
Pantau - Tokoh yang dikenal sebagai Bapak Kendaraan Listrik Asia, Prof Ching-Chuen Chan, menyatakan kesiapan mendukung Indonesia dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi kendaraan listrik melalui kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, industri, serta penguatan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Prof Chan dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Prof Chan menekankan bahwa pengembangan industri kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan pembelian teknologi dari luar negeri, tetapi harus disertai kemampuan menciptakan inovasi secara mandiri.
"Teknologi tidak bisa hanya dibeli, tetapi harus dikembangkan sendiri. Kita harus mendidik generasi muda, menentukan arah pengembangan teknologi sendiri, serta menemukan dan menciptakan teknologi kendaraan listrik kita sendiri. Kita tidak bisa hanya mengharapkan pihak lain memberikan teknologi kepada kita," katanya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, keberhasilan pengembangan kendaraan listrik membutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan kegiatan penelitian, dunia industri, lembaga pendidikan, dan kebijakan pemerintah.
Prof Ching-Chuen Chan Sarankan Indonesia Fokus pada Motor Listrik
Prof Ching-Chuen Chan yang lahir di Magelang, Jawa Tengah, 89 tahun lalu, memberikan sejumlah masukan mengenai arah pengembangan teknologi kendaraan listrik di Indonesia.
Ia menyarankan agar Indonesia memulai pengembangan kendaraan listrik dari kendaraan roda dua dan kendaraan berdaya rendah.
Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi fondasi untuk menciptakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Pengembangan kendaraan listrik berdaya rendah juga dinilai dapat membuka peluang penerapan teknologi secara lebih luas.
Prof Chan menekankan pentingnya pendidikan dan inovasi dalam membangun kemampuan nasional agar Indonesia tidak terus bergantung pada teknologi yang dikembangkan negara lain.
Ia juga mendorong pengembangan teknologi kendaraan listrik yang mempertimbangkan kebutuhan industri dan karakteristik pasar domestik.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kendaraan listrik diharapkan tidak hanya berorientasi pada penggunaan produk, tetapi juga pada peningkatan kemampuan riset dan penguasaan teknologi.
Wamen Stella Christie Dorong Penguatan SDM Industri Kendaraan Listrik
Sementara itu, Wamendiktisaintek Stella Christie menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan industri kendaraan listrik melalui pemanfaatan sumber daya alam dan peningkatan kualitas SDM.
Namun, menurutnya, peluang tersebut harus didukung kebijakan pendidikan tinggi yang tepat agar kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan industri.
"Indonesia memiliki sumber daya alam dan talenta yang dapat dikembangkan. Namun, kita membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mendorong talenta tersebut. Kita juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi kendaraan listrik," ujarnya.
Stella menegaskan pengembangan talenta kendaraan listrik perlu dilakukan secara terarah dengan mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam menghasilkan tenaga profesional yang memiliki keterampilan teknis dan kemampuan inovasi.
Menurut Stella, perguruan tinggi perlu melakukan pemetaan kebutuhan industri agar dapat menentukan kompetensi yang harus dikembangkan melalui program pendidikan.
Hasil pemetaan tersebut dapat digunakan sebagai dasar penyesuaian kurikulum serta pengembangan program pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan sektor kendaraan listrik.
Pendidikan Vokasi Baru 8 Persen, Pemerintah Ingin Cetak Lebih Banyak Insinyur
Stella mengungkapkan bahwa proporsi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia saat ini masih sekitar 8 persen dari keseluruhan pendidikan tinggi.
Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah karena industri kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan teknis, termasuk insinyur dan tenaga profesional lainnya.
"Kita perlu meningkatkan jumlah pendidikan vokasi secara signifikan. Saat ini, pengangguran di kalangan lulusan universitas cukup tinggi, sementara industri kendaraan listrik masih membutuhkan tenaga insinyur. Karena itu, kita perlu menyiapkan lebih banyak talenta melalui pendidikan vokasi," katanya.
Menurut Stella, peningkatan pendidikan vokasi perlu disertai penyelarasan program pembelajaran dengan kebutuhan industri agar lulusan memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di dunia kerja.
Pemerintah juga mendorong kerja sama antara perguruan tinggi dan pelaku industri kendaraan listrik dalam penyusunan kurikulum pendidikan.
Selain itu, mahasiswa diharapkan memperoleh kesempatan mengikuti program magang sehingga dapat mengenal proses kerja dan kebutuhan teknologi industri sebelum menyelesaikan pendidikan.
"Mahasiswa juga dapat memperoleh kesempatan magang, sementara kurikulum diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan industri. Industri juga dapat mengirimkan tenaga ahli untuk mengajar di politeknik," ucap Stella Christie.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berupaya memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri sekaligus meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan tenaga kerja sektor kendaraan listrik.
Dukungan Prof Ching-Chuen Chan dan penguatan pendidikan vokasi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya Indonesia membangun kemampuan teknologi kendaraan listrik secara mandiri.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Ahmad Yusuf




