
Pantau - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Papua Barat diperpanjang hingga Sabtu (17/10/2026) untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengurangi dampak kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah.
Perpanjangan operasi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi penyemaian awan guna meningkatkan peluang terjadinya hujan di kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, menjelaskan bahwa operasi tersebut telah berlangsung sejak 14 Oktober 2026 dengan target awal penyelesaian pada 15 Oktober 2026.
Namun, pelaksanaan OMC kemudian diperpanjang hingga 17 Oktober 2026 untuk memaksimalkan upaya penanganan karhutla sekaligus memanfaatkan sisa bahan penyemaian awan yang tersedia.
"Besok (Sabtu) operasi hari terakhir. Logistik garam jenis Natrium Klorida (NaCI) yang tersisa untuk besok sekitar 800 kilogram dari total 8 ton," kata Cipta Utama di Manokwari, Jumat (16/10/2026).
BMKG Catat Titik Panas di Papua Barat Turun Menjadi 87 Titik
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya penurunan jumlah titik panas di Papua Barat selama pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Berdasarkan peta sebaran titik panas BMKG per 15 Oktober 2026, jumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 87 titik dengan kategori sedang.
Penurunan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang dicatat BMKG selama berlangsungnya upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui penyemaian awan.
Cipta Utama menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan OMC sejak hari pertama hingga Jumat (16/10/2026) berjalan tanpa hambatan berarti.
"Kegiatan operasi dari hari pertama sampai dengan hari ini berjalan lancar," ujar Cipta Utama.
Menurutnya, keberadaan awan kumulus selama operasi memberikan kondisi yang mendukung pelaksanaan penyemaian di sejumlah wilayah sasaran.
Beberapa daerah seperti Kabupaten Fakfak, Kaimana, dan Teluk Bintuni juga dilaporkan mulai mengalami hujan setelah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Turunnya hujan di sejumlah wilayah tersebut berlangsung bersamaan dengan penurunan jumlah titik panas yang terpantau melalui pemantauan BMKG.
Meski demikian, hujan yang terjadi belum sepenuhnya mengatasi persoalan kabut asap di Papua Barat.
Kabut Asap Masih Menyelimuti Papua Barat akibat Kiriman dari Merauke
Cipta Utama mengungkapkan bahwa kabut asap yang masih terpantau di Papua Barat tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di wilayah setempat.
Sebagian kabut asap tersebut juga dipengaruhi oleh kiriman asap dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Merauke, Papua Selatan.
Pergerakan massa udara dan arah angin menjadi faktor yang memengaruhi penyebaran asap dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
"Setelah operasi, sudah mulai hujan, titik panas juga berkurang, tapi masih ada kabut asap karhutla karena kiriman dari Merauke, Papua Selatan," ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah titik panas di Papua Barat belum secara langsung menghilangkan seluruh kabut asap yang masih terpantau.
Oleh karena itu, pelaksanaan OMC tetap diarahkan untuk mengoptimalkan pembentukan hujan pada wilayah yang memiliki kondisi atmosfer mendukung.
Pesawat Cessna Caravan Kerahkan Garam untuk Penyemaian Awan
Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di Papua Barat didukung oleh maskapai Smart Aviation dengan menggunakan pesawat jenis Cessna Caravan.
Pesawat tersebut digunakan untuk membawa dan menyebarkan bahan penyemaian awan berupa natrium klorida (NaCl) pada wilayah yang memiliki potensi pembentukan hujan.
Secara keseluruhan, sebanyak delapan ton natrium klorida disiapkan untuk mendukung rangkaian operasi, dengan sisa sekitar 800 kilogram menjelang hari terakhir pelaksanaan.
Penggunaan natrium klorida bertujuan membantu proses kondensasi dan penggabungan butiran air di dalam awan sehingga peluang terbentuknya hujan dapat meningkat.
Koordinator Lapangan OMC, Fais Ramadhan, menjelaskan bahwa selama lima penerbangan penyemaian, arah angin cenderung berasal dari timur dan tenggara.
Menurutnya, penyemaian dilakukan dengan memanfaatkan awan kumulus konvektif yang berada pada ketinggian rata-rata 11.000 hingga 15.000 kaki.
Kondisi awan menjadi faktor utama dalam menentukan lokasi penyemaian sekaligus durasi penerbangan pesawat selama operasi berlangsung.
Setiap penerbangan dapat membawa bahan penyemaian hingga satu ton dengan waktu operasi di udara paling lama sekitar dua jam.
"Sekali terbang, pesawat membawa logistik satu ton. Operasi di udara paling lama sekitar dua jam, tapi tergantung sama potensi awannya," ucap Fais.
Empat Wilayah Jadi Prioritas Operasi Modifikasi Cuaca
Operasi modifikasi cuaca di Papua Barat difokuskan pada sejumlah kawasan yang menjadi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Wilayah sasaran tersebut meliputi Kabupaten Kaimana, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Fakfak, serta kawasan perbatasan Kabupaten Pegunungan Arfak dan Kabupaten Maybrat di Papua Barat Daya.
Penentuan lokasi penyemaian dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer, keberadaan awan potensial, serta kebutuhan penanganan kebakaran di masing-masing wilayah.
Melalui penyemaian awan, hujan yang terbentuk diharapkan dapat membantu membasahi kawasan terdampak kebakaran sekaligus mendukung penurunan jumlah titik panas.
Namun, efektivitas operasi tetap bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan, kondisi atmosfer, dan pergerakan angin selama pelaksanaan.
Dengan perpanjangan hingga Sabtu (17/10/2026), pelaksana OMC berupaya memaksimalkan sisa logistik penyemaian untuk mendukung penanganan karhutla sebelum operasi berakhir.
Hingga menjelang hari terakhir, BMKG mencatat hujan telah terjadi di sejumlah wilayah sasaran dan jumlah titik panas menurun menjadi 87 titik, sementara kabut asap masih terpantau akibat pengaruh kiriman asap dari Merauke, Papua Selatan.
- Penulis :
- Arian Mesa




