
Pantau - Sebanyak 350 petugas gabungan masih berupaya memadamkan kebakaran hutan yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, dengan sedikitnya empat titik api dilaporkan berada di dua wilayah resor pengelolaan taman nasional tersebut.
Ratusan personel yang terlibat dalam operasi pemadaman berasal dari unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Polisi Kehutanan (Polhut), serta Brigade Manggala Agni.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Timur, Muhammad Ridwan, mengatakan kebakaran masih terjadi di sejumlah bagian kawasan hutan sehingga petugas gabungan terus melakukan pemadaman.
"Rabu ini masih ada yang terbakar, dan sedang dilakukan pemadaman oleh petugas gabungan," kata Ridwan saat ditemui di Kantor BPBD Lampung Timur, Kamis (22/10).
BPBD Lampung Timur turut mendukung operasi pemadaman dengan menyediakan kebutuhan logistik dan peralatan bagi personel yang bekerja di lapangan.
Bantuan tersebut meliputi makanan, tandon air portabel, serta selang air untuk menunjang proses pemadaman kebakaran hutan.
Empat Titik Api Terdeteksi di Dua Resor Taman Nasional Way Kambas
Ridwan menjelaskan bahwa kebakaran hutan terjadi di dua wilayah pengelolaan Taman Nasional Way Kambas, yakni Resor Toto Projo dan Resor Cabang.
Resor Toto Projo berada di Kabupaten Lampung Timur, sedangkan Resor Cabang terletak di kawasan perbatasan Kabupaten Lampung Timur dengan Kabupaten Lampung Tengah.
Berdasarkan keterangan BPBD Lampung Timur, terdapat satu titik api di Resor Toto Projo yang menjadi salah satu lokasi penanganan petugas gabungan.
Upaya pemadaman di wilayah tersebut mulai menunjukkan perkembangan setelah sebagian kebakaran berhasil dikendalikan.
Meski demikian, kebakaran di Toto Projo belum sepenuhnya selesai karena masih terdapat api yang kembali muncul.
"Alhamdulillah untuk di Toto Projo sudah mulai bisa dipadamkan, walaupun masih ada kebakaran lagi," ujar Ridwan.
Sementara itu, tiga titik api lainnya berada di Resor Cabang dan masih menjadi fokus operasi pemadaman.
Lokasi kebakaran di Resor Cabang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi karena berada jauh di dalam kawasan hutan dengan akses yang terbatas.
Petugas Harus Lewati Sungai dan Berjalan Kaki untuk Jangkau Titik Api
Ridwan mengungkapkan bahwa Resor Cabang menjadi lokasi paling sulit dalam operasi pemadaman kebakaran Taman Nasional Way Kambas.
Untuk mencapai tiga titik api di wilayah tersebut, petugas harus terlebih dahulu menempuh perjalanan melalui jalur Sungai Cabang.
Setelah melewati jalur sungai, personel masih harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk mencapai lokasi kebakaran.
Kondisi tersebut menyulitkan proses pengangkutan personel dan peralatan karena titik api tidak dapat dijangkau secara langsung melalui jalur darat biasa.
Selain akses yang terbatas, lokasi kebakaran berada di bagian tengah kawasan hutan dengan vegetasi yang masih rapat.
Kerapatan vegetasi dan posisi titik api yang jauh dari jalur akses menjadi kendala tambahan bagi petugas dalam melakukan pemadaman.
"Yang paling berat lokasinya berada di Resor Cabang. Karena area hutan yang terbakar berada di tengah, dan masih rapat vegetasi hutannya," jelas Ridwan.
Medan yang sulit membuat operasi pemadaman membutuhkan upaya lebih besar, terutama dalam menjangkau titik api dan membawa perlengkapan yang diperlukan.
Sumber Air Berjarak hingga Tiga Kilometer dari Lokasi Kebakaran
Selain menghadapi medan berat, petugas gabungan juga mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk memadamkan kebakaran.
Ridwan menjelaskan bahwa sumber air terdekat yang dapat dimanfaatkan berasal dari Sungai Way Pegadungan.
Namun, jarak antara sumber air tersebut dengan lokasi kebakaran mencapai sekitar 1,5 kilometer hingga 3 kilometer.
Jarak yang cukup jauh menjadi tantangan dalam menyediakan air, terutama karena lokasi kebakaran berada di tengah kawasan hutan dengan akses terbatas.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, petugas sedang mengupayakan pembangunan sumur bor di dekat lokasi kebakaran.
Pembuatan sumur bor diharapkan dapat menyediakan sumber air yang lebih dekat dengan titik api sehingga mempermudah proses pemadaman.
"Tapi sekarang sedang dibuatkan sumur bor di dekat lokasi kebakaran," kata Ridwan.
Keberadaan sumber air yang lebih dekat diharapkan dapat membantu petugas dalam menjaga ketersediaan pasokan air selama operasi berlangsung.
Petugas Gunakan Pengeboman Air untuk Bantu Pemadaman
Selain melakukan pemadaman secara langsung melalui jalur darat, petugas gabungan juga menggunakan metode pengeboman air atau water bombing untuk membantu mengendalikan kebakaran.
Metode tersebut dilakukan melalui udara sebagai pelengkap operasi pemadaman yang dilaksanakan personel di lapangan.
Penggunaan pemadaman melalui darat dan udara menjadi bagian dari upaya penanganan kebakaran, terutama karena sejumlah titik api berada di kawasan yang sulit dijangkau.
Sementara itu, BPBD Lampung Timur terus memberikan dukungan logistik dan peralatan untuk membantu kebutuhan personel selama menjalankan operasi.
Berdasarkan informasi BPBD, sedikitnya empat titik api masih menjadi perhatian petugas, masing-masing satu titik di Resor Toto Projo dan tiga titik di Resor Cabang.
Dari kedua lokasi tersebut, Resor Cabang menjadi wilayah dengan tantangan pemadaman paling berat akibat akses yang terbatas, vegetasi rapat, serta jarak sumber air yang cukup jauh.
Hingga keterangan tersebut disampaikan, operasi pemadaman masih berlangsung dengan melibatkan 350 personel gabungan dari berbagai unsur.
Petugas terus berupaya mengendalikan titik api melalui pemadaman darat, penggunaan water bombing, serta pembuatan sumur bor di dekat kawasan kebakaran.
Sementara itu, waktu penyelesaian operasi pemadaman dan luas keseluruhan kawasan hutan yang terbakar belum dijelaskan dalam keterangan BPBD Lampung Timur.
- Penulis :
- Arian Mesa




