HOME  ⁄  Nasional

Kemenbud Siapkan Pameran Perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari di Amsterdam

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Kemenbud Siapkan Pameran Perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari di Amsterdam
Foto: (Sumber :Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri acara pembukaan pameran "There Was Something Here Before" di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Kebudayaan).)

Pantau - Kementerian Kebudayaan menyiapkan pameran bertajuk Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makassari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity di Indonesia House Amsterdam, Belanda, untuk memperkenalkan sejarah perjuangan dan kontribusi Syekh Yusuf al-Makassari kepada masyarakat luas.

Pameran tersebut akan dirangkai dengan seminar ilmiah dan pemutaran film sebagai bagian dari upaya membangun kesinambungan dialog kebudayaan antara Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Syekh Yusuf al-Makassari merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah hubungan Indonesia dan Afrika Selatan.

Setelah mendukung Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi persekutuan dagang Belanda VOC di Banten, Syekh Yusuf ditangkap pada 1683 dan diasingkan ke Sri Lanka pada 1684 sebelum pemerintah kolonial Belanda memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.

Warisan Syekh Yusuf Terus Diperkenalkan

"Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus," kata Menteri Kebudayaan.

"Di Cape Town, Beliau terus mengajar dan menjadi pusat kehidupan spiritual serta komunitas. Warisannya masih dapat kita lihat hingga hari ini melalui keberadaan makam keramatnya dan masyarakat yang tumbuh di sekitar sejarah serta ingatannya," ia menjelaskan.

Kementerian Kebudayaan ingin memperluas pengenalan terhadap sejarah perjuangan Syekh Yusuf sekaligus membangun hubungan kebudayaan yang berkesinambungan.

"Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town," kata Menteri Kebudayaan.

Upaya tersebut juga akan diwujudkan melalui pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town serta penyelenggaraan pameran di Indonesia House Amsterdam.

"Melalui berbagai program tersebut, sejarah Syekh Yusuf dapat terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas," kata Menteri Kebudayaan.

"Kami juga berharap kehadiran rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town dapat menjadi jembatan kebudayaan yang memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan secara berkelanjutan," katanya.

Pameran di Jakarta Angkat Jejak Indonesia di Cape Town

Kementerian Kebudayaan juga mendukung pameran There Was Something Here Before yang berlangsung pada 3 Oktober hingga 23 Desember 2026 di Erasmus Huis, Jakarta.

Pameran tersebut menampilkan kontribusi masyarakat asal Indonesia dalam membentuk kehidupan dan kebudayaan di Cape Town, Afrika Selatan.

"Pameran 'There Was Something Here Before' mengajak kita melihat kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog," kata Menteri Kebudayaan.

"Karya ini mempertemukan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan dalam satu kerangka sejarah dan kebudayaan yang saling terhubung. Saya mengapresiasi Zahira Asmal yang mengajak kita melihat lebih dalam berbagai lapisan ingatan, komunitas, dan sejarah yang membentuk sebuah kota," ia menjelaskan.

Kurator sekaligus penggagas pameran Zahira Asmal menyoroti kontribusi masyarakat dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi yang membawa pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, serta tradisi ke Cape Town.

"Pameran ini mengajak kita memikirkan siapa sebenarnya yang membentuk sebuah kota. Siapa yang membangunnya, merawatnya, membawa pengetahuan, menciptakan kebudayaan, dan berjuang untuk menjadikannya rumah," katanya.

"Banyak dari mereka berasal dari Indonesia dan terus membentuk kehidupan Cape Town hingga hari ini. Saya berharap pameran ini dapat membuat kita melihat serta menghargai kontribusi dan sejarah mereka," ia menambahkan.

Pameran multimedia interaktif tersebut memadukan penelitian, materi arsip, fotografi, suara, seni, kesaksian personal, dan desain interaktif untuk memperlihatkan perjalanan manusia serta komunitas dalam membentuk sebuah kota.

"Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru," demikian Fadli Zon.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026