
Pantau - Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi menjelang puncak fenomena El Nino yang diperkirakannya terjadi pada Desember 2026.
Daniel menilai kondisi kebakaran yang masih berlangsung di sejumlah wilayah berpotensi semakin memburuk apabila intensitas panas meningkat hingga akhir tahun.
Ia juga meminta pemerintah mempertimbangkan bantuan dari negara-negara ASEAN untuk memperkuat penanganan karhutla dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan.
Daniel Johan Ingatkan Puncak El Nino Berpotensi Perparah Karhutla
Daniel mengatakan situasi kebakaran hutan dan lahan perlu mendapat perhatian serius karena periode yang diperkirakan menjadi puncak El Nino belum tiba.
Menurutnya, kebakaran yang terus berlangsung dapat meningkatkan emisi karbon dan memperbesar dampak lingkungan.
“Yang menjadi kekhawatiran kita, ini belum puncaknya. Puncaknya itu desember. Masih lama, bahkan kalua misalkan kebakaran semakin jadi, Karbon yang di keluarkan itu semakin banyak, akhirnya memengaruhi anomali cuaca,” katanya kepada Parlementaria, Selasa (20/10/2026).
Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya intensitas kebakaran hingga Desember.
Daniel juga mengingatkan bahwa dampak fenomena El Nino berpotensi berlanjut hingga 2027 apabila kondisi cuaca dan kebakaran tidak segera ditangani.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah kejadian karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi.
Pemerintah Diminta Antisipasi Peningkatan Emisi Karbon
Daniel menyoroti potensi peningkatan emisi karbon apabila kebakaran hutan terus meluas.
Menurutnya, bertambahnya emisi akibat kebakaran dapat memperburuk tekanan terhadap lingkungan dan berkaitan dengan perubahan kondisi cuaca.
Ia meminta pemerintah tidak menunggu hingga situasi semakin parah sebelum memperkuat langkah penanganan.
Antisipasi dinilai penting untuk mengurangi risiko kebakaran yang lebih luas dan dampaknya terhadap masyarakat.
Daniel juga menekankan perlunya perhatian terhadap perkembangan kondisi cuaca hingga akhir 2026.
Daniel Johan Minta Pemerintah Terbuka terhadap Bantuan ASEAN
Selain menyoroti risiko kebakaran, Daniel meminta pemerintah bersikap terbuka terhadap kemungkinan bantuan dari negara-negara anggota ASEAN.
Ia menilai dukungan internasional dapat dipertimbangkan apabila mampu mempercepat penanganan bencana yang berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan.
Menurutnya, penerimaan bantuan dari negara lain tidak perlu dipersoalkan selama pelaksanaannya sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Daniel menyinggung pengalaman penanganan bencana banjir di Sumatra dan Aceh sebagai contoh pentingnya kerja sama dalam proses pemulihan.
"Ya, saya enggak paham, kenapa. Enggak ada yang salah dengan itu. Tuh Aceh sudah membuktikan kok, malah pembangunan kembali Aceh berjalan dengan baik. Dengan waktu yang cukup juga bisa lebih cepat, itu pemerintah menjadi segera jelas," tuturnya.
Ia menilai pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan bentuk kerja sama untuk menangani karhutla.
Bantuan Internasional Dinilai Dapat Perkuat Penanganan Bencana
Daniel menyampaikan bahwa kerja sama internasional dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat kemampuan pemerintah dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Namun, dukungan dari negara lain tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan penanganan di lapangan.
Pelaksanaannya juga harus memperhatikan koordinasi antarlembaga, kewenangan pemerintah, serta mekanisme kerja sama yang berlaku.
Daniel berharap pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif sebelum kondisi karhutla berpotensi memburuk menjelang akhir tahun.
- Penulis :
- Aditya Yohan




