
Pantau - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi optimistis produksi padi di wilayahnya mampu mencapai target 10,5 juta ton hingga akhir 2026, seiring mulai turunnya hujan di sejumlah daerah yang diharapkan dapat mendukung kegiatan pertanian dan meningkatkan ketersediaan air bagi petani.
Hingga September 2026, produksi padi Jawa Tengah telah mencapai 8,5 juta ton sehingga masih dibutuhkan tambahan sekitar 2 juta ton pada periode Oktober hingga Desember untuk memenuhi target tahunan tersebut.
"Alhamdulillah kemarin sudah mulai hujan, semoga sampai Desember nanti kita mampu mencapai target," kata Ahmad Luthfi di Semarang, Sabtu.
Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu daerah penopang kebutuhan pangan nasional karena memiliki kontribusi besar terhadap produksi padi di Indonesia.
Provinsi dengan jumlah penduduk hampir 38 juta jiwa tersebut mencatat produksi padi sekitar 11,5 juta ton sepanjang 2025, sedangkan target produksi pada 2026 ditetapkan sebesar 10,5 juta ton.
Dengan demikian, target produksi padi Jawa Tengah pada 2026 lebih rendah sekitar 1 juta ton dibandingkan realisasi produksi tahun sebelumnya.
Ahmad Luthfi berharap meningkatnya curah hujan dapat memperkuat ketersediaan air untuk mendukung penanaman dan pertumbuhan tanaman padi hingga akhir tahun.
Pemprov Jawa Tengah Siapkan Irigasi untuk Antisipasi Kekurangan Air
Sebelum memasuki periode turunnya hujan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian.
Langkah tersebut dilakukan melalui pemetaan wilayah pertanian yang berisiko mengalami kekurangan air serta identifikasi kebutuhan infrastruktur pendukung kegiatan pertanian.
Pemerintah daerah juga mempersiapkan infrastruktur pengairan, termasuk waduk dan embung, guna menjaga ketersediaan sumber air bagi lahan pertanian.
Selain itu, kesiapan jaringan irigasi tersier dan sekunder menjadi perhatian untuk memastikan distribusi air menuju lahan pertanian dapat berjalan dengan baik.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 242.826 hektare sawah tadah hujan mendapatkan intervensi melalui pengembangan irigasi perpompaan.
Pengembangan irigasi perpompaan tersebut ditujukan untuk membantu penyediaan air bagi sawah tadah hujan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap curah hujan.
Sementara itu, sebanyak 530.748 hektare sawah irigasi mendapatkan intervensi melalui penguatan jaringan irigasi tersier.
Penguatan jaringan tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran penyaluran air menuju lahan pertanian sehingga kebutuhan pengairan tanaman padi dapat terpenuhi.
Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi dampak keterbatasan air terhadap kegiatan penanaman padi.
Asuransi Gagal Panen Disiapkan untuk Lindungi 10.000 Hektare Lahan
Selain memperkuat infrastruktur pengairan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan program asuransi gagal panen untuk melindungi petani dari risiko kerusakan tanaman.
Program asuransi pertanian tersebut ditargetkan mencakup 10.000 hektare lahan yang berpotensi mengalami puso atau gagal panen akibat berbagai kondisi, termasuk banjir.
Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa perlindungan asuransi diperlukan agar petani yang mengalami kerugian tetap memiliki modal dasar untuk melanjutkan kegiatan usaha pertanian.
"Asuransi gagal panen untuk mem-'backup', jadi jangan sampai nanti kena puso, kena banjir, dan gagal panen. Itu nanti akan membantu masyarakat kita, khususnya para petani agar tetap mempunyai modal dasar," kata Ahmad Luthfi.
Program tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi risiko kerugian akibat bencana maupun kerusakan tanaman yang mengganggu keberlangsungan produksi.
Perlindungan asuransi juga menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan usaha pertanian di tengah perubahan kondisi cuaca.
Pola Musim Tanam Padi di Jawa Tengah Berbeda Antarwilayah
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa pola kegiatan pertanian di sejumlah wilayah Jawa Tengah memiliki karakteristik berbeda sesuai kondisi geografis dan kearifan lokal masyarakat.
Menurut Defransisco, terdapat daerah yang hanya menjalankan dua kali musim tanam dalam satu tahun, sedangkan periode lainnya dimanfaatkan untuk membudidayakan komoditas pertanian selain padi.
Pola tersebut antara lain diterapkan di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah yang melakukan pergiliran komoditas sesuai kondisi lahan dan ketersediaan air.
Di sisi lain, sejumlah wilayah Jawa Tengah mampu menjalankan tiga kali musim tanam sekaligus panen dalam satu tahun.
Perbedaan pola pertanian tersebut dipengaruhi oleh kondisi wilayah, karakteristik lahan, serta ketersediaan sumber air yang dibutuhkan tanaman.
Defransisco menegaskan bahwa air menjadi faktor utama yang menentukan keputusan petani untuk melakukan penanaman padi.
"Tapi semua petani itu sebenarnya tergantung pada air, kalau ada air mereka pasti akan menanam padi," kata Defransisco.
Ketersediaan air yang memadai dinilai penting untuk mendukung peningkatan intensitas penanaman sekaligus menjaga produktivitas padi di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Program Pilar Jateng Petakan Kebutuhan Petani dan Infrastruktur Pertanian
Untuk mendukung peningkatan produktivitas padi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut mengembangkan program Pilar Jateng sebagai sistem pemetaan kebutuhan dan infrastruktur pendukung sektor pertanian.
Melalui program tersebut, pemerintah daerah dapat memetakan kondisi lahan pertanian, jaringan irigasi, serta ketersediaan alat dan mesin pertanian.
Sistem Pilar Jateng juga mencatat kondisi sarana dan prasarana pertanian yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan program pembangunan sektor pertanian.
Menurut Defransisco, seluruh informasi dalam sistem tersebut dilaporkan secara terkini agar perencanaan pembangunan pertanian dapat dilakukan secara lebih presisi dan tepat sasaran.
Data yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kebutuhan kelompok tani sekaligus menentukan bentuk intervensi pemerintah yang sesuai dengan kondisi lapangan.
"Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani," kata Defransisco.
Pemanfaatan data tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah daerah menentukan prioritas pembangunan infrastruktur serta penyaluran bantuan pertanian berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Melalui penguatan jaringan irigasi, penyediaan irigasi perpompaan, perlindungan asuransi gagal panen, dan pemetaan kebutuhan pertanian berbasis data, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya menjaga keberlangsungan produksi padi sepanjang 2026.
Dengan realisasi produksi sebesar 8,5 juta ton hingga September, pemerintah daerah masih mengejar tambahan sekitar 2 juta ton produksi padi hingga Desember untuk memenuhi target tahunan sebesar 10,5 juta ton.
Dukungan curah hujan dan berbagai program intervensi pertanian diharapkan dapat membantu Jawa Tengah mempertahankan perannya sebagai salah satu daerah penopang kebutuhan pangan nasional.
- Penulis :
- Shila Glorya




