HOME  ⁄  Nasional

Indonesia Gandeng Jepang Kembangkan Teknologi Daur Ulang Baterai Bekas dan Bioetanol untuk Industri Nasional

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Indonesia Gandeng Jepang Kembangkan Teknologi Daur Ulang Baterai Bekas dan Bioetanol untuk Industri Nasional
Foto: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menerima kunjungan Executive Director of the Technology and Innovation Strategy Center (TSC), New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), Kikuo Kishimoto (kiri) di kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Selasa 27/10/2026 (sumber: Kemdiktisaintek)

Pantau - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki kerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan teknologi daur ulang limbah elektronik, baterai bekas, pengolahan plastik, serta bioetanol sebagai sumber energi alternatif guna mendukung kebutuhan industri nasional.

Penjajakan kerja sama tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemampuan teknologi dalam negeri sekaligus menjawab tantangan di sektor energi, pengelolaan limbah, dan pengembangan industri.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengatakan Indonesia membutuhkan dukungan teknologi dan keterlibatan mitra industri untuk mempercepat pemanfaatan hasil penelitian menjadi solusi yang dapat diterapkan secara nyata.

Menurut Brian, pengembangan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan penelitian, tetapi juga memerlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan pelaku industri.

"Kita harus berpikir cepat, Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan industri kita," kata Menteri Brian dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/10).

Brian menegaskan bahwa Indonesia perlu mempercepat kerja sama internasional dengan negara-negara yang memiliki kemampuan teknologi untuk mendukung pengembangan sektor strategis nasional.

Indonesia dan Jepang Jajaki Teknologi Daur Ulang Limbah Elektronik dan Baterai Bekas

Salah satu fokus utama penjajakan kerja sama Indonesia dan Jepang adalah pengembangan teknologi pengolahan limbah elektronik serta baterai bekas agar material yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipulihkan dan dimanfaatkan kembali.

Teknologi tersebut diharapkan mampu mengolah limbah menjadi sumber bahan baku alternatif yang dapat digunakan dalam berbagai proses produksi industri.

Melalui teknologi pemulihan material, komponen bernilai ekonomi dari baterai bekas maupun perangkat elektronik yang tidak lagi digunakan berpotensi dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

Dalam pembahasan dengan pihak Jepang, Kemdiktisaintek menekankan pentingnya pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional serta memiliki peluang penerapan secara langsung di sektor industri.

Pihak Jepang dalam penjajakan kerja sama tersebut antara lain diwakili Direktur Eksekutif Pusat Strategi Teknologi dan Inovasi atau Technology and Innovation Strategy Center (TSC) pada New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), Kikuo Kishimoto.

Kishimoto menjelaskan bahwa penelitian mengenai teknologi pemulihan material dari baterai bekas saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan.

Meski demikian, pihak Jepang menyatakan keterbukaan terhadap peluang kolaborasi teknologi yang dapat mendukung kebutuhan Indonesia, termasuk pengolahan limbah dan pemanfaatan kembali material industri.

Pengembangan teknologi tersebut juga membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi untuk melakukan penelitian, pengujian, serta memastikan kelayakan penerapan hasil riset.

Sementara itu, mitra industri diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan produksi dan menilai potensi penggunaan teknologi dalam kegiatan usaha.

Limbah Plastik Berpotensi Diolah Menjadi Material Bernilai Tinggi

Selain limbah elektronik dan baterai bekas, pembahasan kerja sama Indonesia dan Jepang turut mencakup pengembangan teknologi pengolahan limbah plastik melalui pendekatan upcycling.

Pendekatan upcycling merupakan proses pengolahan kembali material bekas menjadi produk atau bahan baru yang memiliki nilai guna lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya.

Salah satu contoh penerapan teknologi tersebut adalah pengolahan botol plastik bekas menjadi material yang dapat dimanfaatkan kembali dalam berbagai proses industri.

Melalui pendekatan ini, limbah plastik yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi bahan dengan nilai tambah untuk mendukung kebutuhan produksi.

Pengembangan teknologi tersebut juga membuka peluang bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk menghasilkan inovasi pengolahan material yang sesuai dengan kebutuhan industri Indonesia.

Pemerintah menilai keterlibatan pelaku industri diperlukan agar teknologi hasil penelitian tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat diterapkan dalam proses produksi.

Kemdiktisaintek Bidik Kerja Sama dengan Perusahaan Otomotif Jepang untuk Bioetanol

Di luar sektor pengelolaan limbah, Kemdiktisaintek juga menjajaki peluang kerja sama dengan Jepang dalam pengembangan bioetanol sebagai salah satu sumber energi alternatif.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto secara khusus menyampaikan keinginan untuk membuka pembahasan dengan perusahaan otomotif Jepang mengenai kemungkinan dukungan terhadap pengembangan bioetanol di Indonesia.

Keterlibatan perusahaan otomotif dinilai penting karena pengembangan bioetanol membutuhkan keterhubungan antara teknologi produksi, kebutuhan industri, dan potensi pemanfaatannya sebagai bahan bakar alternatif.

Salah satu perhatian utama dalam pembahasan tersebut adalah kebutuhan teknologi produksi bioetanol yang kompetitif dari sisi harga agar produk yang dihasilkan memiliki peluang untuk digunakan secara luas.

Selain kemampuan teknologi dan biaya produksi, kepastian pasar juga menjadi faktor penting untuk memastikan bioetanol yang dihasilkan dapat diserap oleh sektor industri.

Dengan dukungan teknologi yang sesuai dan adanya kepastian pasar, pengembangan bioetanol diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Pemerintah Dorong Hasil Riset Indonesia-Jepang Bisa Diterapkan Industri

Kemdiktisaintek menekankan bahwa penjajakan kerja sama dengan Jepang perlu ditindaklanjuti melalui langkah yang lebih terarah agar peluang kolaborasi dapat berkembang menjadi kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi yang konkret.

Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah pemetaan kebutuhan riset untuk mengidentifikasi bidang penelitian yang paling relevan dengan tantangan industri nasional.

Selain itu, pemerintah juga mendorong identifikasi teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia serta penelusuran calon mitra industri yang berpotensi terlibat dalam pengembangan dan penerapannya.

Perguruan tinggi diharapkan berkontribusi melalui kegiatan penelitian dan pengujian teknologi, sedangkan pelaku industri berperan dalam memastikan hasil pengembangan memiliki manfaat bagi kegiatan produksi.

Pemerintah juga berupaya memperkuat koordinasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan dunia usaha agar inovasi yang dihasilkan dapat diarahkan pada kebutuhan nasional.

Melalui penjajakan kerja sama tersebut, Indonesia dan Jepang diharapkan dapat mengembangkan teknologi pemulihan material baterai bekas, daur ulang limbah elektronik, pengolahan plastik, serta produksi bioetanol.

Kemdiktisaintek berharap kolaborasi internasional ini mampu memperkuat kapasitas penelitian dan pengembangan teknologi Indonesia sekaligus mempercepat pemanfaatan hasil riset untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempertemukan kemampuan penelitian, kebutuhan teknologi, dan dukungan industri sehingga inovasi yang dikembangkan dapat berkontribusi terhadap pengelolaan limbah, penyediaan energi alternatif, serta penguatan industri nasional.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026