
Pantau - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan pengembangan tujuh titik sumur dalam untuk memperkuat pasokan air tawar bagi kegiatan pertanian di Kawasan Sentra Produksi Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Pengembangan sumur dalam tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi sekaligus mendukung keberhasilan pengembangan kawasan sentra produksi pangan nasional.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menjelaskan bahwa penyediaan infrastruktur sumber daya air merupakan salah satu tanggung jawab utama Kementerian PU dalam mendukung kegiatan pertanian di Wanam.
Menurut Dody, meskipun kawasan tersebut menggunakan sistem pertanian rawa yang mengandalkan sumber air tawar dari rawa, pemerintah tetap harus memastikan pasokan air tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai.
"Ini sebenarnya pertanian rawa. Basisnya adalah air tawar dari rawa. Tapi kita juga harus memastikan bahwa air itu tawar dan wajib tersedia dalam kondisi apa pun. Karena itu, kita melakukan pengeboran air tanah untuk memastikan pasokan air tawar yang cukup," ujar Dody dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Kementerian PU Temukan Tujuh Titik Potensial Air Tanah di Wanam
Dody menjelaskan bahwa pengembangan sumur dalam dilakukan berdasarkan hasil survei geolistrik untuk mengidentifikasi potensi keberadaan sumber air tanah di kawasan KSPEAN Wanam.
Berdasarkan hasil survei tersebut, Kementerian PU menemukan tujuh titik yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumur dalam.
Ketujuh titik tersebut dipersiapkan sebagai sumber air alternatif guna memperkuat pasokan air tawar bagi kebutuhan irigasi pertanian.
Dari hasil identifikasi awal, setiap titik diperkirakan memiliki potensi debit air sekitar 1 hingga 2 liter per detik.
Apabila seluruh titik dapat dikembangkan dan menghasilkan debit sesuai perkiraan, ketujuh sumur tersebut berpotensi memberikan tambahan pasokan air bagi kawasan pertanian.
Selain mengidentifikasi lokasi potensial, survei awal juga dilakukan untuk mengetahui kondisi lapisan tanah yang mampu menyimpan dan mengalirkan air bawah permukaan atau akuifer.
Hasil survei menunjukkan bahwa potensi akuifer di lokasi pengembangan sumur dalam dinilai cukup baik untuk mendukung penyediaan sumber air tanah.
Lapisan akuifer yang berpotensi dimanfaatkan diperkirakan berada pada kedalaman sekitar 60 hingga 70 meter di bawah permukaan tanah.
Informasi tersebut menjadi dasar teknis bagi Kementerian PU dalam merencanakan pengembangan sumur bor sebagai sumber cadangan air tawar.
Penyediaan sumber air alternatif dinilai penting untuk mengantisipasi kondisi ketika sumber air rawa tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan irigasi pertanian.
Penanaman Padi Tahap Pertama Capai 40 Hektare, Panen Ditargetkan November 2026
Pengembangan infrastruktur air di kawasan KSPEAN Wanam dilakukan seiring dengan dimulainya kegiatan penanaman padi pada lahan pertanian yang sedang dikembangkan.
Hingga 1 Oktober 2026, kegiatan penanaman padi pada lahan percontohan atau demonstration plot (demplot) di KM 21 telah mencapai luas sekitar 40 hektare.
Penanaman tersebut merupakan tahap pertama pengembangan pertanian padi di kawasan Wanam, Kabupaten Merauke.
Padi yang telah ditanam pada tahap awal itu direncanakan memasuki masa panen pada awal hingga pertengahan November 2026.
Seiring dengan berlangsungnya kegiatan penanaman, pemerintah juga menyiapkan perluasan areal tanam secara bertahap melalui koordinasi antarkementerian.
Dody menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian bertanggung jawab melaksanakan kegiatan penanaman, sementara Kementerian PU bertugas menyiapkan infrastruktur sumber daya air.
"Yang sudah tertanam hari ini baru 40 hektare. Selanjutnya akan ditanam secara bertahap oleh Kementerian Pertanian. Tugas kita adalah menyiapkan airnya, memastikan kebutuhan air untuk kawasan pertanian ini tersedia," kata Menteri Dody.
