
Pantau - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperluas dampak pengelolaan zakat bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung upaya pengentasan kemiskinan.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid mengatakan potensi zakat nasional yang mencapai Rp327 triliun perlu diikuti penguatan realisasi penghimpunan dan penyaluran agar manfaatnya semakin luas.
"Jangan hanya terus kita bermimpi potensi, potensi, potensi, tapi kita kurang realisasi, sehingga yang harus kita terus tingkatkan adalah profesionalisme kita agar potensi ini jadi realisasi," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (24/9).
Sodik mengatakan profesionalisme pengelolaan menjadi salah satu faktor penting untuk mengubah besarnya potensi zakat menjadi penghimpunan dan penyaluran yang memberikan manfaat nyata.
Baznas Usung Tiga Arah Strategis
Sodik memaparkan Baznas RI mengusung tiga arah strategis untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) secara nasional.
Strategi tersebut meliputi perluasan basis muzaki melalui Expand, penguatan transparansi dan profesionalitas lembaga melalui Trust, serta pembangunan sinergi berkelanjutan melalui Collaborate.
Menurut Sodik, kolaborasi perlu dibangun dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah, lembaga amil zakat (LAZ), dunia usaha, hingga kalangan akademisi.
Sinergi lintas sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas program sekaligus memastikan penyaluran dana zakat memberikan dampak yang lebih luas bagi pengentasan kemiskinan.
Pengelolaan Zakat Didorong Berdayakan Mustahik
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI Waryono Abdul Ghafur mengatakan pengelola zakat nasional perlu menggeser paradigma dari sekadar mengejar target penghimpunan menuju pemberdayaan mustahik agar mampu mandiri.
Menurut Waryono, pengelolaan dana ZIS dan wakaf tidak seharusnya berhenti pada pemberian bantuan karitatif dalam jangka pendek.
Dana tersebut juga perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Hari ini ukuran keberhasilan lembaga zakat termasuk Baznas tidak lagi sekadar seberapa banyak pengumpulan yang diperoleh, tetapi bagaimana ada shifting paradigm dari pengumpulan menjadi bagaimana menjadikan mustahik berdaya dan mandiri," ucap Waryono Abdul Ghafur.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




