
Pantau - RSUD Prof Dr Margono Soekarjo (RSMS) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi digital Bakul Jamu untuk menekan pemborosan anggaran akibat pengadaan bahan medis habis pakai yang tidak sesuai kebutuhan rumah sakit.
Kepala Bidang Penunjang Medis RSMS Purwokerto Nanik Harjanti mengatakan inovasi tersebut dirancang untuk memastikan kualitas dan kesesuaian bahan medis sebelum dilakukan pengadaan.
“Bakul Jamu merupakan akronim dari Bahan dan Alat Kesehatan Uji Logistik Jamin Akurasi dan Mutu Uji,” kata Nanik di Purwokerto, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, sebelum inovasi tersebut digunakan, anggaran untuk barang yang tidak terpakai diperkirakan mencapai sekitar 20 persen.
Angka tersebut mulai menurun setelah rumah sakit menerapkan langkah efisiensi, meskipun target pengurangan barang kedaluwarsa hingga mendekati nol belum tercapai.
Bakul Jamu Integrasikan Pengujian Bahan Medis Secara Digital
Nanik menjelaskan bahwa Bakul Jamu merupakan platform digital yang mengintegrasikan seluruh proses pengujian bahan medis habis pakai (BHP).
Sistem tersebut mencakup pengajuan produk, seleksi, pelaksanaan uji coba, evaluasi, hingga penerbitan rekomendasi penggunaan.
Sebelumnya, pengelolaan uji coba bahan medis di RSMS Purwokerto masih dilakukan secara manual.
Kondisi tersebut menyebabkan pemantauan dan pelaporan hasil evaluasi belum berjalan optimal.
Menurut Nanik, sistem manual juga berpotensi menimbulkan ketidakjelasan mengenai status kelayakan produk bagi penyedia maupun unit pengguna di rumah sakit.
“Melalui Bakul Jamu, setiap permohonan uji coba harus tercatat dalam sistem, mulai dari pengajuan penyedia, proses seleksi oleh tim terkait, pelaksanaan uji coba, evaluasi, hingga penerbitan rekomendasi,” katanya.
Dengan pencatatan digital, setiap tahapan pengujian dapat dipantau sebelum rumah sakit memutuskan pengadaan produk.
Pengadaan Alat Medis Harus Melalui Seleksi dan Uji Coba
Nanik menjelaskan bahwa proses pengujian melalui Bakul Jamu dimulai ketika penyedia mengajukan permohonan kepada direktur rumah sakit.
Setelah permohonan disetujui, tim pengelola bahan medis habis pakai melakukan seleksi produk berdasarkan kriteria dan standar operasional prosedur (SOP).
Produk yang memenuhi persyaratan kemudian dapat mengikuti proses uji coba.
Hasil pengujian menjadi dasar evaluasi untuk menentukan kelayakan penggunaan bahan medis di rumah sakit.
Produk yang telah melalui uji coba dan memperoleh rekomendasi dapat dipertimbangkan untuk proses pengadaan.
Melalui mekanisme tersebut, RSMS Purwokerto berupaya mengendalikan jenis, jumlah, dan mutu bahan medis yang digunakan dalam pelayanan kesehatan.
Barang Tidak Sesuai Berisiko Menumpuk hingga Kedaluwarsa
Nanik mengatakan ketidaksesuaian spesifikasi bahan medis dapat menyebabkan produk tidak digunakan oleh tenaga kesehatan.
Beberapa contoh bahan medis yang memerlukan pengujian mutu adalah alat suntik, selang infus, dan kateter.
Menurutnya, kualitas produk harus dipastikan karena ketidaksesuaian spesifikasi dapat mengganggu pelayanan sekaligus meningkatkan risiko bagi pasien.
"Kalau barang yang sudah dibeli ternyata tidak sesuai, pengguna biasanya tidak mau memakainya. Akibatnya, barang menumpuk di gudang hingga kedaluwarsa dan menjadi kerugian bagi rumah sakit," katanya menjelaskan.
Nanik menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu alasan rumah sakit memperkuat proses evaluasi sebelum pengadaan dilakukan.
Sebelum penerapan Bakul Jamu, persentase anggaran untuk barang yang tidak terpakai diperkirakan mencapai sekitar 20 persen.
Ia mengatakan angka pemborosan tersebut mulai menurun seiring pelaksanaan langkah efisiensi, tetapi belum menyampaikan besaran penurunan secara terperinci.
RSMS Targetkan Barang Kedaluwarsa Mendekati Nol
RSMS Purwokerto menargetkan pengurangan jumlah bahan medis yang kedaluwarsa hingga mendekati nol.
Untuk mendukung target tersebut, Bakul Jamu dilengkapi dasbor interaktif yang menampilkan informasi mengenai proses pengujian produk.
Informasi yang tersedia meliputi identitas produk, jumlah sampel, unit sasaran, status pelaksanaan, dan hasil rekomendasi.
Fitur tersebut memungkinkan pengelola rumah sakit memantau perkembangan pengujian bahan medis dalam satu sistem.
Nanik berharap mekanisme pengujian yang lebih terstruktur dapat membantu rumah sakit menghindari pembelian barang yang tidak sesuai kebutuhan.
Melalui inovasi Bakul Jamu, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut berupaya meningkatkan ketepatan pengadaan bahan medis sekaligus mengurangi kerugian akibat penumpukan barang yang tidak terpakai.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




