
Pantau - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mendorong seluruh perguruan tinggi di Indonesia melakukan asesmen kebutuhan untuk mewujudkan kampus ramah disabilitas dan menciptakan sistem pendidikan tinggi yang lebih inklusif.
Stella menegaskan bahwa penyediaan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas tidak hanya bertujuan memenuhi hak dan kebutuhan individu, tetapi juga membuka kesempatan agar potensi serta pemikiran mereka dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
"Kesempatan dan akses bagi penyandang disabilitas bukanlah kebutuhan penyandang disabilitas semata. Dunia juga membutuhkan akses tersebut agar potensi dan pemikiran mereka dapat berkembang," kata Stella dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Menurut Stella, aksesibilitas di lingkungan perguruan tinggi menjadi faktor penting untuk memastikan setiap individu memperoleh kesempatan yang setara dalam mengembangkan kemampuan tanpa terhambat kondisi disabilitas.
Ia menilai fasilitas dan lingkungan pendidikan yang inklusif dapat membuka peluang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berkontribusi dalam kegiatan akademik, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Stella Christie Jadikan Stephen Hawking Contoh Pentingnya Kampus Inklusif
Stella menyinggung sosok ilmuwan Stephen Hawking sebagai contoh bahwa kondisi disabilitas tidak menghalangi seseorang untuk menghasilkan pemikiran dan karya ilmiah yang memberikan kontribusi besar bagi dunia.
Menurutnya, keberhasilan Stephen Hawking dalam mengembangkan berbagai teori mengenai alam semesta menunjukkan pentingnya dukungan fasilitas pendidikan yang mampu mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas.
"Jika Cambridge University tidak menyediakan fasilitas yang diperlukan Stephen Hawking, dunia bisa kehilangan pemikiran penting tentang alam semesta. Karena itu, aksesibilitas merupakan investasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan," ujar Stella.
Stella menekankan bahwa penyediaan fasilitas ramah disabilitas tidak seharusnya hanya dipandang sebagai upaya memenuhi kebutuhan individu, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Ia menjelaskan bahwa kesempatan pendidikan yang terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat dapat membantu mengoptimalkan potensi sumber daya manusia yang sebelumnya menghadapi hambatan aksesibilitas.
Selain mendukung kemajuan ilmu pengetahuan, Stella menilai pendidikan tinggi yang inklusif juga memiliki hubungan erat dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional.
Menurutnya, kualitas SDM merupakan salah satu faktor utama yang menentukan kemampuan suatu negara dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.
"Perkembangan ekonomi hanya bisa dicapai melalui kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Investasi terhadap sumber daya manusia menjadi penting bagi kemajuan suatu negara," ucap Stella.
Oleh karena itu, investasi dalam pengembangan SDM perlu dilakukan secara inklusif agar seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Perguruan Tinggi Diminta Lakukan Asesmen Kebutuhan Mahasiswa Disabilitas
Dalam upaya mewujudkan kampus yang lebih inklusif, Stella meminta perguruan tinggi melakukan asesmen secara menyeluruh untuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas.
Asesmen tersebut diperlukan agar setiap institusi pendidikan tinggi dapat mengetahui kebutuhan nyata mahasiswa, baik yang berkaitan dengan fasilitas fisik, akses informasi, maupun dukungan dalam kegiatan pembelajaran.
Stella menjelaskan bahwa kebutuhan dan hambatan yang ditemukan harus dipetakan serta diukur secara jelas agar perguruan tinggi dapat menentukan prioritas penanganan yang sesuai.
Melalui pemetaan kebutuhan yang terukur, pihak kampus diharapkan mampu menyusun langkah konkret untuk menyediakan fasilitas dan layanan pendidikan yang dapat diakses oleh mahasiswa dengan kondisi disabilitas berbeda.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan hasil asesmen sebagai dasar dalam menentukan bentuk dukungan yang benar-benar diperlukan mahasiswa.
"Permasalahan dan kebutuhan penyandang disabilitas perlu dikuantifikasikan. Jika kebutuhannya dirumuskan secara tepat, akan lebih mudah menentukan dukungan nyata yang diperlukan," demikian Stella Christie.
Menurutnya, identifikasi kebutuhan yang tepat akan membantu perguruan tinggi menentukan kebijakan dan penyediaan fasilitas secara lebih terarah.
Akses Informasi Kampus Harus Ramah bagi Seluruh Mahasiswa
Salah satu aspek yang menjadi perhatian Stella dalam mewujudkan kampus ramah disabilitas adalah aksesibilitas penyampaian informasi di lingkungan perguruan tinggi.
Ia berharap kampus tidak hanya mengandalkan penyampaian informasi melalui suara, tetapi juga menyediakan informasi dalam bentuk tulisan serta metode komunikasi lain yang dapat diakses mahasiswa dengan kebutuhan berbeda.
Penyediaan berbagai bentuk komunikasi tersebut dinilai penting agar mahasiswa penyandang disabilitas tidak mengalami hambatan dalam memperoleh informasi mengenai kegiatan akademik maupun aktivitas kampus.
Dengan sistem penyampaian informasi yang lebih inklusif, perguruan tinggi diharapkan mampu memastikan seluruh mahasiswa mendapatkan kesempatan yang setara untuk mengikuti proses pendidikan.
Stella menekankan bahwa penyediaan fasilitas dan layanan pendidikan harus didasarkan pada kebutuhan yang telah diidentifikasi agar dukungan yang diberikan sesuai dengan kondisi mahasiswa.
Melalui asesmen kebutuhan, pemetaan hambatan, serta peningkatan aksesibilitas fasilitas dan informasi, perguruan tinggi diharapkan dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas.
Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan tinggi, dan membuka peluang kontribusi penyandang disabilitas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan Indonesia.
- Penulis :
- Shila Glorya




