
Pantau - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor mengungkapkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit semakin pekat dalam tiga hari terakhir akibat munculnya titik api baru, kiriman asap dari wilayah lain, serta kondisi lahan gambut yang masih terbakar.
Penebalan kabut asap terutama terjadi di kawasan perkotaan, termasuk Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, sehingga mengganggu jarak pandang dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
“Jadi, kita melihat kondisi tiga hari terakhir ini memang sepertinya asap agak menebal, lebih pekat, khususnya di daerah perkotaan, Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang,” kata Halikinnor saat meninjau lokasi karhutla di Jalan Pramuka Gang Sahabat, Sampit, Jumat (23/10/2026).
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur terus memantau perkembangan kebakaran karena sejumlah titik api masih ditemukan meskipun upaya pemadaman telah dilakukan.
Kabut Asap Pekat, Jarak Pandang di Sampit Hanya Lima Meter
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur pada Jumat pukul 07.00 WIB, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar lima meter.
Pada waktu yang sama, kecepatan angin tercatat nol kilometer per jam.
Kondisi tersebut menunjukkan gangguan jarak pandang yang sangat serius akibat pekatnya kabut asap di wilayah Sampit.
Penurunan jarak pandang menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Pada Kamis (22/10/2026), sejumlah kecelakaan lalu lintas dilaporkan terjadi di wilayah tersebut, bahkan mengakibatkan korban jiwa.
Gangguan jarak pandang akibat kabut asap diduga menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kecelakaan tersebut.
Bupati Kotim Jelaskan Pengaruh Hujan dan Kebakaran Gambut
Halikinnor menjelaskan bahwa penebalan kabut asap tidak hanya disebabkan kemunculan titik api baru, tetapi juga dipengaruhi karakteristik lahan gambut di Kotawaringin Timur.
Menurutnya, hujan ringan yang turun setelah pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) diduga turut memengaruhi kemunculan asap dari lapisan gambut.
“Mungkin OMC berpengaruh juga, sehingga dengan terkena hujan yang tidak begitu lebat itu, karena kita daerah gambut, begitu ada air ada hujan sedikit asapnya keluar,” ujarnya.
Ia menerangkan bahwa kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran di lahan biasa karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
Kondisi tersebut menyebabkan asap masih dapat keluar meskipun permukaan lahan telah terkena air hujan.
Hujan dengan intensitas ringan dinilai belum cukup untuk memadamkan bara api yang berada di lapisan gambut lebih dalam.
Titik Api Baru Muncul di Kawasan Perkotaan
Selain kondisi lahan gambut, Halikinnor menyebut adanya kebakaran baru di kawasan perkotaan yang turut memperburuk kabut asap.
Padahal, sejumlah lokasi kebakaran sebelumnya telah berhasil dipadamkan oleh petugas.
Sebagian titik kebakaran lainnya masih menjalani proses pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.
Asap yang terbawa angin dari wilayah lain juga disebut sebagai salah satu faktor yang memengaruhi kondisi udara di Kotawaringin Timur.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama pada lahan gambut yang masih menyimpan bara api di bawah permukaan.
Pemadaman Karhutla Dilakukan dengan Metode Suntik Gambut
Dalam peninjauan di Jalan Pramuka Gang Sahabat, Sampit, Halikinnor turut mempraktikkan penggunaan metode suntik gambut untuk menangani kebakaran lahan.
Metode tersebut digunakan untuk menyalurkan air ke lapisan gambut sehingga membantu proses pemadaman api yang berada di bawah permukaan tanah.
Penanganan kebakaran pada lapisan gambut menjadi penting karena bara api yang belum sepenuhnya padam berpotensi terus menghasilkan asap.
Pemerintah daerah masih menghadapi tantangan berupa munculnya titik kebakaran baru dan proses pendinginan lahan yang membutuhkan penanganan lanjutan.
- Penulis :
- Aditya Yohan




