
Pantau - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) setelah jumlah titik panas atau hotspot di provinsi tersebut turun dari 28 menjadi 15 titik berdasarkan data pemantauan pada 11 Oktober 2026.
Peninjauan dilakukan bersama Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin di kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Berdasarkan keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (12/10), kunjungan tersebut bertujuan memastikan penanganan karhutla berjalan maksimal sekaligus memantau kondisi kawasan hutan yang terdampak kebakaran.
Raja Juli Antoni mengatakan jumlah titik panas di Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan positif karena menjadi yang terendah dibandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan yang tercantum dalam data pemantauan.
"Per hari ini tercatat alhamdulillah Kalimantan Selatan angka hotspot-nya terbaik di Kalimantan. Kita masih punya tantangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat namun hal itu tidak membuat kita terlena," kata Raja Juli Antoni.
Meski jumlah titik panas mengalami penurunan, Menteri Kehutanan mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Titik Panas Kalimantan Selatan Turun 13 Titik, Kalimantan Tengah Masih Tinggi
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan per 11 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB, jumlah titik panas di enam provinsi prioritas penanganan karhutla mencapai 519 titik.
Kalimantan Selatan mencatat penurunan jumlah titik panas dari 28 titik pada 10 Oktober menjadi 15 titik pada 11 Oktober 2026.
Dengan demikian, jumlah titik panas di Kalimantan Selatan berkurang sebanyak 13 titik dalam satu hari dan menjadi yang terendah di antara tiga provinsi Kalimantan yang tercantum dalam laporan tersebut.
Sementara itu, Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah titik panas tertinggi di wilayah Kalimantan, yakni sebanyak 199 titik pada 11 Oktober 2026.
Meski demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan kondisi pada 10 Oktober 2026 yang mencapai 288 titik.
Penurunan sebanyak 89 titik tersebut menunjukkan berkurangnya jumlah titik panas di Kalimantan Tengah, meskipun wilayah tersebut masih menjadi perhatian dalam pengendalian karhutla.
Berbeda dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, jumlah titik panas di Kalimantan Barat justru mengalami peningkatan.
Data Sipongi mencatat titik panas di Kalimantan Barat bertambah dari 44 titik pada 10 Oktober menjadi 68 titik pada 11 Oktober 2026.
Kenaikan sebanyak 24 titik tersebut menjadi perhatian pemerintah karena menunjukkan masih adanya potensi kebakaran hutan dan lahan yang perlu diwaspadai.
Sumatera Selatan Catat 223 Titik Panas, Tertinggi di Enam Provinsi Prioritas
Selain wilayah Kalimantan, Kementerian Kehutanan juga memantau perkembangan titik panas di sejumlah provinsi prioritas penanganan karhutla di Pulau Sumatera.
Berdasarkan data Sipongi, Sumatera Selatan mencatat sebanyak 223 titik panas pada 11 Oktober 2026.
Jumlah tersebut menjadikan Sumatera Selatan sebagai provinsi dengan titik panas terbanyak di antara enam provinsi prioritas yang tercantum dalam laporan.
Sementara itu, Provinsi Riau mencatat sebanyak 14 titik panas, sedangkan Jambi tidak mencatat adanya titik panas atau berada pada angka nol.
Secara keseluruhan, jumlah titik panas di enam provinsi prioritas mencapai 519 titik yang tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, dan Jambi.
Perbedaan perkembangan titik panas di setiap provinsi menjadi perhatian pemerintah dalam menentukan langkah pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Wilayah yang masih mencatat jumlah titik panas tinggi maupun mengalami peningkatan membutuhkan kewaspadaan dan koordinasi penanganan yang berkelanjutan.
Menhut Apresiasi TNI, Polri, dan Relawan Pemadam Karhutla
Dalam kunjungannya ke kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, Raja Juli Antoni turut memantau secara langsung upaya penanganan kebakaran yang dilakukan petugas di lapangan.
Menteri Kehutanan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan.
Apresiasi tersebut diberikan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, jajaran kepolisian melalui Kapolda, serta unsur TNI melalui Danrem yang turut mendukung penanganan kebakaran.
Raja Juli Antoni juga mengapresiasi keterlibatan Masyarakat Peduli Api (MPA), Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), dan para relawan yang bekerja langsung membantu proses pemadaman.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur menjadi bagian penting dalam memperkuat koordinasi dan efektivitas pengendalian karhutla.
Kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, petugas pemadam, dan masyarakat perlu terus dipertahankan untuk menghadapi potensi kebakaran yang masih dapat terjadi.
Menhut Minta Kewaspadaan Karhutla Tidak Kendur Meski Titik Panas Menurun
Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penurunan jumlah titik panas tidak boleh membuat pemerintah maupun petugas di lapangan mengurangi upaya pencegahan dan pengendalian karhutla.
Kewaspadaan tetap diperlukan mengingat sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, masih menghadapi tantangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Pemerintah juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara maksimal.
"Saya minta seluruh pihak terus menjaga kerja sama dan kekompakan di lapangan. Kita bekerja maksimal untuk memastikan karhutla dapat ditangani dengan baik," demikian Raja Juli Antoni.
Melalui peninjauan langsung di Kalimantan Selatan, Menteri Kehutanan meminta seluruh unsur yang terlibat dalam pengendalian karhutla mempertahankan kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi, serta memastikan langkah pencegahan dan penanganan kebakaran terus berjalan meskipun jumlah titik panas telah mengalami penurunan.
- Penulis :
- Leon Weldrick




