
Pantau - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong pengembangan teknologi tepat guna di kawasan transmigrasi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, termasuk inovasi mesin pengering gabah berkapasitas dua ton yang mampu memangkas waktu pengeringan dari tiga hingga tujuh hari menjadi hanya belasan jam.
Inovasi tersebut dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember (TEP ITS) di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.
Iftitah menegaskan bahwa penerapan teknologi di kawasan transmigrasi harus disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat sekaligus mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan kegiatan ekonomi lokal.
"Saya ingin menyemangati dan melihat langsung karya-karya nyata yang diberikan oleh para anggota tim ekspedisi patriot dalam gerakan transmigrasi patriot, bahwa hari ini transmigrasi bukan lagi sekedar memindahkan penduduk, tetapi membangun satu kawasan ekonomi," ujar Iftitah dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Menurut Iftitah, pembangunan kawasan transmigrasi kini tidak hanya berorientasi pada perpindahan penduduk, tetapi juga diarahkan untuk membentuk pusat kegiatan ekonomi produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mesin Pengering Gabah ITS Pangkas Waktu Produksi hingga Belasan Jam
Salah satu inovasi yang dikembangkan TEP ITS di kawasan transmigrasi Momiwaren adalah mesin pengering gabah berkapasitas dua ton untuk membantu petani mempercepat penanganan hasil panen.
Sebelum teknologi tersebut diperkenalkan, petani membutuhkan waktu sekitar tiga hingga tujuh hari untuk mengeringkan gabah menggunakan metode penjemuran konvensional yang bergantung pada cuaca cerah.
Melalui mesin pengering gabah, proses tersebut dapat dipersingkat menjadi hanya belasan jam sehingga petani tidak perlu menunggu kondisi cuaca mendukung selama beberapa hari.
Penggunaan teknologi ini juga membantu mengurangi kebiasaan penjemuran gabah secara manual di jalan yang berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas.
Pengoperasian mesin pengering tersebut didukung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk mengatasi keterbatasan pasokan listrik yang masih menjadi kendala di kawasan transmigrasi.
Pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi energi terbarukan yang dapat mendukung kegiatan produksi dan pengolahan hasil pertanian masyarakat.
Teknologi Pemilahan Beras Tingkatkan Potensi Harga Jual hingga Rp17.000 per Kilogram
Selain mengembangkan mesin pengering gabah, TEP ITS menghadirkan teknologi pengolahan pascapanen yang dilengkapi sistem pemilahan beras berdasarkan kualitas hasil produksi.
Teknologi tersebut memungkinkan petani memisahkan beras utuh berkualitas premium sehingga memiliki peluang memperoleh harga jual lebih tinggi.
Menteri Transmigrasi Iftitah menjelaskan bahwa beras premium hasil pemilahan dapat dijual dengan harga sekitar Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram.
Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga jual beras sebelumnya yang berada pada kisaran Rp12.000 per kilogram.
Dengan demikian, pemanfaatan teknologi pemilahan membuka peluang peningkatan harga jual beras sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram.
Meski demikian, selisih harga tersebut belum mencerminkan keuntungan bersih petani karena masih terdapat biaya produksi dan pengolahan yang perlu diperhitungkan.
Pengembangan teknologi pascapanen tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas hasil pertanian sekaligus memperkuat daya jual produk beras lokal.
Beras Menir Diolah Jadi Tepung, Harga Jual Capai Rp18.000 per Kilogram
TEP ITS juga mengembangkan teknologi pengolahan beras menir menjadi tepung beras untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil samping produksi padi.
Sebelumnya, beras menir umumnya dijual sebagai pakan ternak dengan harga sekitar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
Melalui teknologi pengolahan yang diperkenalkan TEP ITS, beras menir dapat dimanfaatkan menjadi tepung beras dengan harga jual sekitar Rp18.000 per kilogram.
Perbandingan tersebut menunjukkan adanya potensi peningkatan nilai jual produk sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram sebelum memperhitungkan biaya pengolahan dan perbedaan hasil produksi.
Kegiatan pengolahan tepung beras tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat sebagai bagian dari pengembangan ekonomi berbasis hasil pertanian masyarakat.
Produk tepung beras diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk usaha pembuatan peyek dan berbagai jenis kue.
Usaha pengolahan tersebut juga telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai bagian dari legalitas kegiatan usaha yang dijalankan BUMDes.
