
Pantau - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkuat kesiapsiagaan penanggulangan pencemaran laut melalui latihan internasional Regional Marine Pollution Exercise (MARPOLEX) 2026 yang melibatkan 21 kapal dari Indonesia, Filipina, dan Jepang di Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara, Minggu (11/10/2026).
Latihan tersebut dilaksanakan untuk menguji kesiapan operasional, koordinasi antarnegara, serta kemampuan merespons keadaan darurat di wilayah perairan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Triono, menyatakan kegiatan tersebut berhasil dilaksanakan dengan melibatkan berbagai unsur kapal dari ketiga negara.
"Latihan penanggulangan pencemaran laut melalui Regional MARPOLEX 2026 berhasil dilaksanakan di Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara," kata Triono di Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Kegiatan ini mencakup simulasi penanggulangan tumpahan minyak, pemadaman kebakaran kapal, serta operasi pencarian dan pertolongan.
Sebanyak 21 Kapal Indonesia, Filipina, dan Jepang Ikuti MARPOLEX 2026
Kemenhub melibatkan 21 kapal dari berbagai unsur Indonesia, Filipina, dan Jepang dalam latihan bersama penanggulangan pencemaran laut.
Latihan yang berlangsung di Selat Lembeh tersebut menjadi sarana pengujian kemampuan operasional dalam menghadapi insiden di laut.
Triono menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat koordinasi antarkapal dan antarinstansi yang terlibat dalam penanganan keadaan darurat.
Selain menguji kesiapan peralatan, latihan juga mencakup pelaksanaan prosedur respons bersama dalam menghadapi berbagai situasi.
"Latihan ini mencakup tiga skenario, yakni penanggulangan tumpahan minyak (Oil Spill Response Operation), pemadaman kebakaran kapal (Fire Fighting), serta pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR)," ujarnya.
Ketiga skenario tersebut menjadi bagian dari pengujian kesiapsiagaan unsur yang terlibat dalam operasi keselamatan dan perlindungan lingkungan laut.
Penanganan Tumpahan Minyak Dilakukan dalam Tiga Lapisan
Dalam simulasi penanggulangan tumpahan minyak atau Oil Spill Response Operation, peserta melaksanakan penanganan melalui tiga lapisan operasi.
Pada lapisan pertama, kapal MB Rancung IV dan MB Transko Sepat 16 dikerahkan untuk mendukung penanganan awal.
Kedua kapal tersebut menjalankan tugas membatasi penyebaran tumpahan minyak di perairan.
Penanganan kemudian dilanjutkan pada lapisan kedua dengan melibatkan KN Gandiwa P-118 sebagai unsur utama.
Operasi tersebut didukung KT Anoman V untuk mengoperasikan peralatan penanggulangan tumpahan minyak.
Pada lapisan ketiga, dua kapal dari Penjaga Pantai Filipina atau Philippine Coast Guard turut berpartisipasi dalam simulasi.
Kedua kapal tersebut adalah BRP Gabriela Silang dan BRP Tubbataha.
Keduanya melakukan penggelaran oil boom, yakni alat pembatas yang digunakan untuk mengendalikan penyebaran minyak di permukaan air.
Pembagian operasi menjadi tiga lapisan memungkinkan peserta menguji koordinasi penggunaan kapal dan peralatan dalam simulasi penanganan pencemaran laut.
Kapal Jepang dan Filipina Terlibat dalam Simulasi Kebakaran
Selain penanganan tumpahan minyak, MARPOLEX 2026 juga menggelar simulasi pemadaman kebakaran kapal atau Fire Fighting.
Dalam skenario tersebut, Fireboat Wisnu 3 mengawali operasi pemadaman menggunakan air terhadap kapal yang disimulasikan mengalami kebakaran.
Operasi kemudian mendapat dukungan dari kapal SHIKISHIMA PLH-31 milik Penjaga Pantai Jepang atau Japan Coast Guard.
Sejumlah kapal Indonesia juga terlibat dalam skenario tersebut, yakni KN Chundamani P-116, KN P-380, dan KT Bunaken.
Sementara itu, BRP Gabriela Silang dari Filipina turut memberikan dukungan dalam pelaksanaan simulasi pemadaman.
Keterlibatan kapal dari ketiga negara menjadi bagian dari latihan koordinasi penanganan kebakaran di perairan.
MARPOLEX 2026 Juga Uji Kesiapan Pencarian dan Pertolongan
Skenario ketiga dalam MARPOLEX 2026 mencakup kegiatan pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR).
Latihan tersebut menjadi bagian dari pengujian kesiapan menghadapi situasi darurat yang membutuhkan operasi penyelamatan di laut.
Kemenhub memasukkan skenario SAR bersama simulasi penanggulangan tumpahan minyak dan pemadaman kebakaran kapal.
Ketiga jenis latihan tersebut ditujukan untuk menguji kesiapan operasional dan respons bersama unsur yang terlibat.
Dalam keterangan yang disampaikan, Kemenhub belum merinci tahapan pelaksanaan maupun kapal yang bertugas secara khusus dalam skenario SAR.
Kemenhub Perkuat Koordinasi Internasional Penanggulangan Pencemaran Laut
Pelaksanaan MARPOLEX 2026 menjadi bagian dari upaya Kemenhub meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi insiden pencemaran dan keadaan darurat di laut.
Latihan bersama tersebut melibatkan unsur dari Indonesia, Filipina, dan Jepang dalam satu kegiatan operasional di Selat Lembeh.
Melalui simulasi penanganan tumpahan minyak, peserta menguji penggunaan peralatan serta koordinasi pembatasan penyebaran pencemaran.
Sementara itu, skenario kebakaran kapal dan pencarian serta pertolongan menjadi bagian dari pengujian respons terhadap keadaan darurat.
Kemenhub menyatakan latihan MARPOLEX 2026 di Bitung telah berhasil dilaksanakan dengan melibatkan 21 kapal dari ketiga negara.
Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat kesiapan operasional dan kerja sama penanganan insiden laut melalui latihan bersama.
- Penulis :
- Gerry Eka




