
Pantau - Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami sembilan kali erupsi dalam kurun waktu 11 jam pada Selasa (13/10/2026), dengan tinggi kolom letusan mencapai 900 meter di atas puncak.
Aktivitas erupsi tersebut tercatat sejak pukul 00.00 WIB hingga 11.00 WIB, sementara status aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, melaporkan erupsi pertama terjadi pada pukul 00.09 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 800 meter di atas puncak.
Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan bergerak ke arah barat daya.
Semeru Erupsi Berulang, Kolom Abu Mencapai 900 Meter
Liswanto mengatakan erupsi kedua terjadi tidak lama setelah letusan pertama, yakni pada pukul 00.31 WIB.
"Erupsi kedua terjadi pada pukul 00.31 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya," kata Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Selasa (13/10/2026).
Aktivitas erupsi kemudian berlanjut pada pukul 00.36 WIB, 05.06 WIB, 05.13 WIB, 05.20 WIB, 06.47 WIB, dan 08.10 WIB.
Dalam rangkaian erupsi tersebut, tinggi kolom letusan bervariasi antara 300 meter hingga 900 meter di atas puncak Gunung Semeru.
Letusan kesembilan tercatat pada pukul 10.37 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 800 meter di atas puncak.
"Gunung Semeru erupsi kembali pada pukul 10.37 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak dengan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya dan barat," tutur Liswanto.
Menurutnya, erupsi tersebut terekam melalui alat seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 137 detik.
Status Semeru Level III Siaga, Warga Dilarang Beraktivitas di Zona Bahaya
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan aktivitas Gunung Semeru pada status Level III atau Siaga.
Dengan status tersebut, masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak gunung.
Pembatasan aktivitas juga berlaku pada wilayah di luar jarak tersebut, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan yang berpotensi terdampak awan panas dan lahar.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," kata Liswanto.
Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena berisiko terkena lontaran batu pijar.
Pembatasan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko korban akibat aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.
Warga Diminta Waspadai Awan Panas dan Aliran Lahar
Liswanto mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Semeru agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar.
Ancaman tersebut terutama berada di sepanjang sungai dan lembah yang berhulu langsung dari kawasan puncak Gunung Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ujar Liswanto.
Masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diimbau memperhatikan perkembangan aktivitas vulkanik serta mematuhi rekomendasi keselamatan dari petugas berwenang.
Hingga Selasa (13/10/2026) pukul 11.00 WIB, Gunung Semeru tercatat telah mengalami sembilan kali erupsi dengan status aktivitas vulkanik tetap berada pada Level III atau Siaga.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




