
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong perlindungan nyata terhadap perajin dan pelaku budaya dalam pengembangan circular cultural economy (CCE) atau ekonomi budaya sirkular agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana.
Lestari menilai pengembangan ekonomi budaya sirkular harus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan keluarga dan komunitas desa sebagai fondasi utama.
“Ekonomi budaya sirkular tidak bisa dibangun secara melompat-lompat. Harus ada tahapan yang terukur, dimulai dari unit paling dasar, yaitu keluarga dan komunitas di desa,” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9/2026).
Regenerasi Perajin Jadi Perhatian
Lestari yang akrab disapa Rerie menyoroti persoalan regenerasi perajin dan pelaku budaya tradisional di tengah upaya menjadikan budaya sebagai bagian dari penggerak ekonomi.
Menurutnya, keterampilan tradisional seperti membatik, menenun, dan mengukir tidak lagi secara otomatis diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Tanpa upaya membumikan gagasan ini, kata sirkular hanya akan berputar di atas kertas, tidak pernah sampai kepada mereka yang benar-benar memegang aset budaya,” ujar anggota Komisi X DPR RI itu.
Rerie mengatakan pembangunan ekonomi budaya sirkular dapat dimulai dengan menghidupkan keterampilan dasar dalam keluarga, membangun jejaring antarkomunitas di desa, hingga membentuk klaster industri di tingkat daerah.
Menurutnya, rangkaian tersebut kemudian perlu dihubungkan dengan sistem ekonomi kreatif nasional yang memberikan ruang kepada pelaku budaya di tingkat akar rumput.
“Tanpa payung kebijakan dan anggaran yang terukur, CCE hanya akan menjadi judul seminar,” tambah Rerie.
Rerie Soroti Dukungan Kebijakan dan Anggaran
Rerie merujuk pendekatan Korea Selatan sebagai perbandingan dalam pengembangan industri berbasis budaya.
Ia menyebut pemerintahan Lee Jae Myung menargetkan pasar K-culture senilai 400 triliun won pada 2030 dengan dukungan dana kebijakan konten sebesar 731,8 miliar won dan insentif fiskal.
“Pendekatan itu menunjukkan bahwa transformasi budaya menjadi mesin ekonomi membutuhkan intervensi fiskal terukur, bukan sekadar imbauan,” ujarnya.
Rerie menilai pengembangan CCE pada akhirnya berkaitan dengan keberadaan dan keberlanjutan para perajin yang mempertahankan keterampilan serta warisan budaya di berbagai daerah.
“Ketika perajin terakhir di sebuah desa menutup pintu rumah untuk selamanya, tidak ada kebijakan yang bisa menghidupkan kembali tangan-tangan yang telah hilang itu,” pungkas Rerie.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




