
Pantau - Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama di Jakarta untuk melengkapi sekaligus memperkuat struktur organisasi lembaga baru tersebut.
Menag meminta para pejabat yang dilantik memberikan perhatian serius terhadap masa depan santri yang tersebar di sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia.
“Betul-betul perhatikan masa depan para santri kita di 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia,” kata Nasaruddin.
Direktorat Jenderal Pesantren merupakan satuan kerja baru setingkat eselon I di lingkungan Kementerian Agama yang pembentukannya diawali dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 152 Tahun 2024 tentang Kementerian Agama.
Menag Minta Ditjen Pesantren Susun Peta Jalan
Nasaruddin meminta lima pejabat yang baru dilantik segera bekerja merumuskan arah pengembangan pesantren yang lebih jelas dan terukur.
Menurut Menag, keberadaan Ditjen Pesantren tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembentukan struktur kelembagaan, tetapi juga harus disertai perumusan identitas, arah pengembangan, serta roadmap atau peta jalan pesantren.
Setiap kebijakan yang disusun Ditjen Pesantren diminta mempertimbangkan kebutuhan lembaga pesantren, para santri, serta kontribusi lulusan pesantren kepada masyarakat.
Menag juga meminta karakter dan kekhasan pesantren dirumuskan dari aspek ontologi, epistemologi, metodologi, hingga aksiologi agar pengembangannya memiliki arah jelas tanpa menghilangkan identitas pesantren.
Dalam perencanaan pendidikan pesantren, perhatian juga diminta tidak hanya difokuskan pada aspek input dan output, tetapi turut mencakup outcome dan impact bagi santri, lembaga pesantren, masyarakat, serta bangsa.
“Kita harus tahu input-nya seperti apa, output-nya seperti apa, outcome-nya seperti apa, dan impact-nya seperti apa,” ujar Nasaruddin.
Aspek tersebut perlu dimasukkan dalam roadmap pengembangan pesantren untuk menjawab sejumlah persoalan mendasar, termasuk sasaran pendidikan, kompetensi dan karakter lulusan, serta arah kontribusi mereka setelah menyelesaikan pendidikan.
Ditjen Pesantren juga diminta merumuskan distingsi atau ciri pembeda pesantren dari pendidikan Islam pada umumnya serta memetakan para pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangannya.
Lima Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren Dilantik
Nasaruddin mengibaratkan pembentukan Ditjen Pesantren seperti membangun rumah baru yang masih membutuhkan berbagai perangkat agar dapat berfungsi secara optimal.
Meski menjadi lembaga baru dengan sumber daya dan anggaran yang masih terbatas, Menag berharap Ditjen Pesantren mampu membangun karakter serta daya tarik tersendiri.
“Biasanya rumah baru itu lebih cantik daripada rumah lama, dan itu kami berharap seperti itu. Walaupun pendatang baru, walaupun anggarannya mungkin juga sangat terbatas, tetapi akan menampilkan sosok yang mempunyai daya tarik tersendiri,” ungkap Nasaruddin.
Lima pejabat yang dilantik yakni Arsad Hidayat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama dan Mastuki sebagai Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Adib dilantik sebagai Direktur Ma’had Aly Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama dan Mahrus sebagai Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Non Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama.
Sementara itu, Yusi Damayanti dilantik sebagai Direktur Pemberdayaan Pesantren Kementerian Agama.
- Penulis :
- Shila Glorya




