
Pantau - PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkirakan pembangunan pabrik soda ash di PT Petrokimia Gresik dengan kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun berpotensi menggantikan sekitar 29 persen kebutuhan impor soda ash Indonesia berdasarkan volume impor pada 2025.
Pengurangan ketergantungan terhadap bahan baku impor tersebut diproyeksikan mampu menghemat devisa negara sekitar Rp1,4 triliun setiap tahun.
Pada 2025, Indonesia masih memenuhi seluruh kebutuhan soda ash melalui impor dengan volume sekitar 1,05 juta ton senilai 225 juta dolar Amerika Serikat (AS).
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan pengembangan industri hilir menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan produksi bahan baku di dalam negeri.
“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” kata Rahmad dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Pabrik Soda Ash Ditargetkan Produksi 300 Ribu Ton per Tahun
Proyek pembangunan pabrik soda ash Petrokimia Gresik menjadi bagian dari upaya Pupuk Indonesia memperkuat kemandirian industri kimia nasional.
PT Petrokimia Gresik bersama PT Rekayasa Industri (Rekind) telah menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk proyek produksi soda ash dan amonium klorida.
Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi soda ash sebesar 300 ribu ton setiap tahun.
Dengan kapasitas tersebut, produksi dalam negeri diperkirakan dapat menggantikan sekitar 29 persen volume impor soda ash Indonesia pada 2025.
Potensi penghematan devisa dari substitusi impor tersebut diproyeksikan mencapai Rp1,4 triliun per tahun.
Pengembangan pabrik ini menjadi proyek soda ash kedua di lingkungan Pupuk Indonesia Group sebagai bagian dari perluasan hilirisasi industri kimia.
Produksi Amonium Klorida Dukung Bahan Baku Pupuk NPK
Selain menghasilkan soda ash, proyek Petrokimia Gresik juga dirancang memproduksi amonium klorida dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun.
Amonium klorida tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku dalam proses produksi pupuk NPK.
Pemanfaatan hasil produksi pabrik diharapkan dapat memperkuat integrasi rantai pasok industri kimia nasional.
Pengembangan tersebut juga ditujukan untuk mendukung ketahanan pasokan bahan baku pupuk di dalam negeri.
Proyek soda ash dan amonium klorida merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun mendatang.
Rahmad menegaskan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat kedaulatan industri nasional.
“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” kata Rahmad.
Petrokimia Gresik Manfaatkan 174 Ribu Ton CO2 per Tahun
Pabrik soda ash dan amonium klorida Petrokimia Gresik juga dirancang memanfaatkan sekitar 174 ribu ton karbon dioksida (CO2) setiap tahun dari proses produksi pupuk.
Pemanfaatan CO2 tersebut menghubungkan aktivitas produksi pupuk dengan pengembangan produk kimia yang memiliki nilai tambah.
Langkah ini menjadi bagian dari transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui penerapan dekarbonisasi secara bertahap.
Perusahaan menargetkan kontribusi terhadap pencapaian emisi nol bersih atau net zero emission (NZE) pada 2060.
Pemanfaatan karbon sebagai bahan baku industri juga menjadi salah satu pendekatan dalam pengembangan proses produksi yang lebih berkelanjutan.
Teknologi Penangkapan Karbon Capai Efisiensi 97,79 Persen
Petrokimia Gresik sebelumnya telah melakukan pengujian teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon atau carbon capture and utilization (CCU).
Pengujian tersebut dilakukan melalui fasilitas pilot plant untuk mengolah CO2 dari proses industri menjadi soda ash.
Hasil pengujian menunjukkan tingkat efisiensi penangkapan karbon berada pada kisaran 91,48 persen hingga 97,79 persen.
Capaian tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi CCU dalam mengubah karbon dioksida menjadi bahan baku produk kimia bernilai tambah.
Pengembangan teknologi ini sekaligus mendukung upaya Pupuk Indonesia memperluas diversifikasi produk dan memperkuat kapasitas industri nasional.
Melalui proyek soda ash Petrokimia Gresik, Pupuk Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan nilai tambah industri kimia, dan mendukung transformasi menuju proses produksi yang lebih rendah emisi.
- Penulis :
- Gerry Eka




