
Pantau - Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan sektor kemaritiman melalui kolaborasi pemerintah, parlemen, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan generasi muda untuk mengoptimalkan potensi laut menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Ibas menyampaikan pandangan tersebut saat menerima dan berdialog dengan komunitas Maritim Muda Nusantara di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurut Ibas, potensi kelautan Indonesia perlu dikembangkan untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang apa yang kita punya. Kita sudah punya semuanya. Tetapi apa yang bisa kita ciptakan dari apa yang kita punya hari ini,” ujar Ibas.
“Indonesia adalah bangsa maritim dan laut adalah identitas kita. Laut adalah sumber pangan, jalur perdagangan, sumber energi, sekaligus ruang hidup jutaan masyarakat Indonesia,” katanya.
Pemuda Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Biru
Ibas mendorong generasi muda mengambil peran sebagai inovator, pengusaha, peneliti, teknolog, dan penggerak ekonomi biru.
Ia menilai pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kelautan, teknologi maritim, perikanan, akuakultur, logistik, industri perkapalan, hingga ekonomi biru perlu diperkuat.
“Banyak anak muda seperti kalian harus terbuka pikirannya. Sumber daya manusia di bidang maritim harus tumbuh. Kita harus punya ahli dan pakar-pakar maritim untuk masa depan,” tutur Ibas.
Ibas juga mendorong Maritim Muda Nusantara mengembangkan program yang dapat melahirkan lebih banyak ocean entrepreneur di berbagai daerah.
Selain pengembangan SDM, Ibas meminta pembangunan 1.000 kampung nelayan dikawal agar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.
“Kita kawal 1.000 kampung nelayan. Pastikan kampung nelayan itu bukan hanya sekadar nominal, tetapi benar-benar ada barangnya, ada aktivitas ekonominya, ada model pembiayaan yang dibutuhkan UMKM nelayan kita,” ujar Ibas.
Menurutnya, masyarakat pesisir membutuhkan penguatan akses terhadap pembiayaan, teknologi, pasar, infrastruktur, pendidikan, dan konektivitas.
Teknologi dan Hilirisasi Hasil Laut Disorot
Ibas turut mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi sektor perikanan, termasuk mengurangi biaya energi yang ditanggung nelayan.
“Kalau biaya mereka bisa ditekan melalui konversi maupun inovasi teknologi baru, tentu ruang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka menjadi lebih besar,” katanya.
Ia juga mendorong pengembangan blue innovation melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI untuk menghasilkan solusi bagi sektor kelautan.
“AI jangan dianggap sebagai musuh atau pesaing. Gunakan AI untuk membackup dan mengakselerasi kita,” ujar Ibas.
Pemanfaatan teknologi tersebut dapat mencakup Internet of Things (IoT), sensor bawah air, pemantauan kualitas air, akuakultur, efisiensi pemberian pakan, hingga pengolahan data untuk membantu aktivitas nelayan.
Ibas juga menyoroti pentingnya hilirisasi agar hasil laut Indonesia tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah.
“Kita harus berpikir bagaimana hasil laut kita tidak hanya dijual mentah. Kalau kita menjual hasil olahan laut, nilai tambahnya bisa jauh lebih tinggi,” katanya.
Pulau Kecil Didorong Jadi Pusat Ekonomi Baru
Ibas mengusulkan pulau-pulau kecil dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, kawasan percontohan energi bersih, laboratorium teknologi kelautan, destinasi wisata berkelanjutan, maupun sentra UMKM.
“Pulau kecil jangan kita lihat sebagai ujung Indonesia. Justru pulau kecil bisa dijadikan pusat ekonomi baru yang terbarukan,” tegasnya.
Pengembangan tersebut, menurut Ibas, perlu dilakukan dengan memperhatikan kepentingan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kepentingan nasional.
Ia juga mengingatkan pengembangan ekonomi biru harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem dari praktik illegal fishing, metode penangkapan ikan yang merusak, pencemaran, dan sampah laut.
“Jangan sampai kita menghalalkan segala cara dengan melakukan pemboman yang akhirnya merusak koral dan ikan yang tidak sepatutnya disakiti,” ujarnya.
Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Maritim
Ibas menegaskan pembangunan sektor kemaritiman membutuhkan keterlibatan pemerintah, parlemen, dunia usaha, akademisi, komunitas, peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat pesisir.
“Kita butuh kolaborasi. Tidak bisa hanya parlemen, hanya pemerintah, atau hanya swasta. Kita juga membutuhkan komunitas, lembaga terkait, dan pakar kampus agar kita tidak hanya bertemu di kebijakan, tetapi juga bertemu di lapangan,” katanya.
Menurut Ibas, kolaborasi perlu diarahkan pada hasil yang terukur berupa peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan UMKM, dan penciptaan lapangan pekerjaan bagi generasi muda.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah hasilnya. Agar pendapatan masyarakat terus naik, UMKM terus naik kelas, dan pemuda-pemuda kita mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.
Ibas mengatakan pembangunan maritim membutuhkan keberlanjutan, konsistensi kebijakan, dan kolaborasi dari tingkat pusat hingga daerah.
“Laut ini bukan hanya batas Indonesia. Laut ini juga menjadi jalan untuk menuju Indonesia yang lebih maju dan lebih berdaulat, adil dan makmur,” pungkas Ibas.
- Penulis :
- Aditya Yohan




