HOME  ⁄  Nasional

Khofifah Perketat Keselamatan Petugas Karhutla di Tahura Raden Soerjo, Lima Relawan Tewas dan 92 Titik Panas Masih Terdeteksi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Khofifah Perketat Keselamatan Petugas Karhutla di Tahura Raden Soerjo, Lima Relawan Tewas dan 92 Titik Panas Masih Terdeteksi
Foto: (Sumber :Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menggelat rapat koordinasi (rakor) penanganan karhutla di posko kebakaran Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. (ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim).)

Pantau - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa keselamatan petugas dan relawan harus menjadi prioritas utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kabupaten Pasuruan, setelah kebakaran di kawasan Gunung Bromo menewaskan lima relawan.

Khofifah meminta seluruh personel yang terlibat dalam operasi pemadaman meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi medan, perkembangan api, dan perubahan arah angin yang dapat membahayakan keselamatan.

Penegasan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Posko Kebakaran Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, sebagaimana dikutip dari keterangan yang diterima di Surabaya, Rabu (21/10/2026).

"Tentu yang harus kita lakukan sekarang kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan," kata Khofifah.

Menurutnya, penanganan kebakaran di kawasan pegunungan membutuhkan koordinasi ketat karena kondisi medan yang terjal dan akses menuju lokasi kebakaran yang terbatas.

Lima Relawan Meninggal Dunia akibat Kebakaran di Kawasan Bromo

Khofifah menyampaikan duka cita atas peristiwa kebakaran di kawasan Gunung Bromo yang mengakibatkan lima relawan meninggal dunia.

Selain lima korban meninggal, satu relawan lainnya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya.

"Kita semua berduka ada enam relawan terdampak lima meninggal dunia, innalilahi wa innailaihi raji'un, per hari ini Dinas Sosial dan BPBD Jatim sudah takziah kelima rumah duka," katanya.

Khofifah memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur menanggung biaya pengobatan korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Ia menjelaskan bahwa angin kencang menjadi salah satu faktor risiko dalam penanganan karhutla karena dapat menyebabkan api bergerak cepat ke lokasi yang sebelumnya tidak terdampak.

"Yang di Bromo itu sesungguhnya mereka tidak di area karhutla, ada karhutla yang anginnya kencang sehingga kecepatan angin itu tidak bisa dimitigasi secara lebih aman," ungkapnya.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian pemerintah provinsi dalam memperkuat prosedur keselamatan bagi seluruh petugas dan relawan yang bertugas di lapangan.

Khofifah Minta Tim Pemadam Perkuat Koordinasi dan Jalur Evakuasi

Khofifah menekankan bahwa operasi pemadaman di kawasan pegunungan harus mempertimbangkan berbagai faktor keselamatan sebelum personel memasuki lokasi kebakaran.

Faktor tersebut meliputi kondisi medan, arah dan kecepatan angin, perkembangan titik api, serta kemampuan akses menuju kawasan terdampak.

Selain itu, kesiapan perlengkapan pelindung diri, komunikasi antartim, jalur evakuasi, dan pemantauan kondisi petugas juga harus menjadi perhatian.

Menurutnya, koordinasi antara petugas kehutanan, relawan, pemerintah desa, dan aparat keamanan diperlukan untuk mengurangi risiko selama operasi berlangsung.

"Koordinasi dengan apakah Manggala Agni ataukah MPA (Masyarakat Peduli Api), ataukah relawan yang lain dengan kepala desa, camat dan semua jajaran TNI Polri yang sudah memiliki pemetaan dengan baik maka bisa melakukan langkah-langkah pengamanan dan pemadaman maupun pembasahan," ujarnya.

Khofifah berharap pemetaan kondisi lapangan dapat menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan langkah pemadaman dan pengamanan yang lebih terkoordinasi.

Sebanyak 493 Personel Gabungan Dikerahkan, 92 Titik Panas Masih Terdeteksi

Berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, sebanyak 493 personel gabungan terlibat dalam penanganan karhutla pada 13–19 Oktober 2026.

Operasi pemadaman tersebut berlangsung di sejumlah wilayah, yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

Personel gabungan terdiri atas polisi kehutanan, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Polri, penyuluh kehutanan, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, dan warga setempat.

Meski upaya pemadaman telah dilakukan, kawasan Tahura Raden Soerjo masih menunjukkan keberadaan sejumlah titik panas.

"Jadi hari ini area Tahura Soerjo ini masih terdeteksi ada 92 hotspot," kata Khofifah.

Keberadaan titik panas tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan pemantauan dan penanganan kebakaran di kawasan hutan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah mengajukan permohonan bantuan helikopter untuk mendukung operasi pemadaman melalui metode pengeboman air atau water bombing.

Kebakaran Rusak Jaringan Air Bersih Sepanjang 10.260 Meter

Selain keselamatan petugas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memprioritaskan perlindungan masyarakat yang tinggal di desa-desa penyangga kawasan Tahura Raden Soerjo.

Kebakaran tersebut berdampak pada jaringan distribusi air bersih sepanjang 10.260 meter di tiga desa wilayah Kabupaten Pasuruan.

Di Desa Tambaksari, jaringan distribusi air yang terdampak mencapai 4.000 meter.

Sementara itu, kerusakan jaringan air di Desa Jatiarjo tercatat sepanjang 3.750 meter dan di Desa Dayurejo sepanjang 2.510 meter.

Khofifah mengatakan Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah melakukan pemetaan terhadap jaringan pipa yang terdampak kebakaran.

Pemerintah kabupaten juga merencanakan pengeboran sumur untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari penanganan dampak karhutla terhadap fasilitas dasar yang digunakan warga di sekitar kawasan hutan.

Tahura Raden Soerjo Miliki 57 Desa Penyangga dan Berperan Menjaga Sumber Air

Khofifah turut mengingatkan pentingnya menjaga vegetasi di sekitar mata air dan daerah tangkapan air untuk mempertahankan fungsi lingkungan kawasan hutan.

Tahura Raden Soerjo memiliki luas sekitar 27.868,30 hektare yang membentang di enam kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Kawasan konservasi tersebut juga memiliki 57 desa penyangga yang berkaitan dengan keberadaan dan fungsi ekosistem hutan.

Selain menjadi habitat keanekaragaman hayati, Tahura Raden Soerjo memiliki peran dalam penyimpanan karbon dan perlindungan sumber daya air.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menempatkan keselamatan personel, pengendalian kebakaran, perlindungan masyarakat, serta pemulihan akses air bersih sebagai perhatian dalam penanganan karhutla di kawasan tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026