga mendorong agar harga batik hijau yang relatif tinggi memberikan dampak terhadap penghasilan yang layak bagi pekerja.

Sementara itu, Guru Besar IPB sekaligus Pakar Produksi Bersih dan Agroindustri Berkelanjutan Anas Miftah Fauzi menilai penggunaan bahan ramah lingkungan dapat mengurangi ancaman paparan bahan kimia terhadap pekerja sekaligus meningkatkan nilai produk.

"Harus segera dimasyarakatkan upaya untuk mendukung pemakaian bahan-bahan alami dalam proses produksi batik, dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk produksi pewarna alami," ujarnya.

Anas menegaskan pembangunan ekosistem yang mendukung keberlanjutan transformasi batik hijau membutuhkan dukungan berbagai pihak.

Peningkatan Ekspor Belum Sepenuhnya Dongkrak Upah

Ekonom Senior INDEF Aviliani mengatakan ekspor batik Indonesia sebagai bagian dari ekonomi kreatif terus meningkat, tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menyentuh peningkatan upah pekerja.

Menurut Aviliani, pengembangan produk perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk memberikan informasi mengenai cerita di balik motif dan proses pembuatan batik agar konsumen memahami nilai produk batik hijau.

Ia menilai pekerja sektor batik juga dapat memperoleh manfaat berupa perlindungan sosial, seperti kepesertaan BPJS Kesehatan.

Pemanfaatan bahan alami dalam produksi batik dinilai membuka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus perlindungan pekerja.

Ekosistem Batik Berkelanjutan Perlu Diperkuat

Pendiri NGO Sekar Kawung Chandra Kirana Prijosusilo menyoroti masih tingginya ketergantungan industri tekstil dan batik nasional terhadap bahan baku impor.

Menurut Chandra, kondisi tersebut menjadi tantangan ketika produk tekstil Indonesia akan dipasarkan sebagai produk asli daerah ke pasar internasional.

Ia menyebut nilai ekonomi sustainable textile dunia saat ini mencapai US$100 miliar dan diprediksi meningkat menjadi US$180 miliar pada 2035.

Namun, Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan berupa ketersediaan bahan baku, sumber daya manusia terampil, serta ekosistem produksi berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Chandra mendorong seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan dari hulu hingga hilir agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang pasar tersebut.

Wartawan senior Saur Hutabarat juga menekankan pentingnya penguatan pengetahuan dalam meningkatkan nilai jual produk UMKM, termasuk kemampuan menelusuri proses produksi yang menghormati kelestarian lingkungan.

"Saya berpendapat, untuk mewujudkan sejumlah langkah tersebut, kita harus serius dalam urusan penguatan knowledge dalam peningkatan nilai jual produk UMKM," pungkas Saur.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026