
Pantau - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing mengajak pengusaha China meningkatkan investasi di sektor energi terbarukan Indonesia melalui forum bisnis yang menghasilkan sejumlah nota kesepahaman dengan total komitmen kerja sama mencapai Rp150 miliar.
Ajakan tersebut disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, dalam forum bisnis Indonesia-China yang berlangsung di Beijing, Senin (2/11/2026).
Forum bertema Mobilizing China RE Investment into Indonesia atau Mendorong Investasi Energi Terbarukan China ke Indonesia itu dihadiri sekitar 150 peserta dari kalangan pengusaha kedua negara.
“Kami secara khusus menyambut investasi China dalam pembangkitan listrik dari energi terbarukan, penyimpanan energi, transmisi listrik, dan modernisasi hijau,” kata Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun di Beijing, Senin.
Indonesia Tawarkan Potensi Energi Terbarukan 3.687 Gigawatt
Djauhari menjelaskan pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah menjalankan agenda penguatan ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju penggunaan energi bersih.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia tengah menjalankan agenda ambisius untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” ungkap Dubes Djauhari.
Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin, yang berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), total potensi energi terbarukan Indonesia mencapai sekitar 3.687 gigawatt (GW), dengan kontribusi sumber daya utama berasal dari energi surya dan angin.
Djauhari menilai China memiliki keunggulan teknologi yang dapat mendukung pengembangan sektor energi bersih di Indonesia.
“China telah menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dalam teknologi energi terbarukan, mulai dari panel surya dan turbin angin hingga penyimpanan energi berbasis baterai dan jaringan listrik pintar,” tambah Dubes Djauhari.
Menurutnya, kolaborasi kedua negara dapat menggabungkan kemampuan teknologi dan kapasitas investasi China dengan potensi sumber daya alam serta kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu mempercepat pembangunan proyek energi terbarukan, memperluas investasi, dan meningkatkan transfer teknologi antara perusahaan Indonesia dan China.
Perdagangan Indonesia-China Tembus 167 Miliar Dolar AS
Dalam forum tersebut, Djauhari juga memaparkan perkembangan hubungan ekonomi Indonesia dan China yang terus menunjukkan nilai perdagangan dan investasi yang besar.
Nilai perdagangan bilateral kedua negara sepanjang 2025 tercatat mencapai lebih dari 167 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, realisasi investasi China di Indonesia pada 2025 mencapai 7,5 miliar dolar AS, sehingga menempatkan negara tersebut sebagai investor asing terbesar ketiga di Indonesia.
Apabila digabungkan dengan investasi dari Hong Kong, total nilai investasi mencapai lebih dari 8,3 miliar dolar AS dan menempatkan keduanya pada posisi pertama sebagai sumber investasi asing di Indonesia.
Djauhari berharap hubungan ekonomi yang telah terbangun dapat diperluas melalui investasi konkret di sektor energi terbarukan.
“Saya berharap dan meyakini bahwa nota-nota kesepahaman tersebut akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan konkret yang menghasilkan proyek-proyek terukur, kemitraan teknologi, dan investasi nyata di sektor energi terbarukan Indonesia,” ungkap Dubes Djauhari.
Bank Indonesia Dorong Transaksi Rupiah dan Yuan
Dalam diskusi panel, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Beijing, Yulian Wihantoro, menjelaskan pentingnya dukungan sistem pembayaran untuk memastikan investasi jangka panjang antara Indonesia dan China dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Menurutnya, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi menjadi salah satu langkah untuk mempermudah aktivitas bisnis kedua negara.
“Yaitu agar mereka bisa pertama, melakukan transaksi langsung rupiah ke yuan atau sebaliknya yuan ke rupiah dan juga dapat mengakses sumber pendanaan dengan mengunakan mata uang masing-masing melalui Sistem Pembayaran Antarbank Lintas Batas (CIPS),” kata Yulian dalam acara tersebut.
Bank Indonesia mencatat transaksi menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan China hingga akhir April 2026 mencapai 13 miliar dolar AS melalui penggunaan rupiah dan renminbi.
Nilai tersebut setara dengan total transaksi LCT sepanjang 2025 yang juga tercatat sebesar 13 miliar dolar AS.
Yulian menjelaskan implementasi Sistem Pembayaran Antarbank Lintas Batas atau Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) bergantung pada kesiapan dan kebijakan masing-masing lembaga perbankan.
“Tapi yang mengerjakan CIPS tersebut tergantung ke masing-masing bank sehingga mereka punya 'business solution' yang berbeda-beda,” tambah Yulian.
Bank Indonesia telah menunjuk Bank Mandiri sebagai peserta langsung dalam sistem pembayaran CIPS guna mendukung transaksi lintas batas antara Indonesia dan China.
Selain itu, Bank Indonesia berencana memperluas penanganan transaksi dengan mencakup Hong Kong mulai 2027.
“Mulai tahun depan kami juga akan menangani Hong Kong sehingga diharapkan akan lebih banyak likuidas yang menggunakan skema CIPS baik untuk rupiah maupun yuan termasuk untuk produk-produk di pasar finansial,” ungkap Yulian.
Penggunaan mata uang lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pelaku usaha terhadap dolar AS sekaligus memperkuat diversifikasi transaksi keuangan internasional.
Perusahaan Indonesia dan China Teken Kerja Sama Rp150 Miliar
Forum bisnis Indonesia-China juga menghasilkan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan total komitmen kerja sama mencapai Rp150 miliar.
Salah satu kesepakatan melibatkan PT Enviro Buana Solusindo, Tongfang Environment Co., Ltd., dan IndoEnergy Gateway Inc.
Kerja sama lainnya ditandatangani PT Qavah Sarva Nalaswara bersama Hua Splendor CulTech (Beijing) Co., Ltd.
Kesepakatan berikutnya melibatkan Untukmu.AI Pte Ltd, PT Lumina Artha Kreasi, dan Hua Splendor CulTech (Beijing) Co., Ltd.
Selain itu, PT Lumina Artha Kreasi menjalin kerja sama dengan Galaxin Group Capital Limited, Guangdong Baihuida New Material Co., Ltd., dan Global Multilateral Research Institute Limited.
Penandatanganan nota kesepahaman juga dilakukan antara PT Enercon Global Mineral dan Shandong Guote Intelligent Equipment Technology Co., Ltd.
Seluruh komitmen kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi proyek investasi yang konkret dan terukur.
Realisasi kerja sama senilai Rp150 miliar itu diharapkan dapat memperkuat kemitraan teknologi, mendorong pengembangan energi terbarukan, serta mendukung agenda ketahanan energi dan transisi energi bersih Indonesia.
- Penulis :
- Arian Mesa




