HOME  ⁄  Nasional

UKI dan JRS Indonesia Ajak 300 Mahasiswa Peduli Pengungsi, Buka Peluang Relawan dan Penelitian Kemanusiaan

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

UKI dan JRS Indonesia Ajak 300 Mahasiswa Peduli Pengungsi, Buka Peluang Relawan dan Penelitian Kemanusiaan
Foto: (Sumber :Universitas Kristen Indonesia (UKI) bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia menggelar seminar internasional bertajuk "Peduli Pengungsi: Mengapa Kita Perlu Hadir?" di UKI Jakarta, Kamis (29/10/2026). (ANTARA/HO-Universitas Kristen Indonesia (UKI)).)

Pantau - Universitas Kristen Indonesia (UKI) bersama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia mengajak mahasiswa meningkatkan kepedulian terhadap pengungsi melalui seminar internasional bertajuk "Peduli Pengungsi: Mengapa Kita Perlu Hadir?" di kampus UKI, Jakarta Timur, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-73 UKI tersebut menargetkan keikutsertaan sekitar 300 mahasiswa dari berbagai fakultas.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UKI, Elferida Sormin, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk terlibat dalam penyelesaian persoalan kemanusiaan.

"Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kemanusiaan," kata Elferida di Jakarta Timur, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat membangun pemahaman mahasiswa yang lebih terbuka terhadap keberadaan pengungsi di tengah masyarakat.

UKI dan JRS Perkuat Kerja Sama Penanganan Isu Pengungsi

Seminar internasional tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama UKI dan JRS Indonesia yang telah berlangsung sejak 2024.

Penguatan kolaborasi ditandai dengan penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara perwakilan JRS Indonesia dan sejumlah program studi di UKI.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kemanusiaan, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan pengungsi.

Koordinator Proyek JRS Bogor, Zainuddin, mengapresiasi kerja sama dengan UKI yang telah memasuki tahun ketiga.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi sukarelawan maupun melakukan penelitian mengenai persoalan pengungsi.

JRS Soroti Persepsi Negatif terhadap Pengungsi Rohingya

Zainuddin menyoroti berkembangnya persepsi negatif terhadap pengungsi, termasuk pengungsi Rohingya, yang menurutnya kerap dipengaruhi kepentingan dan perdebatan politik.

Ia menekankan pentingnya pendidikan dan dialog untuk membangun pemahaman masyarakat yang lebih adil serta berlandaskan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, mahasiswa dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan keterlibatan langsung dengan komunitas pengungsi.

Seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Carolina Ramanita Wara Ola dari JRS Indonesia, Mohammad Asadi yang merupakan pengungsi asal Afghanistan, serta dosen Fakultas Sastra dan Bahasa UKI Susanne AH Sitohang.

Pengungsi Hadapi Keterbatasan Pekerjaan, Pendidikan, dan Kesehatan

Dalam pemaparannya, Carolina Ramanita Wara Ola menjelaskan situasi pengungsi serta kerangka hukum penanganannya di Indonesia.

Ia mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi pengungsi, mulai dari keterbatasan kesempatan kerja formal hingga akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.

Selain itu, pengungsi juga menghadapi ketidakpastian masa depan akibat proses penempatan kembali ke negara ketiga yang dapat berlangsung dalam waktu lama.

Sementara itu, Mohammad Asadi, pengungsi asal Afghanistan yang mengembangkan komunitas olahraga Beyond Club, menekankan bahwa pengungsi tidak hanya membutuhkan perlindungan.

Menurutnya, pengungsi juga memiliki kemampuan dan potensi untuk memberikan kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Mahasiswa Diajak Terlibat Langsung dalam Kegiatan Kemanusiaan

Dosen Fakultas Sastra dan Bahasa UKI, Susanne AH Sitohang, mengajak mahasiswa memandang pengungsi sebagai sesama manusia yang memiliki martabat, harapan, dan pengalaman hidup.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengenal serta memahami kehidupan pengungsi melalui perjumpaan dan interaksi secara langsung.

Susanne juga memaparkan perjalanan kolaborasi UKI dan JRS Indonesia yang telah menghasilkan sejumlah kegiatan sejak 2024.

Program tersebut meliputi pendampingan anak-anak pengungsi, kegiatan literasi dan budaya, serta pelatihan keterampilan bagi komunitas pengungsi.

Melalui kelanjutan kerja sama tersebut, UKI dan JRS Indonesia berupaya memperluas keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian masyarakat dan penelitian yang berkaitan dengan persoalan pengungsi.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026