Pemanfaatan beras menir menjadi tepung beras membuka peluang pengembangan rantai ekonomi lokal yang menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku, BUMDes sebagai pengelola produksi, dan UMKM sebagai pengguna produk.
ITS Kembangkan Biogas, Pengasapan Ikan, dan Air Bersih untuk 35 Keluarga
Selain teknologi pengolahan padi, TEP ITS menghadirkan sejumlah inovasi untuk mendukung kegiatan pertanian, perikanan, energi, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah reaktor biogas yang dapat mengolah bahan organik sekaligus menghasilkan pupuk organik cair.
Berdasarkan laporan pengembangan teknologi tersebut, reaktor biogas mampu menghasilkan pupuk organik cair dengan kapasitas mencapai 50 liter per hari.
Pupuk organik cair tersebut berpotensi dimanfaatkan masyarakat untuk mendukung kegiatan pertanian sekaligus meningkatkan nilai guna bahan organik yang diolah.
Pada sektor perikanan, TEP ITS mengembangkan teknologi pengasapan ikan yang mampu memangkas waktu pengolahan hasil tangkapan maupun produksi perikanan.
Sebelum menggunakan teknologi tersebut, proses pengasapan ikan membutuhkan waktu sekitar dua hari, sedangkan inovasi TEP ITS mampu mempercepatnya menjadi maksimal dua jam.
Percepatan proses produksi tersebut diharapkan membantu masyarakat meningkatkan efisiensi pengolahan hasil perikanan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha ikan olahan.
TEP ITS juga membangun instalasi pompa air bersih yang dilengkapi menara tandon untuk mendukung penyediaan air bagi rumah tangga.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk melayani kebutuhan air bersih sebanyak 35 keluarga di kawasan transmigrasi.
Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Digitalisasi BUMDes Didorong untuk Perluas Pemasaran Produk Lokal
Pada bidang ekonomi digital, TEP ITS mengembangkan situs promosi produk serta aplikasi administrasi BUMDes untuk membantu pengelolaan kegiatan usaha masyarakat.
Situs promosi tersebut ditujukan untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal agar memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Sementara itu, aplikasi administrasi BUMDes dikembangkan untuk mendukung pencatatan kegiatan usaha dan meningkatkan efektivitas pengelolaan administrasi.
Pengembangan sarana digital tersebut diharapkan membantu pengelola BUMDes menjalankan kegiatan usaha secara lebih tertata sekaligus memperkuat pemasaran produk hasil pertanian dan pengolahan masyarakat.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, kegiatan ekonomi lokal di kawasan transmigrasi diharapkan dapat berkembang seiring peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha.
ITS Libatkan 100 Mahasiswa dan 20 Dosen dalam Ekspedisi Patriot
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bambang Pramujati, menjelaskan bahwa kegiatan Tim Ekspedisi Patriot menjadi kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk menerapkan ilmu pengetahuan serta keterampilan dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.
Menurut Bambang, kegiatan TEP ITS melibatkan sebanyak 100 mahasiswa yang tergabung dalam 20 tim dengan dukungan 20 dosen dan dilaksanakan di tiga distrik.
"Ini ada 100 mahasiswa, 20 tim di tiga distrik dan 20 dosen yang terlibat di sana. Dan mereka mempunyai kesempatan untuk memberi kebermanfaatannya lebih bagi masyarakat dengan ilmu yang mereka miliki," ujar Bambang.
Bambang menyampaikan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat melalui penerapan teknologi yang sesuai kebutuhan setempat.
ITS juga menyatakan kesiapan untuk melanjutkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di kawasan transmigrasi melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.
Kelanjutan program tersebut membuka peluang pendampingan bagi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kawasan transmigrasi.
Melalui berbagai inovasi, mulai dari mesin pengering gabah, pemilahan beras, pengolahan tepung beras, reaktor biogas, pengasapan ikan, penyediaan air bersih, hingga digitalisasi BUMDes, TEP ITS berupaya memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Momiwaren.
Pengembangan teknologi tersebut sejalan dengan arahan Menteri Transmigrasi Iftitah agar kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi tempat perpindahan penduduk, tetapi berkembang sebagai pusat kegiatan ekonomi produktif yang mampu meningkatkan pendapatan, membuka kesempatan kerja, dan memperkuat kemandirian masyarakat.
- Penulis :
- Shila Glorya




