HOME  ⁄  Nasional

Mendagri Tito Karnavian Akan Mengecek Kematian Penyintas Gempa NTT di Pengungsian

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Mendagri Tito Karnavian Akan Mengecek Kematian Penyintas Gempa NTT di Pengungsian
Foto: Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian (sumber: Kemendagri)

Pantau - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian akan menindaklanjuti laporan meninggalnya penyintas gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama berada di lokasi pengungsian dengan melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Provinsi NTT.

Pernyataan tersebut disampaikan Tito setelah mengikuti rapat tingkat menteri di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, Rabu.

Tito mengatakan pengecekan diperlukan untuk mengetahui lokasi serta penyebab kematian para penyintas sebelum pemerintah memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Saya akan cross-check dulu kepada pemerintah daerah, di mana saja dan penyebabnya apa. Daripada saya ngarang-ngarang jawabannya, ini sebagai masukan. Saya akan tanya Gubernurnya,” kata Tito.

Kementerian Dalam Negeri juga akan memantau peran pemerintah daerah dalam memberikan perawatan dan pelayanan kepada masyarakat di lokasi pengungsian.

Pemantauan tetap dilakukan meskipun koordinasi penanganan darurat di lapangan secara struktural berada di bawah kendali Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Pemerintah Tambah Anggaran BTT Daerah Terdampak

Pemerintah pusat telah mengalokasikan tambahan dana belanja tidak terduga (BTT) untuk membantu penanganan dampak gempa bumi di NTT.

Masing-masing dari tujuh kabupaten/kota terdampak mendapatkan tambahan BTT sebesar Rp20 miliar.

Pemerintah Provinsi NTT juga mendapatkan tambahan anggaran BTT sebesar Rp40 miliar.

Tito meminta para kepala daerah mengoptimalkan penggunaan anggaran tersebut secara cepat dan tepat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Anggaran tersebut antara lain harus dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan dan berbagai kebutuhan dasar masyarakat di lokasi pengungsian.

Kondisi pelayanan dan fasilitas pengungsian juga akan menjadi bahan evaluasi apabila ditemukan penanganan yang kurang memadai atau fasilitas yang kurang layak.

“Kalau ada hal karena kurang treatment atau yang kurang layak, ya ini jadi bagian evaluasi. Saya pasti akan menyampaikan kepada Pemda-nya untuk memanfaatkan anggaran yang ada,” ujar Tito.

108 Penyintas Dilaporkan Meninggal di Pengungsian

Hingga akhir September 2026, sebanyak 108 penyintas gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, NTT, dilaporkan meninggal dunia di lokasi pengungsian.

Data terbaru mencatat 108 orang tersebut meninggal akibat dampak tidak langsung pascagempa ketika berada di pengungsian maupun posko.

Kabupaten Manggarai mencatat jumlah kematian tertinggi sebanyak 44 orang, disusul Manggarai Timur dengan 33 orang dan Nagekeo sebanyak 20 orang.

BNPB mencatat akumulasi korban jiwa mencakup korban yang meninggal secara tidak langsung akibat dampak pascagempa maupun mereka yang meninggal setelah sempat mendapatkan penanganan medis.

Sebagian besar korban meninggal berasal dari kelompok lanjut usia dan anak-anak.

Berdasarkan keterangan pemerintah daerah setempat, para korban antara lain mengalami penyakit saluran pernapasan, pneumonia, dan diare.

Kondisi kesehatan tersebut dikaitkan dengan cuaca ekstrem serta lingkungan pengungsian yang berdebu dan memiliki sanitasi kurang memadai.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026