
Pantau - Seorang juru parkir di Bekasi, Jawa Barat, Windu Hadianto (41), mengaku hampir menyerah membiayai pendidikan anak-anaknya karena keterbatasan ekonomi, sebelum tiga dari empat anaknya diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bekasi yang menyediakan pendidikan dan fasilitas asrama secara gratis.
Windu yang sehari-hari bekerja sebagai juru parkir di kawasan Cabe Ijo hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Sebelumnya saya kelimpungan. Buat sehari-hari saja banyak kurangnya. Niatnya malah mau nyerah, paling anak cukup lulus SD saja, karena enggak ketemu biayanya," kata Windu saat menjenguk anak-anaknya di SRT 1 Kabupaten Bekasi, Minggu (18/10/2026).
Kini, ketiga anaknya dapat melanjutkan pendidikan di satu kompleks sekolah yang menyediakan jenjang SD, SMP, dan SMA dengan kebutuhan harian ditanggung negara.
Penghasilan Juru Parkir Tak Cukup untuk Biaya Pendidikan Empat Anak
Windu merupakan warga asal Gabus, Bekasi Utara, yang menggantungkan penghasilan keluarganya dari pekerjaan sebagai juru parkir harian.
Dengan pendapatan yang tidak menentu, ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menyiapkan biaya pendidikan keempat anaknya.
Kondisi tersebut sempat membuat Windu berpikir bahwa anak-anaknya hanya dapat menyelesaikan pendidikan hingga sekolah dasar.
Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan muncul ketika seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mendatangi pos pelayanan terpadu (posyandu) setempat.
Pendamping tersebut memperkenalkan program Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Windu kemudian menyampaikan kesempatan itu kepada anak-anaknya yang menyambut tawaran tersebut dengan antusias.
Tiga Anak Windu Kini Bersekolah Gratis di SRT 1 Bekasi
Tiga anak Windu yang kini bersekolah di SRT 1 Kabupaten Bekasi adalah Desi Winda Narni (13), Muhammad Rizky Langit Ramadan (11), dan Nadia Muharam Lestari (6).
Desi duduk di kelas 7 SMP, Muhammad Rizky berada di kelas 5 SD, sedangkan Nadia baru memasuki jenjang sekolah dasar.
Ketiganya tinggal di asrama dan mendapatkan fasilitas pendidikan serta kebutuhan sehari-hari yang ditanggung melalui program Sekolah Rakyat.
Windu mengaku beban ekonomi keluarganya jauh berkurang setelah ketiga anaknya mendapatkan kesempatan tersebut.
Meski demikian, keterbatasan ekonomi masih dirasakan Windu ketika ingin mengunjungi anak-anaknya di asrama.
Ia bahkan harus menabung selama beberapa hari dari penghasilan parkir untuk menyewa sepeda motor agar dapat datang bersama istrinya.
"Saya gak ada motor. Motor ini sewa, karena baru ada duitnya saya sewa untuk ke sini sekalian ngasih sendal anak saya. Dia mengadu melalui wali asrama sendalnya hilang. Ya, Alhamdulillah plong bener saya, lega banget. Dibawa tiga-tiganya. Saya enggak muluk-muluk, sampai sekolah SMA saja sudah senang banget saya," kata Windu.
Kehidupan Asrama Membuat Anak Lebih Disiplin dan Mandiri
Selain terbantu secara ekonomi, Windu mengaku melihat perubahan perilaku anak-anaknya setelah menjalani pendidikan dengan sistem asrama.
Menurutnya, ketiga anaknya kini lebih disiplin, mandiri, dan terbuka dalam berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai daerah.
Perubahan tersebut juga dirasakan Desi Winda Narni yang kini menjalani pendidikan di kelas 7 SMP.
Desi mengatakan kehidupan asrama membuatnya terbiasa mengurus kebutuhan pribadi, termasuk membersihkan kamar dan mencuci pakaian.
Para siswa juga mendapatkan pendampingan dari wali asrama yang bertugas selama 24 jam.
"Kegiatannya paling bersih-bersih, terus cuci seragam dan sepatu sendiri. Nyuci baju sendiri kadang capek, tapi seru juga jadi ada waktu luang buat berpikir sambil mencuci," tutur Desi.
Selain pembiasaan hidup mandiri, para siswa mengikuti latihan kedisiplinan dan peraturan baris-berbaris yang diberikan mahasiswa kadet Kementerian Pertahanan.
Anak Juru Parkir Bercita-cita Jadi Prajurit TNI
Desi mengaku menikmati kegiatan belajar di Sekolah Rakyat karena memperoleh kesempatan mempelajari berbagai bidang ilmu dan teknologi.
Ia menyebut Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) sebagai salah satu mata pelajaran yang paling disukainya.
Desi juga antusias mengikuti pengenalan pemrograman atau coding dan kecerdasan buatan menggunakan laptop yang disediakan sekolah.
Dalam kehidupan asrama, siswa tidak diperbolehkan membawa telepon seluler secara bebas.
Pihak sekolah menyediakan laptop untuk mendukung pembelajaran, dengan aturan penggunaan yang disesuaikan dengan kegiatan akademik.
"Tidak boleh bawa (ponsel). Kalau mau belajar kami pakai laptop, di kasih, ya. Gak boleh bawa ke kamar juga kecuali ada tugas (pekerjaan rumah/PR). Saya suka, senang sekali, banyak teman di sini," kata Desi.
Desi mengaku memiliki cita-cita menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sementara itu, Windu berharap ketiga anaknya dapat menyelesaikan pendidikan setidaknya hingga jenjang SMA, sebuah harapan yang sebelumnya sulit ia bayangkan karena keterbatasan biaya.
- Penulis :
- Gerry Eka




