HOME  ⁄  Nasional

BP dan Inpex Investasikan Rp? di Laut Bali, Eksplorasi Migas Agung I dan II Dinilai Perkuat Ketahanan Energi RI

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BP dan Inpex Investasikan Rp? di Laut Bali, Eksplorasi Migas Agung I dan II Dinilai Perkuat Ketahanan Energi RI
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Aktivitas penambangan minyak dan gas bumi di lepas pantai. ANTARA/HO-SKK Migas.)

Pantau - Perusahaan energi global British Petroleum (BP) dan Inpex Corporation berkomitmen menginvestasikan 42,7 juta dolar AS untuk kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di Wilayah Kerja Agung I dan Agung II, perairan Bali, yang dinilai menunjukkan potensi energi Indonesia masih menjanjikan.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengatakan keterlibatan kedua perusahaan tersebut menjadi sinyal positif bagi industri hulu migas nasional.

Menurutnya, BP dan Inpex memiliki pengalaman serta kemampuan finansial dan teknologi untuk mengembangkan proyek energi berskala besar.

"Keduanya dikenal memiliki kapasitas finansial dan teknologi tinggi dalam mengelola blok-blok migas jumbo di tanah air," kata Yayan dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Ia menilai investasi tersebut juga mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap prospek industri migas Indonesia.

BP dan Inpex Siapkan Investasi 42,7 Juta Dolar AS di Laut Bali

BP dan Inpex membagi hak partisipasi dalam pengelolaan Wilayah Kerja Migas Agung I dan Agung II di perairan Bali.

Kedua perusahaan berencana melaksanakan kegiatan eksplorasi dengan nilai investasi mencapai 42,7 juta dolar AS.

Rencana eksplorasi tersebut mencakup survei seismik dua dimensi sepanjang 285 kilometer dan survei seismik tiga dimensi seluas 3.650 kilometer persegi.

Survei seismik dilakukan untuk memperoleh gambaran struktur geologi bawah permukaan laut dan mengidentifikasi potensi kandungan minyak serta gas bumi.

Yayan menilai kegiatan tersebut merupakan bagian penting dalam upaya menemukan cadangan energi baru untuk mendukung kebutuhan nasional.

Namun, keberhasilan eksplorasi masih bergantung pada kondisi geologi dan kelayakan ekonomi proyek.

BP Jadi Produsen Gas Terbesar, Inpex Kembangkan Blok Masela

Keterlibatan BP dan Inpex dalam eksplorasi migas Laut Bali didukung pengalaman keduanya mengelola proyek energi berskala besar di Indonesia.

Berdasarkan data SKK Migas periode Januari hingga Juli 2026, BP Berau menyumbang sekitar 1.478 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 28 persen dari total penyaluran gas nasional.

Sebagian besar produksi gas BP berasal dari fasilitas Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat.

BP juga mengembangkan proyek Ubadari serta fasilitas penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) dengan nilai investasi sekitar 7 miliar dolar AS.

Proyek tersebut diproyeksikan membuka tambahan pasokan gas sebesar 3 triliun kaki kubik (TCF) mulai 2028.

Sementara itu, Inpex mengendalikan Proyek Abadi di Blok Masela yang merupakan salah satu cadangan gas besar di Indonesia yang belum dikembangkan.

Proyek Abadi dirancang menghasilkan 9,5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun serta 150 MMSCFD gas pipa untuk kebutuhan domestik.

Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai 20,9 miliar dolar AS.

Pengamat Ingatkan Risiko Penundaan Proyek Migas

Yayan menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah agar kegiatan eksplorasi migas di perairan Bali dapat berjalan sesuai jadwal.

Menurutnya, hambatan birokrasi dan persoalan sosial berpotensi memengaruhi kelayakan ekonomi proyek.

Ia mengingatkan bahwa keterlambatan pelaksanaan dapat mengurangi nilai ekonomi penerimaan negara yang diharapkan dari pengembangan migas.

"Setiap tahun tertunda menggerus sekitar 10 persen nilai kini penerimaan negara dari proyek ini. Penundaan 4 tahun menghapus sepertiganya. Dukungan gubernur penting, terutama untuk urusan dalam kewenangan daerah," ucapnya.

Selain dukungan pemerintah daerah, pengembangan proyek juga menghadapi tantangan dari sisi kondisi geologi dan kepastian pasar.

Yayan memperkirakan peluang keberhasilan geologi di wilayah laut dalam tersebut berada pada kisaran 20 persen.

Faktor keekonomian dan kepastian harga jual gas domestik juga menjadi penentu sebelum proyek dapat memasuki tahap keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID).

Temuan Gas di Laut Bali Berpotensi Kurangi Ketergantungan Listrik dari Jawa

Yayan menilai keberhasilan eksplorasi migas di perairan Bali berpotensi memberikan manfaat ekonomi dan energi bagi daerah.

Jika ditemukan cadangan gas dalam jumlah besar dan layak dikembangkan, proyek tersebut berpeluang meningkatkan penerimaan daerah melalui dana bagi hasil (DBH).

Selain itu, produksi gas dari wilayah tersebut berpotensi mendukung kebutuhan pembangkit listrik di Bali.

Saat ini, sebagian kebutuhan listrik Pulau Dewata masih dipasok melalui jaringan kabel dari Pulau Jawa.

"Kini Bali masih bergantung pada kabel dari Jawa sekitar 270-340 MW," kata Yayan.

Menurutnya, penemuan cadangan gas yang dapat dikembangkan secara komersial berpeluang membantu Bali memperkuat kemandirian pasokan energi selama masa transisi energi.

Meski demikian, manfaat tersebut masih bergantung pada keberhasilan eksplorasi, besarnya cadangan yang ditemukan, serta kelayakan pengembangan proyek.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026