Pembagian tugas tersebut menjadi bagian dari koordinasi pemerintah dalam memastikan pengembangan kawasan pertanian berjalan sesuai dengan kesiapan infrastruktur pendukung.
Ketersediaan air yang berkelanjutan diharapkan dapat mendukung kegiatan penanaman padi sekaligus menjaga produktivitas lahan yang sedang dikembangkan.
Pembangunan Saluran Irigasi Rawa Terealisasi 133 Kilometer
Selain menyiapkan pengembangan sumur dalam, Kementerian PU terus melanjutkan pembangunan jaringan saluran air untuk mendukung kegiatan pertanian di KSPEAN Wanam.
Pembangunan jaringan tersebut menjadi bagian penting dari pengelolaan tata air kawasan karena sistem pertanian yang dikembangkan menggunakan lahan rawa.
Kementerian PU menargetkan pembangunan jaringan saluran air dengan total panjang mencapai 180 kilometer.
Berdasarkan perkembangan pekerjaan hingga 1 Oktober 2026, pembangunan jaringan saluran telah terealisasi sepanjang 133 kilometer.
Dengan capaian tersebut, realisasi pembangunan telah mencapai sekitar 73,9 persen dari keseluruhan target yang ditetapkan.
Sementara itu, masih terdapat sekitar 47 kilometer jaringan saluran yang perlu diselesaikan untuk memenuhi target pembangunan sepanjang 180 kilometer.
Pekerjaan tersebut mencakup pembangunan saluran irigasi rawa yang berfungsi mendukung pengaturan dan penyaluran air bagi kegiatan pertanian.
Selain saluran irigasi, Kementerian PU juga membangun saluran pengendalian banjir untuk membantu menjaga kondisi tata air di kawasan tersebut.
Keberadaan saluran pengendalian banjir menjadi penting karena kegiatan pertanian rawa membutuhkan pengaturan kelebihan air agar kondisi lahan tetap mendukung proses penanaman.
Melalui pembangunan kedua jenis saluran tersebut, pemerintah berupaya menciptakan sistem pengelolaan air yang lebih terencana untuk mendukung kegiatan pertanian di Wanam.
Sumur Dalam dan Jaringan Irigasi Disiapkan untuk Perluasan Lahan Pertanian
Kementerian PU merancang pengembangan sumur dalam dan pembangunan jaringan saluran sebagai dua infrastruktur yang saling melengkapi dalam mendukung pengelolaan air kawasan KSPEAN Wanam.
Sumur dalam disiapkan sebagai sumber cadangan air tawar, sedangkan jaringan saluran berfungsi mengatur distribusi air serta membantu pengendalian banjir di kawasan pertanian.
Kombinasi kedua infrastruktur tersebut diharapkan dapat memastikan kebutuhan air untuk penanaman padi tetap terpenuhi dalam berbagai kondisi lingkungan dan musim.
Penguatan sistem pengelolaan air juga menjadi bagian dari persiapan pemerintah untuk mendukung perluasan lahan pertanian secara bertahap.
Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, kegiatan penanaman diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan mendukung peningkatan produktivitas pertanian.
Pembangunan infrastruktur sumber daya air di Wanam juga menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat pengembangan kawasan sentra produksi pangan di Papua Selatan.
Hingga awal Oktober 2026, Kementerian PU telah mengidentifikasi tujuh titik potensial sumur dalam dengan perkiraan debit masing-masing 1 hingga 2 liter per detik dan kedalaman akuifer sekitar 60 hingga 70 meter.
Pada saat yang sama, pembangunan jaringan saluran sepanjang 180 kilometer telah terealisasi 133 kilometer untuk mendukung pengaturan air di kawasan pertanian.
Melalui pengembangan infrastruktur tersebut, Kementerian PU berupaya memastikan pasokan air tawar tersedia bagi penanaman padi tahap pertama seluas 40 hektare serta mendukung perluasan kegiatan pertanian berikutnya di KSPEAN Wanam.
- Penulis :
- Leon Weldrick




