HOME  ⁄  Nasional

Sumpah Pemuda 2026 Hadapi Tantangan Ruang Gema Media Sosial, Persatuan Bangsa Diuji Algoritma Digital

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Sumpah Pemuda 2026 Hadapi Tantangan Ruang Gema Media Sosial, Persatuan Bangsa Diuji Algoritma Digital
Foto: (Sumber :Gambar ilustrasi buatan AI. (ChatGPT/as).)

Pantau - Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu (28/10/2026) menjadi momentum untuk menyoroti tantangan persatuan bangsa di tengah perkembangan media sosial dan algoritma digital yang berpotensi membatasi interaksi masyarakat dengan pandangan berbeda.

Persoalan tersebut menjadi sorotan Dadan Ramdani dalam tulisan opini berjudul "Menggugat Sumpah Pemuda di Ruang Gema" yang membahas hubungan antara semangat persatuan tahun 1928 dan pola komunikasi masyarakat pada era digital.

Dalam tulisannya, Dadan menilai teknologi kini mampu menyajikan informasi berdasarkan kebiasaan, ketertarikan, dan pandangan pengguna sehingga seseorang cenderung menerima informasi yang sejalan dengan pemikirannya.

Kondisi tersebut dikaitkan dengan fenomena ruang gema atau echo chamber, yakni situasi ketika seseorang lebih sering berhadapan dengan informasi dan pendapat yang memperkuat keyakinannya sendiri.

Semangat Persatuan Sumpah Pemuda Menghadapi Tantangan Baru

Dadan mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 lahir dari keberanian para pemuda dengan latar belakang berbeda untuk membangun identitas kebangsaan bersama.

Para pemuda yang berkumpul di Batavia saat itu menyatakan komitmen terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Menurut pandangan yang disampaikan dalam tulisan tersebut, semangat persatuan tidak mengharuskan seluruh masyarakat memiliki identitas, kebiasaan, atau pendapat yang sama.

Persatuan justru dipahami sebagai kesediaan berbagai kelompok untuk hidup bersama di tengah perbedaan.

Dadan menyoroti makna kata "satu" dalam Sumpah Pemuda sebagai landasan pembentukan identitas nasional tanpa menghapus keberagaman masyarakat.

Ia menggambarkan Indonesia sebagai rumah bersama yang dibangun melalui cita-cita kebangsaan di tengah perbedaan asal-usul dan budaya.

Algoritma Media Sosial Dinilai Membentuk Ruang Gema

Dalam tulisannya, Dadan menyoroti kemampuan algoritma media sosial dalam mengenali kebiasaan pengguna dan menampilkan informasi yang sesuai dengan preferensi mereka.

Pola tersebut dinilai dapat membuat pengguna lebih sering menemukan pandangan yang mendukung pendapatnya sendiri dibandingkan pandangan yang berbeda.

Ia mengibaratkan kondisi itu sebagai terbentuknya ruang-ruang tertutup di dalam rumah kebangsaan yang sebelumnya dibangun atas dasar persatuan.

Menurut Dadan, tantangan terhadap semangat Sumpah Pemuda kini tidak hanya berkaitan dengan perbedaan latar belakang masyarakat, tetapi juga cara teknologi memengaruhi perjumpaan antarkelompok.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Makna Satu Bangsa Tidak Menghapus Keberagaman

Dadan menekankan bahwa gagasan satu bangsa dalam Sumpah Pemuda bukan berarti menghilangkan identitas daerah maupun perbedaan pandangan.

Para pemuda pada 1928 tetap membawa latar belakang masing-masing ketika menyepakati cita-cita kebangsaan Indonesia.

Dalam pandangannya, keberagaman tersebut justru menjadi dasar bagi terbentuknya komunitas politik yang memiliki tujuan bersama.

Ia menilai semangat tersebut relevan untuk dibahas kembali ketika masyarakat semakin bergantung pada teknologi komunikasi digital.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pun menjadi konteks bagi pembahasan mengenai pentingnya menjaga ruang perjumpaan di tengah perbedaan.

Tulisan Dadan menggarisbawahi bahwa tantangan persatuan pada era digital berkaitan dengan kemampuan masyarakat mempertahankan semangat kebangsaan ketika arus informasi semakin dipengaruhi oleh algoritma.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026