
Pantau - Media sosial dinilai memiliki potensi besar sebagai ruang kreatif bagi generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan melalui pengembangan gagasan, kolaborasi, dan penyelesaian persoalan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Pandangan tersebut disampaikan Fajar Baskoro dalam tulisannya yang diterbitkan pada Jumat (30/10/2026), dengan menekankan pentingnya menghubungkan aktivitas pemuda di media sosial dengan kebutuhan pembangunan di berbagai daerah.
Menurut Fajar, media sosial tidak seharusnya hanya dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi, hiburan, dan membangun jejaring, tetapi juga sebagai wadah partisipasi sosial yang menghasilkan manfaat nyata.
Ia menilai kreativitas digital berisiko berhenti pada aktivitas mencari jumlah pengikut, tanda suka, dan popularitas konten apabila tidak dihubungkan dengan persoalan masyarakat.
Pemuda Didorong Terlibat Langsung dalam Pembangunan
Fajar menyoroti pentingnya menempatkan pemuda sebagai pihak yang terlibat aktif dalam proses pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat program pemerintah.
Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengidentifikasi persoalan, merumuskan solusi, serta mengevaluasi hasil pelaksanaan program pembangunan.
Semangat Sumpah Pemuda disebut tetap relevan sebagai landasan untuk mendorong inisiatif dan keterlibatan generasi muda dalam menghadapi tantangan masa kini.
Media sosial dapat mendukung proses tersebut karena memungkinkan pemuda dari berbagai wilayah berkomunikasi dan bertukar gagasan tanpa dibatasi jarak geografis.
Melalui ruang digital, komunitas pemuda juga dapat memetakan persoalan lokal, menyebarluaskan pengetahuan, serta menggalang dukungan terhadap kegiatan sosial.
Fajar menilai tantangan utama bukan hanya meningkatkan keaktifan pemuda di media sosial, tetapi membangun ekosistem yang mampu menghubungkan kreativitas digital dengan kebutuhan masyarakat.
Media Sosial Bisa Dimanfaatkan untuk Program Lingkungan dan UMKM
Dalam tulisannya, Fajar memberikan contoh pemanfaatan media sosial untuk mendukung program pengurangan sampah di lingkungan masyarakat.
Sekelompok pemuda dapat mengembangkan kampanye pengurangan sampah melalui video pendek, kemudian menghubungkannya dengan sistem pelaporan lingkungan dan kegiatan bank sampah setempat.
Pendekatan tersebut dinilai dapat mengubah konten digital menjadi sarana edukasi sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Contoh lainnya adalah pemanfaatan media sosial oleh komunitas pemuda untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemuda dapat membuat konten edukasi mengenai pemasaran produk, pengembangan kemasan, serta cara menjangkau konsumen baru melalui platform digital.
Menurut Fajar, kegiatan semacam itu menunjukkan bahwa kreativitas media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi dan sosial.
Kecerdasan Buatan Dapat Mendukung Kreativitas Pemuda
Selain media sosial, Fajar menyoroti peluang pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung kegiatan kreatif generasi muda.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu penelitian awal, mengolah informasi, menyusun rancangan program, serta menghasilkan materi edukasi.
Pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat memperluas kemampuan pemuda dalam mengembangkan gagasan dan menyiapkan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, menurut Fajar, penggunaan teknologi perlu diarahkan pada kegiatan yang memiliki manfaat sosial, bukan hanya menghasilkan konten yang menarik perhatian pengguna internet.
Keberhasilan Konten Digital Tidak Cukup Diukur dari Jumlah Penonton
Fajar menekankan bahwa keberhasilan kreativitas pemuda di media sosial tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan popularitas konten.
Ia menilai dampak terhadap perubahan perilaku, peningkatan kemampuan masyarakat, dan penyelesaian persoalan bersama perlu menjadi ukuran yang lebih penting.
Konten digital yang menjangkau banyak pengguna belum tentu memberikan manfaat apabila tidak mendorong tindakan nyata.
Karena itu, ruang kreatif media sosial perlu dikembangkan sebagai tempat belajar, bereksperimen, dan membangun kerja sama antarkomunitas.
Melalui pendekatan tersebut, Fajar berpandangan bahwa media sosial dapat menjadi sarana untuk menghubungkan gagasan generasi muda dengan tindakan yang mendukung pembangunan masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




