HOME  ⁄  Nasional

Kemendagri Apresiasi Tiga Inovasi Pengolahan Sampah di Banjarbaru yang Bantu Warga Miskin

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Kemendagri Apresiasi Tiga Inovasi Pengolahan Sampah di Banjarbaru yang Bantu Warga Miskin
Foto: Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa (Ditjen Bina Pemdes) Kementerian Dalam Negeri. Dalam kunjungan lapangan ke Kelurahan Guntung Paikat di bawah kepemimpinan Lurah Reza Pahlevi bersama jajaran dan masyarakat, Banjarbaru, beberapa waktu lalu.

Pantau - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengapresiasi Pemerintah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang berhasil mengembangkan tiga inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk mengurangi limbah rumah tangga sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga kurang mampu.

Inovasi yang dikembangkan Kelurahan Guntung Paikat tersebut mencakup program sedekah sampah plastik, pengolahan limbah buah menjadi ekoenzim, serta pemanfaatan sisa dapur sebagai kompos alami.

Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri Bernhard E Rondonuwu menilai program tersebut berhasil menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

"Apa yang dilakukan Kelurahan Guntung Paikat merupakan praktik baik yang patut dikembangkan. Sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan memiliki nilai ekonomi dan sosial," ujar Bernhard di Banjarbaru, Minggu (1/11/2026).

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat dalam mengubah kebiasaan sehari-hari.

Program Gapai Berkah Ubah Sampah Plastik Menjadi Sembako

Salah satu inovasi unggulan Kelurahan Guntung Paikat adalah Gapai Berkah atau Guntung Paikat Bersedekah Sampah.

Program tersebut mengajak masyarakat mengumpulkan botol bekas dan berbagai jenis sampah plastik yang masih memiliki nilai jual.

Warga dapat menyerahkan sampah plastik melalui kotak penampungan khusus yang disediakan di depan kantor kelurahan.

Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang sebelum dijual kepada pihak yang memanfaatkan kembali material tersebut.

Hasil penjualan sampah selanjutnya dikonversikan menjadi paket sembako untuk disalurkan kepada masyarakat kurang mampu.

Melalui mekanisme tersebut, kegiatan pengumpulan sampah tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana berbagi kepada sesama.

Program Gapai Berkah menunjukkan bahwa sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial di lingkungan kelurahan.

Limbah Kulit Buah Diolah Menjadi Ekoenzim

Selain mengelola sampah plastik, Kelurahan Guntung Paikat mengembangkan inovasi pengolahan limbah organik melalui pembuatan ekoenzim.

Program tersebut memanfaatkan kulit buah yang biasanya dibuang sebagai sampah rumah tangga.

Kulit buah dikumpulkan dan diolah melalui proses fermentasi selama tiga bulan.

Proses tersebut menghasilkan cairan ekoenzim yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Pemanfaatan kulit buah menjadi ekoenzim merupakan salah satu langkah untuk mengurangi jumlah limbah organik yang dibuang dari rumah tangga.

Melalui inovasi tersebut, masyarakat didorong untuk melihat sampah organik sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan.

Losida Manfaatkan Sisa Dapur untuk Pupuk Kompos

Inovasi ketiga yang dikembangkan adalah Losida atau Lodong Sisa Dapur.

Program ini memungkinkan masyarakat mengolah sisa makanan menggunakan wadah khusus hingga terurai menjadi kompos alami.

Kompos yang dihasilkan kemudian dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan rumah.

Pemanfaatan sisa dapur menjadi kompos memberikan alternatif pengelolaan limbah organik yang dapat dilakukan langsung oleh masyarakat.

Dengan metode tersebut, warga dapat mengurangi sampah rumah tangga sekaligus memperoleh bahan penyubur tanaman.

Pengembangan Losida juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Kemendagri Dorong Inovasi Direplikasi Daerah Lain

Bernhard menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program pengelolaan sampah.

Menurutnya, perubahan perilaku dapat dimulai melalui kegiatan sederhana seperti memilah sampah, mengolah sisa makanan, dan mengumpulkan plastik yang masih memiliki nilai ekonomi.

Ia menilai ketiga inovasi Kelurahan Guntung Paikat memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar menjaga kebersihan.

"Yang menarik, masyarakat tidak hanya diajak menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dilibatkan untuk membangun kepedulian dan membantu sesama. Inovasi seperti inilah yang perlu direplikasi oleh desa dan kelurahan lainnya," kata Bernhard.

Kemendagri berharap praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut dapat dikembangkan oleh desa dan kelurahan lainnya.

Melalui Gapai Berkah, ekoenzim, dan Losida, Kelurahan Guntung Paikat memperlihatkan bahwa pengurangan limbah rumah tangga dapat berjalan seiring dengan penguatan solidaritas sosial.

Ketiga inovasi tersebut menjadi contoh pemanfaatan sampah yang menggabungkan kepedulian lingkungan, nilai ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026