
Pantau - Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kabupaten Batang Hari, Jambi, memperkuat dukungan mobilisasi petugas untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di tengah sulitnya akses menuju sejumlah lokasi dan terbatasnya sumber air untuk pemadaman.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Batang Hari Sholihin mengatakan Satgas Karhutla telah berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mendapatkan dukungan kendaraan operasional.
Kendaraan tersebut dibutuhkan untuk mempercepat pergerakan personel menuju titik karhutla, terutama di wilayah yang sulit dijangkau petugas dan peralatan pemadaman.
Selain persoalan akses, keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran turut menjadi kendala dalam proses pemadaman sehingga kecepatan mobilisasi petugas menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan karhutla.
Satgas Dapat Dukungan Peralatan Pemadaman
Persoalan akses, sumber air, dan mobilisasi petugas menjadi bagian dari perhatian Satgas Karhutla dalam rapat evaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Batang Hari.
Selain kendaraan operasional, Satgas Karhutla membutuhkan berbagai peralatan untuk menunjang pemadaman di lapangan.
Sholihin mengatakan kebutuhan tersebut secara bertahap telah mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jambi.
"Kebutuhan peralatan pemadaman secara bertahap telah mendapat dukungan dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jambi," kata Sholihin.
Sejumlah peralatan yang telah diterima meliputi pompa pemadaman, selang, dan alat pelindung diri (APD) untuk menunjang keselamatan serta efektivitas petugas.
"Ini sangat membantu petugas dalam melakukan pemadaman di lapangan," ungkap Sholihin.
Meski dukungan peralatan telah diterima, kebutuhan kendaraan operasional masih perlu diperkuat untuk mempercepat mobilisasi personel menuju lokasi karhutla dengan akses terbatas.
Lebih dari 678 Hektare Lahan Terbakar
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Batang Hari, luas lahan yang terbakar akibat karhutla sejak Januari hingga 7 September 2026 mencapai lebih dari 678 hektare.
Luas lahan tersebut berasal dari 174 kejadian karhutla yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Batang Hari.
Kecamatan Muara Bulian menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 422,49 hektare.
Sulitnya akses dan terbatasnya sumber air juga pernah menjadi kendala saat petugas menangani karhutla di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Syaifuddin.
Kondisi lokasi kebakaran di kawasan tersebut menyulitkan petugas melakukan pemadaman melalui jalur darat sehingga diperlukan dukungan helikopter untuk melakukan water bombing.
Evaluasi Diharapkan Mempercepat Respons Petugas
Sholihin berharap hasil evaluasi penanganan karhutla dapat meningkatkan kesiapan sekaligus mempercepat respons petugas ketika menerima informasi mengenai munculnya titik kebakaran.
Respons yang lebih cepat diharapkan membuat api segera dikendalikan sebelum kebakaran meluas dan menambah luas lahan yang terdampak.
"Dengan langkah-langkah evaluasi ini, ke depan petugas di lapangan bisa lebih maksimal dalam proses pemadaman api di titik karhutla, sehingga luasan lahan terbakar dapat lebih diminimalisir," kata Sholihin.
- Penulis :
- Shila Glorya




