HOME  ⁄  Nasional

Gubernur Ahmad Lutfhi Ajak Santri Jadi Penggerak Ekonomi dan Bantu Tekan Kemiskinan di Jawa Tengah

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Gubernur Ahmad Lutfhi Ajak Santri Jadi Penggerak Ekonomi dan Bantu Tekan Kemiskinan di Jawa Tengah
Foto: Gubernur Jateng Ahmad Lutfhi bersama ulama pada acara Hari Santri Nasional di Tegal, Kamis 22/10/2026 (sumber: Humas Pemprov Jateng)

Pantau - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mengajak para santri mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah melalui pengembangan kewirausahaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan upaya pengentasan kemiskinan yang saat ini masih mencapai 9,21 persen atau sekitar 3,6 juta jiwa.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Lutfhi, menegaskan bahwa santri memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan, mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi, terutama melalui kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Para santri harus mampu menjadi benteng terakhir dan garda terdepan dalam membangun daerahnya mulai dari kabupaten hingga provinsi. Dengan cara apa? Menyejahterakan masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan," ujar Ahmad Lutfhi dalam keterangannya di Tegal, Kamis.

Menurutnya, pengentasan kemiskinan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan keagamaan dan komunitas pondok pesantren.

Keberadaan ratusan ribu santri yang tersebar di ribuan pondok pesantren di Jawa Tengah dinilai menjadi potensi besar untuk memperkuat perekonomian daerah sekaligus mendorong kemandirian masyarakat.

Pemprov Jateng pun berupaya mendorong lahirnya lebih banyak santri yang memiliki keterampilan berwirausaha, mandiri secara ekonomi, serta mampu menciptakan kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Pemprov Jateng Jalankan Program Pesantren Obah untuk Dorong Kemandirian Santri

Sebagai langkah konkret memperkuat peran pesantren dalam pembangunan daerah, Pemprov Jateng menjalankan program Pesantren Obah dengan melibatkan Kementerian Agama serta sejumlah pihak terkait.

"Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov Jateng menjalankan program Pesantren Obah dengan melibatkan Kementerian Agama dan berbagai pihak terkait," jelas Ahmad Lutfhi.

Program Pesantren Obah mencakup berbagai bentuk dukungan, mulai dari pemberian beasiswa pendidikan, bantuan kepada pondok pesantren, pengembangan usaha santri, hingga pemberian insentif bagi guru madrasah diniyah (madin).

Melalui program tersebut, pemerintah provinsi berupaya meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan sekaligus memperkuat keterampilan ekonomi dan kewirausahaan para santri.

Pengembangan usaha santri menjadi salah satu perhatian pemerintah agar lingkungan pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu mendorong kegiatan ekonomi produktif di masyarakat.

Sebanyak 488 Santri Terima Beasiswa, 58 Orang Dapat Kesempatan Kuliah ke Luar Negeri

Dalam bidang pendidikan, Pemprov Jateng telah menyalurkan beasiswa kepada 488 santri, termasuk santri penggerak, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

Selain bantuan pendidikan di dalam negeri, pemerintah provinsi juga memberikan kesempatan kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, termasuk ke Yaman, Mesir, dan sejumlah negara lainnya.

"Provinsi Jawa Tengah telah memberikan beasiswa kepada 488 santri termasuk santri penggerak. Kita juga memberikan beasiswa kepada santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Yaman, Mesir, dan negara lainnya sebanyak 58 santri," ungkap Ahmad Lutfhi.

Sebanyak 58 santri tersebut mendapatkan dukungan beasiswa pendidikan luar negeri sebagai bagian dari upaya pengembangan kapasitas dan peningkatan kualitas pendidikan santri Jawa Tengah.

Di samping pemberian beasiswa, Pemprov Jateng juga melanjutkan program insentif bagi guru agama untuk mendukung keberlangsungan pendidikan keagamaan di masyarakat.

Pada 2025, program insentif guru agama tersebut menjangkau 230.830 penerima dengan total alokasi anggaran mencapai sekitar Rp277 miliar.

Bantuan tersebut menjadi bagian dari kebijakan pemerintah provinsi dalam memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus memberikan dukungan kepada tenaga pendidik yang berperan dalam pembinaan masyarakat.

Gubernur Minta Santri Jadi Penyejuk dan Jaga Stabilitas Daerah

Selain berperan dalam pembangunan ekonomi dan pendidikan, Ahmad Lutfhi mengingatkan bahwa santri juga memiliki tanggung jawab sosial dalam menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat.

Dalam kegiatan Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN), ia menekankan bahwa kondisi daerah yang aman dan stabil merupakan salah satu faktor penting bagi keberhasilan pembangunan.

Menurutnya, ketidakpastian situasi geopolitik global menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui penguatan persatuan dan stabilitas sosial di tingkat daerah.

Ahmad Lutfhi menilai komunitas pesantren memiliki kekuatan sosial yang dapat membantu menjaga suasana kondusif sekaligus meredam potensi ketegangan di tengah masyarakat.

"Stabilitas daerah menjadi salah satu syarat penting bagi keberhasilan pembangunan terlebih di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu. Potensi ini harus kita kelola dan kita gandeng untuk menjadi cooling system, atau penyejuk di tengah masyarakat," tegasnya.

Ia berharap santri dapat menjalankan peran sebagai unsur penyejuk atau cooling system dalam kehidupan sosial sehingga keamanan dan stabilitas daerah tetap terjaga.

Melalui program Pesantren Obah, pemberian beasiswa, pengembangan kewirausahaan, bantuan pesantren, dan insentif guru agama, Pemprov Jateng berupaya memperkuat kontribusi komunitas pesantren terhadap pembangunan daerah.

Kolaborasi antara pemerintah, pondok pesantren, dan para santri diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membantu menekan angka kemiskinan, serta menjaga stabilitas sosial di Jawa Tengah.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026