
Pantau - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendukung keterbukaan pengembangan ilmu pengetahuan melalui UNESCO Recommendation on Open Science yang mencakup publikasi ilmiah, data, sumber daya pendidikan, perangkat lunak dan perangkat keras, serta infrastruktur terbuka.
Konsep Open Science tersebut juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan kebijakan tersebut sejalan dengan sejumlah program kerja sama yang telah maupun sedang dijalankan Kemdiktisaintek bersama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Dalam diplomasi sains dan teknologi, Kemdiktisaintek turut mendorong penguatan talenta STEM atau sains, teknologi, teknik, dan matematika serta agenda Open Science.
"Terutama yang dilakukan oleh Kemdiktisaintek adalah satu bagian dari program yang dilakukan UNESCO, yaitu open science, yang kemudian dijabarkan dalam beberapa program. Untuk diplomasi sains dan teknologi, ada beberapa hal yang kami dorong, termasuk penguatan talenta STEM serta isu open science," kata Fauzan.
Kemdiktisaintek Siapkan Tiga Jalur Kerja Sama
Sejumlah program yang berkaitan dengan agenda tersebut antara lain penguatan literasi sains melalui Program Berdikari serta pengembangan Saintek Nusantara, Sentral Saintek, CTSA, dan Open Lab Mini.
Kemdiktisaintek juga menjalankan Cakrawala Saintek yang diarahkan untuk meningkatkan reputasi internasional jurnal ilmiah.
Program lainnya mencakup International Mathematics Competition, Asia-Pacific Broadcasting Union Robot Contest, Residensi Riset Sains dan Teknologi, serta Lindau Nobel Laureate Meetings.
Dalam memperkuat kerja sama dengan UNESCO, Fauzan mengusulkan tiga jalur utama berupa penguatan kebijakan dan tata kelola sumber daya, pengembangan talenta, serta penguatan riset dan inovasi.
Penguatan riset dan inovasi tersebut akan diarahkan melalui Open Science, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta kolaborasi dengan masyarakat.
"Usulan tersebut menjadi bagian dari portofolio kerja Kemdiktisaintek untuk periode 2026-2027," ujar Fauzan.
Menurut Fauzan, berbagai program tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari diplomasi sains dan teknologi Indonesia melalui UNESCO untuk memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat ekosistem nasional.
KNIU Perkuat Koordinasi Program UNESCO
Menteri Kebudayaan sekaligus Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Fadli Zon mengatakan setiap kementerian dan lembaga tetap menjalankan mandat serta kewenangan substantif masing-masing dalam pelaksanaan program dan konvensi UNESCO.
KNIU berperan sebagai fasilitator koordinasi, sinkronisasi, dan komunikasi antarpemangku kepentingan yang berkaitan dengan UNESCO.
Penguatan kelembagaan KNIU dilakukan melalui pembaruan data focal point serta peningkatan sinergi antara kementerian dan lembaga, Sekretariat KNIU, serta Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO.
"Visibility sangat penting, termasuk di dalam isu-isu penting yang ada di UNESCO dari K/L masing-masing. Harap jangan jadi follower, tapi mewarnai," kata Fadli.
Penguatan KNIU juga didukung Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2026 tentang Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO sebagai wadah koordinasi nasional di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta komunikasi dan informasi.
Sebagai tindak lanjut, KNIU mengusulkan pembentukan Pokja Pendidikan, Pokja Ilmu Pengetahuan, Pokja Kebudayaan, Pokja Komunikasi dan Informasi, serta kelompok kerja khusus sesuai kebutuhan strategis nasional.
KNIU juga akan memetakan berbagai program dan jejaring UNESCO di Indonesia, termasuk UNESCO Chairs, UNESCO Global Geoparks, Memory of the World, serta program lainnya sebagai basis data nasional.
- Penulis :
- Arian Mesa




