
Pantau - Pemerintah Amerika Serikat memberikan hibah sebesar 227.000 dolar AS atau sekitar Rp4 miliar kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia untuk mendukung pelestarian bangkai kapal perang USS Houston di Teluk Banten, Provinsi Banten.
Hibah tersebut akan digunakan untuk menjalankan program perlindungan situs bersejarah peninggalan Perang Dunia II yang memiliki nilai penting bagi Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia.
Program bertajuk Protection of the World War II Shipwreck Site of the USS Houston atau Perlindungan Situs Bangkai Kapal USS Houston dari Perang Dunia II itu akan berlangsung selama 24 bulan, mulai akhir 2026 hingga pertengahan 2028.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan perlindungan warisan budaya bawah air membutuhkan kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas internasional, dan masyarakat pesisir.
"Pelestarian warisan budaya bawah air membutuhkan kolaborasi lintas negara, dukungan ilmu pengetahuan, dan keterlibatan aktif masyarakat pesisir," kata Trenggono dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Menurut Trenggono, pelestarian bangkai kapal USS Houston merupakan bagian dari tanggung jawab Indonesia dalam menjaga warisan budaya bawah air yang berada di wilayah perairan nasional.
Hibah Rp4 Miliar Difokuskan untuk Perlindungan Bangkai USS Houston
Program pelestarian USS Houston yang didukung Pemerintah Amerika Serikat memiliki tiga fokus utama untuk mencegah kerusakan situs bersejarah di Teluk Banten.
Fokus pertama adalah memperkuat pengawasan berbasis masyarakat dengan melibatkan warga pesisir dalam kegiatan pemantauan kondisi bangkai kapal.
Fokus kedua adalah mencegah pengambilan material atau bagian kapal secara ilegal yang berpotensi merusak keutuhan situs peninggalan Perang Dunia II tersebut.
Sementara itu, fokus ketiga diarahkan untuk melindungi struktur bangkai kapal dari aktivitas penangkapan ikan yang berisiko menimbulkan kerusakan.
KKP sebelumnya telah melakukan survei terhadap kondisi situs USS Houston pada 2015 dan 2018 untuk mengidentifikasi berbagai ancaman terhadap kelestariannya.
Hasil survei menunjukkan adanya sejumlah ancaman, termasuk jaring nelayan yang tersangkut pada bagian bangkai kapal dan sampah laut yang berada di sekitar lokasi.
Selain itu, aktivitas manusia dan kegiatan penangkapan ikan di kawasan tersebut juga berpotensi mengganggu kondisi struktur bangkai kapal.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar perlunya penguatan pengawasan dan perlindungan situs melalui kerja sama pemerintah dan masyarakat pesisir.
KKP Bentuk Tiga Kelompok Pengawas di Wilayah Pesisir Banten
Untuk memperkuat perlindungan bangkai kapal USS Houston, KKP akan membentuk dan melatih tiga kelompok masyarakat pengawas (pokmaswas) di wilayah pesisir Provinsi Banten.
Ketiga kelompok tersebut akan dibentuk di Pulau Panjang, Karangantu, dan Bojonegara yang berada di sekitar kawasan perairan Teluk Banten.
Pembentukan pokmaswas bertujuan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga situs bersejarah sekaligus membantu mendeteksi aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa program perlindungan USS Houston akan dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan pengawasan dan edukasi.
Kegiatan tersebut mencakup pelatihan kelompok masyarakat pengawas, penyusunan mekanisme pelaporan, serta pemantauan berkala terhadap kondisi bangkai kapal.
Selain pengawasan langsung, KKP juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya bawah air.
Program tersebut turut mencakup penyelenggaraan pameran sejarah USS Houston dan penyebarluasan informasi melalui berbagai kanal digital.
Menurut I Nyoman Radiarta, pengawasan berbasis masyarakat diharapkan dapat melengkapi upaya penegakan hukum yang dilakukan instansi berwenang dalam melindungi situs warisan budaya bawah air.
Keterlibatan masyarakat pesisir juga diharapkan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga peninggalan sejarah maritim yang berada di perairan Indonesia.
Sejarah USS Houston yang Tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda 1942
USS Houston merupakan kapal penjelajah berat milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang tenggelam dalam pertempuran laut pada masa Perang Dunia II.
Kapal perang tersebut tenggelam bersama HMAS Perth, kapal perang milik Australia, dalam Pertempuran Selat Sunda yang berlangsung pada 28 Februari hingga 1 Maret 1942.
Pertempuran tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Perang Dunia II di kawasan perairan Indonesia.
Tenggelamnya USS Houston dan HMAS Perth meninggalkan situs bangkai kapal yang hingga kini menjadi bagian dari warisan sejarah maritim internasional.
Kedua bangkai kapal tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah sebagai peninggalan perang, tetapi juga berstatus sebagai makam perang yang berkaitan dengan para personel militer yang gugur dalam pertempuran.
Karena status dan nilai sejarahnya, perlindungan kedua situs memiliki arti penting bagi Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia.
Keberadaan bangkai kapal tersebut juga menjadi pengingat sejarah pertempuran laut yang berlangsung di kawasan Selat Sunda pada masa Perang Dunia II.
Program Pelestarian USS Houston Berlangsung hingga Pertengahan 2028
Melalui hibah sekitar Rp4 miliar dari Pemerintah Amerika Serikat, KKP akan menggabungkan kegiatan pengawasan masyarakat, edukasi, dan pencegahan kerusakan dalam program perlindungan USS Houston.
Program yang berlangsung selama 24 bulan tersebut direncanakan dimulai pada akhir 2026 dan berlanjut hingga pertengahan 2028.
Selama pelaksanaan program, kelompok masyarakat pengawas akan dilibatkan dalam pemantauan kondisi situs serta pelaporan aktivitas yang berpotensi mengancam kelestarian bangkai kapal.
Kegiatan edukasi dan pameran juga akan digunakan untuk memperkenalkan sejarah USS Houston kepada masyarakat sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya perlindungan warisan budaya bawah air.
KKP berharap kerja sama lintas negara dan keterlibatan masyarakat pesisir dapat membantu menjaga kondisi bangkai USS Houston dari ancaman pengambilan material ilegal, sampah laut, serta aktivitas penangkapan ikan.
Program tersebut diharapkan dapat mempertahankan nilai sejarah USS Houston sebagai warisan budaya bawah air dan makam perang bagi generasi mendatang.
- Penulis :
- Leon Weldrick




