HOME  ⁄  Nasional

Direktur Kebudayaan UI Ingatkan Mahasiswa Tak Hanya Andalkan Kecerdasan Akademik di Era AI

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Direktur Kebudayaan UI Ingatkan Mahasiswa Tak Hanya Andalkan Kecerdasan Akademik di Era AI
Foto: Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia (UI), Dr. Zastrow Al Ngatawi, S.Ag., M.Si., saat Kuliah Kebudayaan bagi Mahasiswa Berprestasi di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa, bertajuk “Mengasah Nalar, Rasa, dan Adab” (sumber: ANTARA FOTO/Taufan Fadlan)

Pantau - Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia (UI), Dr. Zastrow Al Ngatawi, S.Ag., M.Si., mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengandalkan kecerdasan akademik, tetapi juga memperkuat kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Zastrow menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, serta pembentukan karakter agar mahasiswa mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

“Kolaborasi tim dan kepedulian sosial merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh teknologi AI,” kata Zastrow dalam Kuliah Kebudayaan bagi Mahasiswa Berprestasi di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa.

Kegiatan bertema “Mengasah Nalar, Rasa, dan Adab” tersebut menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan intelektual, kepekaan sosial, dan pembentukan karakter mahasiswa di tengah perkembangan digitalisasi.

Mahasiswa Diminta Perkuat Kecerdasan Sosial dan Nilai Kemanusiaan

Dalam pemaparannya, Zastrow menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda seiring semakin pesatnya digitalisasi dan penggunaan teknologi AI dalam berbagai bidang kehidupan.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik yang unggul, tetapi juga harus mampu membangun hubungan sosial, bekerja sama, serta menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Ia menilai keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial menjadi faktor penting agar perkembangan teknologi tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.

Zastrow juga menyebut mahasiswa UIN Mataram memiliki modal sosial yang dapat dikembangkan untuk menghadapi tantangan teknologi, terutama melalui kultur pesantren dan penerapan nilai-nilai moderasi Islam.

Nilai-nilai tersebut mencakup tawasuth atau sikap moderat, tasamuh atau toleransi, i'tidal atau keadilan, serta tawazun atau keseimbangan.

Menurut Zastrow, prinsip-prinsip tersebut dapat menjadi landasan bagi mahasiswa untuk memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijaksana sekaligus mempertahankan kepedulian sosial dan keluhuran budaya.

Dengan mengintegrasikan kemampuan intelektual, kecerdasan sosial, dan nilai-nilai keagamaan, mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan tanggung jawab kemanusiaan.

Rektor UIN Mataram Tekankan Pentingnya Nalar, Rasa, dan Adab

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., menegaskan bahwa proses pendidikan tinggi harus mampu mengembangkan kemampuan berpikir, kepekaan sosial, dan adab secara bersamaan.

Menurut Masnun, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui pencapaian akademik, tetapi juga melalui kemampuan mahasiswa membangun karakter, etika, dan kepedulian terhadap sesama.

“Kita berproses mengasah nalar agar kita pintar, mengasah rasa agar kita punya kepekaan sosial, dan mengasah adab agar kita menjadi orang yang mulia, beretika, dan berkarakter,” ujar Masnun.

Masnun juga mengingatkan mahasiswa mengenai pentingnya menjaga persahabatan, membangun komunikasi yang baik, serta memperluas jaringan selama menjalani pendidikan tinggi.

Ia menilai hubungan sosial dan jaringan yang dibangun mahasiswa dapat menjadi bekal penting dalam perjalanan akademik maupun kehidupan profesional.

Melalui kegiatan Kuliah Kebudayaan bagi Mahasiswa Berprestasi, UIN Mataram berupaya mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang kuat.

Wakil Rektor III Ajak Mahasiswa Aktif Menjaga Kebudayaan

Sementara itu, Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, M.Hi., mengajak mahasiswa mengambil peran aktif dalam menjaga, mengelola, dan mengembangkan kebudayaan di tengah berbagai perubahan sosial.

Jumarim menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan tatanan kehidupan masyarakat, termasuk perubahan sosial, keagamaan, dan peran generasi muda.

“Di tangan Anda-lah kebudayaan ini akan dikelola. Apa pun perubahan sosial, perubahan tatanan keagamaan, perubahan peran, dan seterusnya, kita harus lebih siap menghadapinya,” kata Jumarim.

Menurutnya, kesiapan menghadapi perubahan menjadi hal penting agar mahasiswa tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga berkontribusi dalam mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan.

Ia mendorong mahasiswa untuk menjadikan nilai-nilai kebudayaan sebagai bagian dari pembentukan karakter dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat.

Melalui kuliah kebudayaan tersebut, UIN Mataram berharap mahasiswa berprestasi mampu menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan kemajuan teknologi AI dengan tetap menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai kemanusiaan.

Perguruan tinggi tersebut juga berharap mahasiswa dapat mempertahankan prinsip moderasi, kepedulian sosial, integritas, serta keluhuran budaya bangsa sebagai landasan dalam menghadapi perkembangan zaman.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026