HOME  ⁄  Nasional

Rumah Adat Siwaluh Jabu di Tanah Karo Menyimpan Simbol Matematika dan Filosofi Kehidupan Delapan Keluarga

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rumah Adat Siwaluh Jabu di Tanah Karo Menyimpan Simbol Matematika dan Filosofi Kehidupan Delapan Keluarga
Foto: (Sumber :Rumah adat Karo Siwaluh Jabu (HO/dok. Yunita Setyoningrum dkk).)

Pantau - Rumah adat Siwaluh Jabu di Desa Lingga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyimpan nilai budaya, filosofi kehidupan, serta pola arsitektur yang dapat dikaji melalui pendekatan etnomatematika, yakni ilmu yang mempelajari hubungan antara matematika dan kebudayaan.

Bangunan tradisional berusia ratusan tahun tersebut dikenal sebagai tempat tinggal bersama delapan keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan dalam masyarakat Karo.

Selain mencerminkan kehidupan komunal, Siwaluh Jabu memiliki konstruksi panggung kayu, atap menjulang, serta sistem sambungan tradisional tanpa paku.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bentuk bangunan dan pembagian ruang rumah adat tersebut mengandung keteraturan yang dapat dianalisis melalui konsep matematika dan sistem kepercayaan masyarakat setempat.

Siwaluh Jabu Menjadi Rumah Bersama Delapan Keluarga

Dalam bahasa Karo, istilah Siwaluh Jabu berarti delapan keluarga.

Penamaan tersebut merujuk pada fungsi rumah adat sebagai tempat tinggal bersama bagi delapan keluarga yang terikat hubungan kekerabatan.

Berbeda dengan rumah modern yang umumnya diperuntukkan bagi satu keluarga inti, Siwaluh Jabu dirancang untuk mendukung kehidupan komunal.

Pengaturan tempat tinggal tersebut mencerminkan nilai kebersamaan, kerja sama, dan gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Karo.

Rumah adat ini memiliki bentuk khas berupa bangunan panggung dari kayu dengan atap besar yang menjulang tinggi.

Konstruksinya menggunakan sistem pasak dan ikatan sebagai penghubung antarbagian bangunan tanpa mengandalkan paku.

Teknik pembangunan tradisional tersebut memungkinkan sejumlah rumah adat Karo bertahan selama ratusan tahun.

Arsitektur Siwaluh Jabu Menyimpan Konsep Etnomatematika

Selain memiliki nilai sejarah, Siwaluh Jabu menjadi objek kajian etnomatematika karena bentuk dan susunan bangunannya menunjukkan pola keteraturan.

Etnomatematika merupakan pendekatan yang menghubungkan praktik budaya dengan konsep matematika dalam kehidupan masyarakat.

Pada rumah adat Karo, pendekatan tersebut dapat digunakan untuk mempelajari hubungan antara bentuk bangunan, susunan ruang, dan pola konstruksi tradisional.

Keberadaan delapan keluarga dalam satu rumah juga memperlihatkan pengaturan kehidupan bersama yang menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat Karo.

Melalui kajian tersebut, rumah adat tidak hanya dipahami sebagai peninggalan arsitektur, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran mengenai pengetahuan tradisional.

Tiga Bagian Rumah Melambangkan Hubungan Manusia dan Alam Semesta

Siwaluh Jabu memiliki pembagian ruang yang berkaitan dengan pandangan kosmologis masyarakat Karo.

Secara simbolis, bangunan rumah adat tersebut terbagi menjadi tiga bagian utama yang merepresentasikan dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas.

Bagian bawah rumah melambangkan dunia bawah yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebutuhan penunjang kehidupan.

Area tersebut secara tradisional digunakan untuk menyimpan kayu bakar, peralatan pertanian, serta menjadi tempat bagi hewan ternak.

Sementara itu, bagian tengah rumah merupakan ruang kehidupan manusia dan menjadi pusat aktivitas keluarga.

Bagian atap yang menjulang tinggi melambangkan dunia atas yang berhubungan dengan kekuatan spiritual dan leluhur.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Karo memandang rumah sebagai representasi alam semesta dalam skala yang lebih kecil.

Konsep ini juga memperlihatkan keterkaitan antara fungsi bangunan, kehidupan sosial, dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Rumah Adat Karo di Desa Lingga Semakin Berkurang

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan rumah adat Siwaluh Jabu menghadapi tantangan pelestarian.

Desa Lingga di Kabupaten Karo dikenal sebagai salah satu desa budaya yang masih memiliki peninggalan rumah adat tradisional tersebut.

Namun, sejumlah peneliti dan pemerhati budaya menyebut jumlah rumah adat Karo di wilayah itu telah berkurang dibandingkan masa lalu.

Sebagian bangunan mengalami kerusakan, ditinggalkan penghuninya, atau hilang akibat keterbatasan pemeliharaan.

Rumah adat yang masih bertahan di Desa Lingga kini disebut hanya tersisa dalam jumlah terbatas.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah desa lain di Tanah Karo yang mengalami penyusutan jumlah rumah adat.

Sebagian bangunan bahkan dipindahkan ke lokasi lain untuk kepentingan pelestarian dan pendidikan budaya.

Pelestarian Siwaluh Jabu Penting untuk Menjaga Warisan Budaya Karo

Keberadaan Siwaluh Jabu menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Karo yang memuat pengetahuan tentang arsitektur, sistem kekerabatan, dan pandangan hidup tradisional.

Teknik pembangunan tanpa paku memperlihatkan keterampilan konstruksi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sementara itu, pembagian ruang dan simbol kosmologis menunjukkan hubungan antara bangunan tradisional dengan nilai spiritual masyarakat.

Kajian etnomatematika memberikan sudut pandang tambahan untuk memahami keteraturan dan pengetahuan yang terkandung dalam arsitektur Siwaluh Jabu.

Berkurangnya jumlah rumah adat tersebut menjadi tantangan bagi upaya pelestarian agar pengetahuan arsitektur dan nilai budaya masyarakat Karo tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026