HOME  ⁄  Nasional

Pemerintah Sebut Inflasi, Surplus Perdagangan, dan PMI Jadi Sinyal Ekonomi Indonesia Menguat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pemerintah Sebut Inflasi, Surplus Perdagangan, dan PMI Jadi Sinyal Ekonomi Indonesia Menguat
Foto: (Sumber :Juru Bicara Kementerian Koodinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto di Jakarta, Senin (5/10/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian).)

Pantau - Pemerintah menilai perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan positif memasuki triwulan IV-2026 yang tercermin dari inflasi terkendali, surplus neraca perdagangan, serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang kembali ke zona ekspansi.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan atau masih berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen.

Inflasi inti melandai menjadi 2,84 persen, sedangkan inflasi harga diatur pemerintah turun menjadi 3,25 persen secara tahunan.

“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03 persen (yoy), dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” ujar Haryo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Pemerintah Perkuat Program Jaga Daya Beli

Pemerintah memperkuat penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III dan Bantuan Pangan Beras sebanyak 10 kilogram per bulan pada Oktober hingga Desember 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat.

Langkah tersebut dilengkapi dengan percepatan penyaluran beras SPHP melalui Perum Bulog, gerakan pangan murah, optimalisasi cadangan beras pemerintah, serta kerja sama antardaerah.

Pemerintah juga memperkuat produksi melalui pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, serta Early Warning System.

Neraca Perdagangan Catat Surplus 7,25 Miliar Dolar AS

Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar 7,25 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Ekspor besi dan baja mencapai 19,18 miliar dolar AS atau tumbuh 4,88 persen, sedangkan minyak kelapa sawit dan turunannya mencapai 17,75 miliar dolar AS atau naik 6,57 persen.

Ekspor batu bara tercatat sebesar 16,58 miliar dolar AS atau tumbuh 4,31 persen, sementara ekspor industri pengolahan meningkat 6,62 persen.

Dari sisi impor, bahan baku atau penolong dan barang modal secara keseluruhan mencakup 91,3 persen dari total impor.

Impor mesin atau peralatan mekanis meningkat 15,26 persen, sedangkan mesin dan perlengkapan elektrik naik 22,94 persen sejalan dengan kebutuhan produksi dan investasi domestik.

PMI Manufaktur Kembali Masuk Zona Ekspansi

Indikator ketiga terlihat dari PMI Manufaktur Indonesia yang meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026 sehingga kembali memasuki zona ekspansi.

Haryo mengatakan perbaikan tersebut ditopang peningkatan pesanan baru dan produksi, pertumbuhan pesanan ekspor, masuknya proyek baru, serta membaiknya daya beli.

Pesanan baru pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Februari 2026, sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Penyerapan tenaga kerja, aktivitas pembelian, dan persediaan input juga kembali meningkat, sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan tetap tinggi.

“Ke depan, kebijakan pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” tutup Haryo.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026