HOME  ⁄  Nasional

Kemendes PDT Kembangkan Protein Hewani Lokal, Bekicot Jadi Alternatif Pencegahan Stunting di Daerah Tertinggal

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Kemendes PDT Kembangkan Protein Hewani Lokal, Bekicot Jadi Alternatif Pencegahan Stunting di Daerah Tertinggal
Foto: Direktur Jenderal (Dirjen) Percepetan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Kemendes PDT Samsul Widodo (sumber: ANTARA/Tri Meilani Ameliya)

Pantau - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mengembangkan berbagai sumber protein hewani lokal, termasuk bekicot, sebagai alternatif pemenuhan gizi masyarakat sekaligus upaya mencegah stunting di daerah tertinggal di Indonesia.

Pengembangan sumber pangan lokal tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap protein hewani.

Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PPDT) Kemendes PDT, Samsul Widodo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah langkah untuk memperkenalkan sumber protein alternatif kepada masyarakat.

Salah satu upaya tersebut dilakukan di Kabupaten Sumba Barat dengan mencoba mengolah bekicot menjadi makanan yang diperkenalkan kepada anak-anak sebagai bagian dari program pencegahan stunting.

Hal tersebut disampaikan Samsul saat memberikan pidato kunci dalam Simposium Nasional Inventaris Masalah Kesehatan di Daerah Tertinggal (SINTESA) yang diselenggarakan melalui kolaborasi Kemendes PDT dan Universitas Indonesia (UI), serta diikuti secara daring dari Jakarta pada Selasa.

Bekicot Diperkenalkan sebagai Alternatif Sumber Protein Hewani

Samsul menjelaskan bahwa masyarakat di Sumba Barat secara tradisional tidak terbiasa mengonsumsi bekicot sebagai bahan pangan sehari-hari.

Namun, setelah bekicot diolah menjadi makanan dan diperkenalkan kepada anak-anak, pangan alternatif tersebut ternyata mendapat respons positif.

"Di Sumba Barat, kami untuk pencegahan stunting mencoba mengolah bekicot dan sebagainya. Walaupun secara tradisional mereka tidak makan bekicot, tapi anak-anak suka. Nah, ini yang kami coba kembangkan," ungkap Samsul.

Menurutnya, pengembangan sumber protein lokal menjadi bagian dari pendekatan pemerintah untuk menjawab persoalan ketahanan pangan dan kekurangan gizi di sejumlah daerah tertinggal.

Pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat dinilai dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan akses terhadap sumber protein hewani.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendorong masyarakat mengenali dan memanfaatkan potensi sumber daya pangan lokal yang selama ini belum banyak dikonsumsi.

Pengolahan bekicot di Sumba Barat menjadi salah satu contoh pengembangan bahan pangan alternatif yang disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya di daerah.

Keterbatasan Protein Hewani Jadi Tantangan Pemenuhan Gizi

Samsul menegaskan bahwa persoalan ketahanan pangan di daerah tertinggal tidak cukup diselesaikan hanya dengan memastikan ketersediaan bahan makanan yang menjadi sumber karbohidrat.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat juga harus memperhatikan ketersediaan protein, terutama protein hewani yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan kesehatan.

Keterbatasan akses terhadap sumber protein hewani masih menjadi salah satu tantangan dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di sejumlah wilayah tertinggal.

"Isu terbesarnya adalah protein hewan," tegas Samsul.

Ia menjelaskan bahwa penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan gizi masyarakat.

Oleh karena itu, pengembangan sumber protein hewani lokal menjadi salah satu perhatian Kemendes PDT dalam merancang program pembangunan daerah tertinggal.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh sumber pangan bergizi dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di wilayah masing-masing.

Kemendes PDT Siapkan Kerja Sama dengan IFAD

Untuk memperkuat upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi, Kemendes PDT tengah menyiapkan program pengembangan sistem pangan melalui kerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan kegiatan pertanian sekaligus meningkatkan penyediaan sumber protein hewani bagi masyarakat di daerah tertinggal.

Salah satu kegiatan yang direncanakan adalah pemberian pendampingan kepada masyarakat agar mampu mengembangkan usaha pertanian dan memanfaatkan sumber pangan lokal secara optimal.

Samsul menilai bahwa pengenalan bahan pangan alternatif perlu diikuti dengan peningkatan keterampilan masyarakat dalam mengelola potensi sumber daya yang tersedia.

Pendampingan menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya mengenal sumber pangan baru, tetapi juga mampu mengembangkan kegiatan produksi pangan secara berkelanjutan.

Melalui program tersebut, Kemendes PDT berupaya mendorong masyarakat meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan pertanian dan mengelola sumber protein hewani sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Penguatan sistem pangan juga diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap sumber pangan yang sulit diperoleh di wilayah tertinggal.

Pengembangan Pangan Lokal Dukung Pencegahan Stunting

Kemendes PDT menempatkan pengembangan sumber pangan lokal sebagai salah satu langkah untuk mendukung pencegahan stunting dan meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Upaya tersebut mencakup pengenalan sumber protein alternatif, penguatan kegiatan pertanian, serta pendampingan dalam pemanfaatan sumber daya pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Percobaan pengolahan bekicot di Kabupaten Sumba Barat menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan protein hewani yang sesuai dengan potensi daerah.

Selain memperkenalkan bahan pangan alternatif, Kemendes PDT juga mendorong pengembangan sistem pangan yang dapat mendukung ketersediaan bahan makanan bergizi secara berkelanjutan.

Melalui penguatan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk IFAD dan kalangan akademisi, kementerian berupaya memperluas dukungan terhadap penanganan persoalan ketahanan pangan dan gizi di daerah tertinggal.

Pengembangan sumber protein hewani lokal dan peningkatan kapasitas masyarakat diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting di berbagai wilayah tertinggal di Indonesia.

Penulis :
Leon Weldrick
FLOII 2026