
Pantau - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan untuk mengurangi risiko korban akibat gempa bumi, potensi gempa megathrust, hingga letusan gunung api di Indonesia.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di sekolah harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya menjadi kegiatan sesaat.
Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan bertajuk "Implementasi SPAB dan Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) Menghadapi Ancaman Gempa, Megathrust & Letusan Gunung Api di Banten" yang diselenggarakan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Kota Serang, Banten, Selasa (13/10/2026).
" Aktivitas vulkanik maupun pergerakan lempeng tektonik merupakan dinamika alam yang tidak bisa dihentikan oleh manusia, sehingga fokus utama penanggulangan bencana terletak pada upaya pengurangan risiko bagi keselamatan," kata Abdul Muhari.
BNPB Catat Ribuan Bencana Terjadi Setiap Tahun di Indonesia
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan bahwa dalam tiga tahun terakhir terdapat sedikitnya 15 hingga 20 kejadian bencana setiap hari yang membutuhkan dukungan penanganan lintas sektor.
Penanganan tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintah, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.
Jika digabungkan dengan kejadian yang ditangani secara mandiri oleh pemerintah daerah, jumlah bencana di Indonesia diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 kejadian setiap tahun.
Tingginya frekuensi bencana tersebut menjadi perhatian BNPB dalam mendorong peningkatan kapasitas mitigasi, terutama pada sektor pendidikan.
Abdul Muhari menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun melalui proses pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat mampu menghadapi situasi darurat.
BNPB Tekankan Tiga Pilar Sekolah Aman Bencana
BNPB menggarisbawahi tiga pilar utama dalam penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) untuk meningkatkan keselamatan warga sekolah.
Pilar pertama adalah penyediaan fasilitas dan bangunan sekolah yang memiliki ketahanan terhadap ancaman bencana.
Pilar kedua mencakup penyusunan regulasi serta Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi yang jelas dan mudah diterapkan ketika terjadi keadaan darurat.
Sementara itu, pilar ketiga adalah pengintegrasian pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum pembelajaran agar siswa memiliki pemahaman mengenai risiko dan langkah penyelamatan diri.
BNPB menilai penerapan ketiga pilar tersebut penting untuk membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, terutama di wilayah rawan gempa bumi dan aktivitas vulkanik.
Tragedi Gempa Yogyakarta 2006 Jadi Pengingat Pentingnya Evakuasi
Abdul Muhari mencontohkan tragedi gempa bumi Yogyakarta pada 2006 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang dalam guncangan yang disebut berlangsung selama 5,3 detik.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bencana dapat menimbulkan korban jiwa dalam waktu sangat singkat apabila bangunan tidak memiliki ketahanan memadai dan masyarakat belum terlatih melakukan penyelamatan diri.
Menurutnya, keselamatan masyarakat sangat bergantung pada kekuatan struktur bangunan serta kemampuan melakukan evakuasi secara cepat dan tepat.
Karena itu, BNPB mendorong sekolah membiasakan simulasi evakuasi secara berkala, terutama bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Latihan tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan siswa untuk merespons ancaman bencana tanpa mengalami kepanikan.
Sekolah di Banten Diminta Siaga Ancaman Megathrust Selat Sunda
BNPB juga memberikan perhatian khusus terhadap kesiapsiagaan sekolah di Kota Serang dan wilayah lainnya di Provinsi Banten.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa Banten merupakan salah satu daerah yang memiliki kerentanan terhadap gempa bumi dari zona megathrust segmen Selat Sunda.
Selain ancaman gempa bumi, wilayah tersebut juga berpotensi terdampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kondisi geografis tersebut menjadi alasan pentingnya pelatihan mitigasi dan simulasi evakuasi secara rutin di lingkungan sekolah.
"Melalui pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, para siswa diharapkan mampu membentuk memori jangka panjang sehingga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya," kata Abdul Muhari.
BNPB berharap penguatan program SPAB dapat meningkatkan kesiapsiagaan siswa, guru, dan seluruh warga sekolah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana geologi.
- Penulis :
- Aditya Yohan




